Sayembara ESVA-1000.

Menulis Artikel Sastera: Mengulas novel “Meja 17” (oleh Irwan Abu Bakar).

##########

Sayembara ESVA-1000. BUTIRAN:

Menulis Artikel Sastera: Mengulas novel “Meja 17” (oleh Irwan Abu Bakar).
Panjang artikel: 1000 perkataan (+- 20%).
Mula: 17.06.2021.
Akhir: 30.06.2021. (Dilanjutkan Ke: 7.07.2021).
Emel karya sdr ke: GaksaAsean@gmail.com.

HADIAH:

Ke-1: RM1000.00.
Ke-2: RM100. (Dinaikkan ke: RM600).
Ke-3: RM50. (Dinaikkan ke: RM100).

Edisi Indonesia

##########

KEMAS KINI 28.06.2021:

Sayembara ESVA-1000.
Menulis Artikel Sastera: Mengulas novel “Meja 17” (oleh Irwan Abu Bakar).

Panjang artikel: 1000 perkataan (+- 20%).
Mula: 17.06.2021.
Akhir: 30.06.2021. (Dilanjutkan ke: 7.07.2021).
Emel karya sdr ke: GaksaAsean@gmail.com.

HADIAH:
Ke-1: RM1000.00.
Ke-2: RM100. (Dinaikkan ke: RM600).
Ke-3: RM50. (Dinaikkan ke: RM100).

##########

NOTA:

Sayembara ESVA-1000:
Mereka yang belum mempunyai novel “Meja 17” untuk diulas:
Boleh dapatkan versi e-bukunya (fail .pdf) dari kami dengan harga RM10 sahaja.

Hubungi:
E-mel: eSasteraEnterprise@gmail.com.
WhatsApp: +60192680086.

Bayar ke AKAUN BANK INI:

BANK: CIMB.
Nama: eSastera Enterprise.
No. Akaun: 8000667484

PESERTA

Sayembara ESVA-1000: Peserta:
1. Moh. Ghufron Cholid.
2. Moh. Ghufron Cholid.
3. Paridah Ishak.
4. Bambang Widia.
5. Mas Mira (Ruzaini Binti Yahya).
6. Moh. Ghufron Cholid.
7. Moh. Ghufron Cholid.
8. Moh. Ghufron Cholid.
9. Ibnu Din Assingkiri.
10. Husairi bin Hussin.
11. Christya Dewi Eka.
12. Marwan Sham.
13. Sulfiza Ariska.
14. Dimas Indiana Senja.
15. Yo Sugianto (Tulisan Undangan).

ARTIKEL PENYERTAAN

1.

BUKU HOKI DAN SISI LAIN NOVEL MEJA 17 YANG LAYAK ANDA TAHU

Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Irwan Abu Bakar seorang penulis dari negeri seberang bernama Malaysia hadir dengan buku novelnya berjudul Meja 17, yang hingga kini sudah memasuki edisi kelima. Edisi pertama terbit tahun 2008.

Adalah sebuah kebahagiaan yang tidak bisa disangkal oleh penulis manakala karyanya mendapat sambutan hangat dari pembacanya, terlebih perhatian baik tersebut tidak hanya datang dari pembaca dalam negeri saja melainkan juga pembaca dari luar negeri.

Edisi pertama yang terbit tahun 2008 mendapat perlakuan baik dari pembaca Indonesia sehingga lahir sebuah tulisan yang diberi judul Cinta Berbalas Di Meja 17. Rupanya buku ini mendapatkan nasib mujur sehingga terbit edisi kedua, di tahun 2012 dengan judul Meja 17 dengan sebuah penerbit bernama E Sastra Menagement Enterprise yang berpusat di Jakarta. Dengan kata lain, novel ini telah membawa nasib baik bagi penulisnya.

Nasib Baik Buku yang Memburu Keberuntungan Penulisnya

Tiap buku yang lahir adalah nasib yang tidak bisa disangkal oleh penulisnya. Adakalanya ia lahir dengan mudah dan dengan mudah pula dilupakan. Adakalanya ia lahir dengan sulit, dengan perjuangan yang berdarah-darah namun kekal dalam ingatan pembacanya.

Rupanya novel Meja 17 membawa hoki atau keberuntungan bagi penulisnya yakni bagi Irwan Abu Bakar. Kelahiran buku ini yang ketiga, atau edisi ketiganya lahir di negaranya sendiri dengan penerbit bernama Mobile Book Cafe (2014).

Buku ini menjadi hidup dan bergema lantaran dibicarakan pembaca. Buku ini menjadi buah bibir dan dibicarakan dalam dua acara bergengsi yakni di Seminar Kepengarangan Muslimah Nusantara bertempat di Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (di negara asal penulis pada tahun 2009) dan pada tahun 2014 mendapat nasib mujur dibicarakan di negara Indonesia, tepatnya di acara Seminar Internasional Sastra Indonesia-Malaysia bertempat di Universitas Gajah Mada.

Rupanya kehadiran buku yang penuh degup ini, diperjuangkan tetap bergema oleh Irwan Abu Bakar selaku penulis novel, lewat kegiatan sastra yang diselenggarakan yang diberi nama Bengkel Penulisan Fiksyen Sains dan Teknologi UTM-Kumpulan Utusan Musim Ke-3 tahun 2014.

Edisi Keempat buku ini mendapatkan perhatian khusus dari Sanggar Nurimas, dengan cara dibuatkan ulasan dan diberi judul “Unsur Keterkejutan, Kepelikan dan Anti Plot Boleh Menyebabkan Pembaca Mati Mengejutkan”. Ulasan ini terbit di Mingguan Malaysia 28.01.2018 yang kemudian diabadikan menjadi kata pengantar buku ini di edisi keempat.

Taufik Meh adalah orang yang memiliki jasa besar atas kelahiran buku novel Meja 17 di edisi kelima sebab berkat mata jeli Taufik Meh buku ini lahir di edisi kelima dengan perbaikan-perbaikan atas kesalahan yang ditemukan di edisi keempat.

Mirza Sastroamodjo (Indonesia) juga memegang peranan penting bagi nasib buku novel Meja 17 sebab dialah yang menjadi kaver depan buku ini. Dengan kata lain, selalu ada peran luar biasa dari orang luar yang membuat karya serasa lebih hidup dan bergema.

HAL-HAL YANG PERLU ANDA TAHU TENTANG BUKU NOVEL MEJA 17

Penulis buku ini bernama Irwan Abu Bakar berkebangsaan Malaysia. Buku ini sudah terbit dalam 5 edisi dan mengalami nasib baik. Kehadirannya disambut baik tak hanya di negeri asal penulisnya, melainkan mendapat perhatian dari pembaca luar negara. Paling tidak sampai kelahirannya yang kelima yang menjadikan buku ini lebih hidup dan berdegup. Atau memberikan perhatian sangat baik adalah dua negara sebagai penanda kelahiran buku ini yakni Malaysia dan Indonesia.

Buku ini bertahan sampai detik ini atau bahkan sampai tahun-tahun berikutnya paling tidak bisa diketahui dalam dua keadaan yakni usaha Irwan Abu Bakar untuk selalu menghidupkan karyanya dengan cara membahas karya yang telah dilahirkan di sebuah acara sastra yang juga melibatkannya sebagai pelaku aktif. Yang kedua bisa dilihat dari cara pembaca mengurai hasil bacaannya, seperti halnya Sanggar Nurimas yang mengemas secara apik hasil bacaannya atas buku novel Meja 17 dalam sebuah ulasan yang diterbitkan di Mingguan Malaysia 28.01.2018 yang kemudian dijadikan kata pengantar pada edisi keempat. Atau seperti halnya yang dilakukan Taufik Meh, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada di edisi keempat sehingga buku ini bisa hadir di edisi kelima dengan lebih elegan dan menarik.

Isi yang dikandung buku novel Meja 17 yakni Alu-aluan penerbit yang ditulis oleh Wan Nur-Ilyani Wan Abu Bakar, kata pengantar edisi kelima diisi oleh Sanggar Nurimas, ada yang menarik dari prolog buku ini yakni memaknai nomor 17 atau Meja 17 sebagai nomor kasih sayang dengan ungkapan si manis tujuh belas. Judul-judul yang berada setelah tulisan PROLOG antara lain 1. GILA (halaman 11), 2. ANGGUR (halaman 13), 3. ADAT (halaman 16), 4. IALAH DIA (halaman 19), 5. TUAN PRESIDEN (halaman 21), 6. MASAM MANIS MADU (halaman 26), 7. CARI REZEKI (halaman 29), 8. DARAH MELAYU (halaman 30), 9. SUMPAHAN (halaman 30), 10. X-UMUR (halaman 40), 11. TALAK CINTA (halaman 43), 12. DERING MERDEKA (halaman 47), 13. USIA (halaman 51),14. MENYAMAK BABI (halaman 52), 15. AKADEMI FUN+USIA (halaman 56), 16. PEMIKIRAN REVERSAL (halaman 65), 17. PADAM (halaman 66), 17+1 TEMU DUGA (halaman 71), dan EPILOG (halaman 76).

Pemilihan judul-judul yang dihadirkan dalam buku ini sangatlah simple dan sederhana, kadang terdiri atas satu kata seperti judul GILA, ANGGUR, ADAT, SUMPAHAN dll, kadang hanya memuat dua kata seperti yang tertera pada judul CARI REZEKI, DARAH MELAYU, kadang pula memuat tiga kata seperti pada judul MASAM MANIS MADU. Dengan kata lain, Irwan Abu Bakar ingin memudahkan pembaca untuk mengingat judul-judul yang telah disajikan.

Buku ditutup dengan Epilog yang pendek namun sarat makna. Seakan hendak ingin mencubit setiap diri bahwa dalam hidup tak ada yang benar-benar kekal selama masih bernama makhluk. Namun cara menyampaikan amanat pesan sangat apik dan tidak menggurui karena ianya seolah berjalan dengan sangat alami.

Bisa jadi buku novel Meja 17 adalah cara lain penulis untuk menguraikan hidup dan sebuah karya yang begitu memiliki degup. Buku ini memanglah buku novel namun penulis memilih jalan lain dengan penulis novel lainnya dengan cara membentuk dunia rekaan. Barangkali saya lebih sepakat dengan pandangan Sanggar Nurimas yang mengatakan buku ini lebih tepat dikatakan sebuah novelet daripada novel.

Kendati demikian saya sangat mengapresiasi terbitnya buku ini dengan ucapan “tahniah” dalam bahasa Melayu (atau “selamat” dalam ucapan bahasa Indonesia) sebab dengan membaca buku ini, saya seakan diajak untuk tersenyum, tertawa, dan mengernyitkan dahi.

Terlepas dari plus minusnya, buku ini sudah lahir maka selanjutnya saya membiarkan waktu yang menyeleksi apakah akan terus mujur atau terkubur di kedalaman waktu sehingga hilang dari ingatan secara pelan-pelan. Yang bisa saya katakan sekarang, “Ma’annajah dan Wallahu’alam bishowab”.

Paopale Daya, 22 Juni 2021

2.

BUKU NOVEL MEJA 17 : JURUS JITU TERSENYUM DAN MENGERNYITKAN DAHI

Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Penasaran boleh namun mengikuti rasa penasaran akan membuat anda terperangkap pada terkaan-terkaan yang lambat laun tidak bisa anda kendalikan. Tidak menutup kemungkinan membuat waktu anda tersita dan terperangkap di dunia lain. Paling tidak inilah yang sangat membekas dalam ingatan saya ketika membaca novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar, tepatnya pada kandungan buku yang diberi judul GILA.

Saya teringat bagaimana tokoh bernama Usin begitu diburu rasa penasaran, memerhatikan sesuatu yang dianggap janggal, karena tidak berani mengajukan pertanyaan secara langsung terhadap orang yang biasa ia lihat namun menyisakan kebiasaan yang tidak lazim, dalam memperlakukan pesanan yang ia pesan di restoran tempat ia duduk, hanya memakan bagiannya saja kemudian membiarkan bagian lain yang telah dipesan, tanpa menyentuh apalagi memakan.
Usin adalah seorang yang tersebak dalam rasa penasaran yang telah memuncak. Tidak berani bertanya secara langsung kepada orang yang telah berhasil menyita perhatiaannya, akibatnya Usin mengambil Fron langkah yang fatal. Ikut-ikutan melakukan apa yang biasa dilihatnya, seraya menjawab rasa sendiri rasa penasaran Usin.

Saya teringat ucapan paman saya, “Fron, mon tak taoh atanyah makle tak bingung kadibik.” Yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terjemahan bebasnya berbunyi, “Fron, kalau tidak tahu bertanyalah agar tidak bingung sendiri.”

Namun saya segera memaklumi apa yang dilakukan Usin adalah hal yang sangat wajar jika dikaitkan dengan pepatah bahasa Arab yang kerab dilantunkan guru di pesantren, yang jika diterjemahkan berbunyi, coba dan perhatikan niscaya engkau tahu.

Efek keingin tahuan berlebihan yang diterapkan dalam langkah nyata, membuat Usin sangat merdeka di satu sisi sebab dengan mencoba Usin telah menemukan jawaban-jawaban yang terus meraung di pikiran Usin. Namun fatalnya, apa yang dilakukan Usin bisa dibilang sangat aneh di mata masyarakat umum. Kholif tu’ rof (berbeda itu dikenal) namun keterkenalan Usin membawa dampak negatif, Usin tak lagi dipersepsikan sebagai orang waras. Oleh karenanya Usin perlu mendapatkan perhatian khusus agar terlepas dari pengaruh negatif. Puncaknya Usin dikepung dan dibawa ke rumah sakit, anehnya Usin tetap tertawa lantaran Usin dipengaruhi tulisan orang yang biasa diperhatikan Usin, berikut bunyi tulisan tersebut: “Selamat jalan, saudara. Esok kita tidak akan berjumpa lagi. Esok saudara tidak akan ke mari lagi. Kedai ini terlalu kecil untuk menampung kehadiran dua orang gila.”


Irwan Abu Bakar lewat buku novel Meja 17 hendak mengetengahkan sesuatu yang berbeda, seakan ingin menegaskan bahwa menulis novel tidak usah dibikin susah. Cukup tulis saja apa yang kerap bersarang dalam ide. Berlama-lama membiarkan ide hilir mudik hanya akan menimbulkan penyesalan. Barangkali pesan inilah yang hendak disampaikan Irwan Abu Bakar selaku penulis.
Tak bisa disangkal, tiap pembaca pastilah memiliki kesan tersendiri setelah membaca suatu karya begitupun dengan buku novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar yang dalam edisi kelima di Alu-aluan Penerbit diberikan catatan yang manis oleh Wan Nur-Ilyani Wan Abu Bakar, yang mengisahkan bagaimana buku ini hadir dan diperlakukan oleh pembacanya.

Buku ini juga diisi pandangan tiga sasterawan Malaysia, sebagai pertimbangan buku ini untuk dibaca tuntas atau dibiarkan begitu saja sampai ditimbun waktu. Mari kita simak pandangan mereka tentang buku ini:

DINSMAN: Ideanya menarik, gila-gila, luar biasa, segar, di luar kotak pemikiran kita, tak pernah kita terpikir idea seperti itu… Meja 17 berjaya menggelodak minda kita dan membuka luas horizon pemikiran kita!

LIM SWEE TIN: Irwan ialah tukang bari yang licik dan pintar… Meja 17 dibangunkan dengan sarana sastera yang lengkap dan cukup untuk tampil sebagai sebuah karya gaya baru dalam menggairahkan pembaca.

AHKARIM: 17 kisah pelik… ha… ha.. Ha… Pelik lagi absurd novel Meja 17 ialah hasil pemikiran yang melampaui pemikiran biasa. An unputdownable read!


Meja 17 nama lain dari si manis tujuh belas. Namun di Meja 17 tersebut penulis lebih leluasa bereksprement membahas apa saja yang hendak dibahas. Irwan Abu Bakar mengisi buku novel Meja 17 dengan judul-judul yang mudah diingat, terkadang memakai satu kata, dua kata dan kadang pula. Buku ini sudah terbit 5 edisi. Yang memiliki peranan penting atas buku ini adalah dua negara yang menjadi tempat buku ini diterbitkan yakni Malaysia sebagai negara asal penulis dan negara Indonesia, yang pada edisi kelima kaver bukunya memuat orang Indonesia bernama Mirza, yang membuat buku ini tampak begitu bertuah.

Membaca novel Meja 17 semacam membaca peta ide seorang Irwan Abu Bakar, seorang yang juga memiliki mata jeli dalam memandang masa depan, hal ini kita temukan bagaimana penulis ikut menyorot hidup masa depan yang dihinggapi virus. Hal ini dibahas di judul DARAH MELAYU. Irwan Abu Bakar menulis, Kemunculan penyakit terbaru acute blood cells decay (ABCD) atau “pereputan sel darah parah” memang menggemparkan. Dan membingungkan. Dan menggerunkan. Seluruh dunia berada dalam kemasygulan. Penyakit ini bukan sahaja membunuh individu. Bukan sahaja membunuh bangsa. Bukan sahaja membunuh rakyat negara. Penyakit ini sedang membunuh seluruh umat manusia. Dari Cina ke Jepun, dari Rusia ke Eropah, dari Afrika 45 ke Amerika, kewujudan seluruh umat manusia terancam. Tiada kecuali. Penyakit ini bangun dalam diri individu di mana-mana secara sendiri. Macam cendawan tumbuh. Punca akar atau benih “cendawan” itu belum ditemui. Tidak dapat dipastikan. Seluruh dunia berada dalam keadaan krisis kesihatan. Di seluruh dunia, semua kerajaan meletakkan negara masing-masing dalam keadaan darurat. Darurat kesihatan.

Seketika itu, saya tersadar bahwa kini kita berada di masa, di mana wabah atau virus melanda negeri. Virus yang populer di era ini adalah virus CORONA yang dalam novel Irwan Abu Bakar dinamakan ABCD. Namun situasi kehidupan yang digambarkan penulis sama persis dengan apa yang kita alami saat ini.

Dalam tulisan berjudul DARAH MELAYU dipaparkan juga bagaimana kehidupan orang Melayu yang memiliki perangai lemah lembut. Bisa jadi dengan menulis novel Meja 17 dan memasukkan DARAH MELAYU dalam kandungan isi buku merupakan cara Irwan Abu Bakar mengenalkan karakteristik orang Melayu ke persada dunia.


Selalu ada cara menyatakan pendapat secara kreatif, buku novel Meja 17 yang dihadirkan oleh. Irwan Abu Bakar selaku penulis kepada kita selaku pembaca. Lewat tulisan yang diberi judul TUAN PRESIDEN, lewat tokoh bernama Magan, Irwan menyampaikan ide kreatif berpendapat dalam berpolitik, bermula ingin menikmati sajian secara gratis sampai memikirkan cara berpolitik yang tak menyengsarakan rakyat dengan cara meniru kerajaan Tuhan yang serba gratis.

Dengan kata lain membaca novel Meja 17 kita seakan memasuki dunia idea yang sesekali membuatkan kita tersenyum dan mengernyitkan dahi.

Paopale Daya, 22 Juni 2021

3.

ULASAN BUKU MEJA 17

Genre : Novel
Penulis : Irwan Abu Bakar
Penerbit : eSastera Enterprise
eSastera Enterprise (No. 001470857-K)
Pengulas : Paridah Ishak

Novel MEJA 17 pernah diulas oleh dua orang penulis mapan, iaitu Dinsman dan Nurimas SN, dan memberikan penghargaan pada novel karya Prof. Irwan Abu Bakar yang dianggap sangat menarik. Kalau tidak menarik pembaca, tentu tidak ada permintaannya untuk diulang cetak beberapa kali;
Edisi Kedua, 2012.
Edisi Ketiga, 2015.
Edisi Ketiga Cetakan Kedua, Mac 2016.
Edisi Keempat, Julai 2016.
Edisi Kelima, Februari 2018.
Edisi Kelima, Cetakan E-buku, Jun 2021.

Mengandungi 17 bab dengan tajuk pilihan yang bersesuaian dengan kisah yang digarap:
• Gila 2.
• Anggur
• Adat
• Ialah Dia
• Tuan Presiden
• Masam Manis Madu
• Cari Rezeki
• Darah Melayu
• Sumpahan
• X-umur
• Talak Cinta
• Dering Merdeka
• Usia
• Menyamak Babi
• Akademi Fun+usia
• Pemikiran Reversal
• Padam
• Temu Duga
• Epilog

Mengambil latar semua situasi berlaku di meja dengan nombor tertera ialah 17. Dan di kaki lima restoran eSastera pinggiran kota melakar pelbagai insiden idea penulisnya.

Bab 1 mengisahkan Usin yang dicempung ke hospital gila kerana terbahak-bahak ketawa melihat seorang pelanggan memesan dua pinggan roti canai. Tapi tiada siapa bersama dengannya. Dia cuma makan sekeping roti canai dan meninggalkan sekeping lagi tanpa menyentuhnya tapi membayarnya. Mungkin ada sesuatu yang bermain dalam fikirannya menyebabkannya merasa lucu. Lalu tertawa tidak henti-henti dalam monolognya yang bersambung.

Kisah Usin tidak bersambung dalam bab seterusnya. Tapi Penulis mengimbau kejadian itu. Kisah di meja nombor 17 berganti pula dengan pemain watak bab dua.

Amri watak utama bab dua dengan tajuk Anggur bersambung cerita dalam situasi lain dalam bab 3, bertajuk ADAT. Ada unsur ngeri yang menyeramkan rasa terserap di sini.

Namun bab 4 watak utama di MEJA 17 berganti pada Istree dan Suamee mengenai prasangka diri seorang suami pada isterinya. IALAH DIA tajuk pilihan Penulis yang menuntut pemahaman kritis maksudnya.

Bab 5 MEJA 17 bertajuk TUAN PRESIDEN, Penulis mengemukakan watak Magan yang sangat kreatif sebagai seorang politikus dengan idea cemerlang sukar diteka lantaran menjadikannya Presiden Amerika yang mampu menguasai Yahudi dan dunia dengan ilhamnya berasaskan kesukaannya kepada buah durian. Olahan yang sangat menginspirasi kreativiti minda.

Membaca bab 6 kejadian ironi luar biasa dalam MASAM MANIS MADU mengubah perencanaan asal.

CARI REZEKI tajuk dalam Bab 7 paling pendek kisahnya berlaku di meja 17. Hanya beberapa susunan diksi mengungkap frasa. Pasti ramai yang tidak puas membacanya. Dan mengharapkan sambungannya.

Penulis menulis idea yang mengujakan dalam bab 8 dengan tajuk DARAH MELAYU menjadikan darah Melayu sebagai penyelamat kepupusan bangsa dunia. Menukilkan karya secara profesional seorang ilmuan peribadi Penulis. Watak utamanya Akil yang memerhati dari meja 17 akan gelagat bangsanya dimanipulasi wang untuk mencari kekayaan dengan menjual darah dan perkahwinan campur. Dan tidak mempertahankan jati diri Melayu.

Meja 17 menyaksikan puteri Mary dan pembantunya merencana sesuatu dalam bab 9 dengan tajuk SUMPAHAN. Mengangkat cerita klasik dengan maksud tersirat yang ketara kuasa mengatasi keputusan undang-undang apapun. Namun usulan seorang wanita yang disayangi umpama tikus membaiki labu. Sebuah tulisan kisah yang menarik dan berhati-hati.

X-UMUR tajuk pilihan Penulis untuk bab 10. Termangu membaca watak Dr.Kadri yang menyimpan data ilmu dalam kotak fikirnya untuk mengelak ideanya tentang penemuan rahsia gen umur itu diciplak sekiranya diketahui. Penulis mengupas ideanya dengan terlalu sempurna dan memberi akhiran tidak terduga.

Lunak sekali diksi coretan Penulis dalam TALAK CINTA bab 11. Kisah diadun pertemuan Ister dan Suam yang bercerai talak tiga via medsos kerana dugaan kanser. Cinta Ister dan Suam kembali bertaut olahan Penulis. Kisah melankolik cinta disertai puisi indah. Amat sesuai kisahnya selari tema.

DERINGAN MERDEKA bab 12 MEJA 17 membawa suasana sambutan HARI MERDEKA warga muda di bandar raya yang leka bersuka ria tapi tidak memaknainya. Watak Alim yang melupai kealimannya disedarkan dengan insiden yang mistik.

Seman watak penting dalam USIA bab 13 diraikan hari ulang tahun kelahirannya di restoran eSastera @ MEJA 17 oleh guru dan rakan-rakan sekolahya justeru tarikhnya istimewa pada 29 Februari tahun lompat. Pendek saja cerita Penulis tentang Seman yang meluahkan dongkol hatinya terlahir pada tarikh itu.

Terkesima baca MENYAMAK BABI bab 14. Kisah satira watak Or dan Ang. Kedua-duanya dengan peranan sebagai politikus dan penulis. Saling mempergunakan antaranya demi kemahuan kerana mereka sebenarnya babi yang rakus nafsunya. Polemik wujud dan berlaku jangkaan sebaliknya.

Bab 15, AKADEMI FUN+USIA @MEJA 17 menjalin cerita yang agak panjang dengan watak yang ramai. Pelbagai kisah dipaparkan dalam slot TV Dead One menjurus tajuk siri realiti berunsur seram dan ada adegan pembunuhan yang mengerikan. Namun Penulis mengakhiri debaran pembaca menjadi lega. Penulis melontar idea baru untuk slot hiburan TV luar biasa.

Pendek saja kisah dalam tajuk bab 16; PEMIKIRAN REVERSAL.

Watak Irfan dan Syima menghulur derma pada peminta sedekah yang buta bersilih-ganti menghampiri mereka @ MEJA 17 sehingga mereka kehabisan wang dan perlu bertindak seperti peminta sedekah yang buta untuk mengelak membayar harga roti canai dan minuman yang telah mereka nikmati. Mungkin Penulis menekankan keikhlasan hati dalam menderma bukan kerana hendak mengelak daripada peminta sedekah mengganggu keselesaan mereka berduaan di situ.

Bab 17 dengan tajuk PADAM fokus pada watak Izwan pakar IT yang mencemburui hubungan isterinya dengan seorang lelaki yang dikenali dalam laman chat room maya. Kepakarannya digunakan untuk memadam semua data di situ juga niat seterusnya memadam hayat lelaki itu. Pengolahan kisah berdasarkan kemelut leluasa hubungan intim era digital yang merusuhkan tanpa kendiri. Cara penulisannya mengkagumkan.

TEMU DUGA merupakan bab 18 dalam novel ini. Watak Matin di temu duga untuk jawatan CEO syarikat dengan 5 pesaingnya. Pelbagai dugaan yang mengelirukannya namun akhirnya jawatan itu miliknya.

Epilog @ MEJA 17 begitu mengelirukan. Penulis menamatkan kisah MEJA 17 dengan insiden restoran eSastera dirempuh sebuah lori pada hari raya dan MEJA 17 terlambung dan bangun. Sukar pula memahami maksud penulis seolah memberi personifikasi pada MEJA 17.

Keseluruhan pada kesimpulan ulasan novel MEJA 17 ini kenyataannya penulis meneroka gaya baharu penulisan novel tidak tertakluk pada cerita yang berkembang mengikut kronologi dari mula hingga tamat. Dan hanya memberi tumpuan kepada beberapa watak utama. Namun semua unsur yang diperlukan dalam sebuah novel seperti suka, duka, cinta, seram, mistik, lucu, diadun membentuk persoalan.
.

4.

NOVEL SARAT PEMIKIRAN DALAM CERITA YANG MENAWAN

Oleh: Bambang Widiatmoko – Indonesia

Selamat jalan, saudara. Esok kita tidak akan berjumpa
lagi. Esok saudara tidak akan ke mari lagi. Kedai ini
terlalu kecil untuk menampung kehadiran dua orang gila
(Hlm. 12)

Kutipan itu sangat menarik dalam novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar (eSastra Enterprise, 2021, 78 halaman) yang keseluruhan berisi 17+1 bab ini. Pesan yang menurut saya begitu dalam maknanya. Tampak pengarang benar-benar mampu memaknai kehidupan secara sosial dan psikologis. Sarat makna tapi sekaligus bisa menertawai kehidupan itu sendiri. Memaknai perpisahan namun ada harapan besar untuk saling berjumpa lagi. Kutipan yang sekaligus menunjukkan bahwa pengarangnya tidak ingin mengikuti alur seperti lazimnya konvensi pada penulisan novel. Barangkali pengarangnya ingin membuat genre tersendiri.

Perlu dipahami, perkembangan kesastraan di Malaysia diikuti juga oleh pembaca sastra di Indonesia. Pembacaan itu dilakukan dalam rangka pemahaman pemikiran dan budaya. Karya sastra Malaysia dipahami dan dimengerti apa yang menjadi masalah dan apa yang dipikirkan oleh sastrawan negara tetangga yang serumpun dengan Indonesia. Di antara karya sastra Malaysia yang patut diapresiasi adalah Meja 17 ini.

Pada dasarnya, untuk memahami sepenuhnya Meja 17, ada sedikit kendala bagi pembaca Indonesia, yakni bahasa. Meskipun serumpun dengan bahasa Indonesia, bahasa Melayu, terutama kosa kata Melayu (Malaysia), banyak yang kurang dipahami; ada kata-kata dan idiom-idiom yang khas Melayu, yang tidak banyak diketahui oleh pemakai bahasa Indonesia. Kendala bahasa yang berbeda tentunya tidak begitu menyulitkan untuk mengulas cerita ini. Alangkah lebih baik sambil membuka Kamus Dewan jika ada kata-kata yang belum dipahami. Meskipun latar belakang novel ini hanya seputar rumah kedai, pengarang tidak terjebak menghadirkan cerita yang dangkal.

Ceritanya mengalir lancar dan menghadirkan daya kejut yang luar biasa. Dalam cerita berjudul “Gila” ada kerahasiaan yang tersimpan dan mengandung pertanyaan. “10 hari terlalu lama untuk Usin terus menahan rasa kehairanan! Namun hendak bertanya kepadanya akan kepelikan kelakuannya, tidak berani Usin,” (hlm. 11). Dalam cerita ini mengandung muatan psikologis bagaimana memaknai persahabatan antara dua orang dan kegelisahan dalam penantian. Artinya, selama masa penantian itu terbuka kebebasan interpretasi yang tidak terikat pada tujuan langsung yang dikisahkan oleh pengarangnya. Benar-benar ide yang luar biasa (boleh jadi ‘gila’ juga) dicetuskan oleh pengarangnya dalam cerita berjudul “Gila” ini.

Entah mengapa pengarangnya memberi penekanan pada kalimat yang menyiratkan tentang suatu kegilaan dan menjadi bagian menarik dalam novelnya. Dalam cerita berjudul “Anggur” suasana kegilaan masih dibangun untuk memberikan gambaran suasana tertentu. “Seorang pelanggan baru-baru ini telah menjadi gila kerana duduk bersarapan di meja itu selama 10 hari berturut-turut. Hari ke-11 dia ketawa tidak berhenti sehingga dibawa orang ke wad gila,” (hlm. 13). Di mana setiap hari meja 17 duduk pemuda yang penuh misteri. “Amri ialah pelanggam pertama yang duduk di meja nombor 17 itu semenjak ditinggalkan pemuda yang jadi gila tempoh hari” (hlm. 13).

Secara keseluruhan aspek penuturan dalam novel ini pencerita mengacu kepada tokoh-tokohnya dengan kata ganti orang ketiga, dia atau ia. Pencerita diaan berada secara eksternal atau berada di luar dari cerita tersebut. Tokoh yang diciptakan menjadi pencerita mahatahu. Dengan kata lain, pencerita mengetahui maksud dan pikiran semua tokohnya yang ada dalam cerita tersebut. Dalam novel ini semua tokoh dipandang dari dalam (fokalisasi intern). Begitu bagusnya Irwan Abu Bakar mentransformasi pemikiran penasihat politik presiden, Dr. Walter Bluehouse dan mengisahkannya dalam cerita “Tuan Presiden”.

Begitulah saya menandai setiap bagian dari cerita pertama sampai cerita terakhir, meski tidak begitu kuat rangkaiannya namun memiliki daya tarik tersendiri. Dalam cerita berjudul “Tuan Presiden”, tokoh Magan melabuhkan punggungnya pada kerusi di meja nombor 17. Pengarang benar-benar memiliki intelektualitas dalam bercerita. Ada beban cerita tampaknya yang dimasukkan pengarangnya sehingga terkesan sedikit menggurui sehingga mengganggu narasi.
Kita bisa memahami karena, pada dasarnya, cerita dapat dijalin oleh peristiwa dan pemikiran pengarangnya. Pengarang menyampaikan pemikirannya dalam peristiwa yang ada di dalam cerita tersebut. Dengan berpijak bahwa pengarang ini adalah seorang intelektual, maka pemikirannya larut dalam peristiwa yang terjadi di meja nombor 17. Semakin kompleks pikiran tokoh maka akan semakin kuat penokohan dalam cerita ini. Hal inilah yang membuat novel Meja 17 mempunyai nilai lebih atau dapat dikatakan berbobot.

Kita dapat membaca kutipan berikut: “Maka adalah menjadi hak setiap individu di muka bumi ini untuk mendapat keempat-empat perkara tersebut. Dalam konteks dunia moden, hanya udara sahaja yang masih diperoleh secara percuma dan tanpa halangan. Tiga lagi unsur tidak dapat diperoleh secara percuma, iaitu tanah (dalam konteks dunia moden “tapak rumah”), api (“tenaga elektrik”), dan air (“bekalan airpaip yang telah diproses”).(hlm. 21).

Seterusnya Irwan tetap mampu menunjukkan kelebihannya dengan membangun kalimat-kalimat yang imajinatif: “Secara kebetulan, dia duduk di meja nombor 17. Pada hari itu, di meja 17 itu, ada bekas air minuman yang tertumpah. Apabila direnung lama-lama, bekas tumpahan yang telah kering itu kelihatan seperti peta negara Amerika pada pandangan Perdana Menteri Magan. Dia melihat suatu ‘kekosongan’, sesuatu yang tidak lengkap, pada peta Amerika itu.

Tiba-tiba muncul di kepala Magan satu lagi idea yang ‘gila’!” (hlm. 22). Luar biasa imaji Irwan. Dengan melihat bekas tumpahan yang telah kering menjelma menjadi peta Amerika. Imajis dan puitis.

Konflik yang dibangun pun tampak kuat meski terkesan ada muatan politis di dalamnya. “Ya, Tuan Presiden,” sambung Penasihat Presiden dengan gugup. “Ada pemberontakan tentera yang dikepalai Ketua Pembangkang!” “Oh, si tali barut Yahudi itu?” “Ya, Tuan Presiden. Paling teruk, mereka telah mengepung loji senjata nuklear negara. Kita tidak dapat melawan mereka lagi.”

Cerita berikutnya yang menarik perhatian saya adalah “Darah Melayu”. Dalam kisah ini, pengarang berhasil menghadirkan konflik yang dialami oleh Maliki. Dia merupakan satu-satunya orang Melayu yang tinggal di pinggir kota metropolitan Glasgow itu. Persoalan penjualan darah menjadi pelik dalam cerita ini dan dapat menjadi persoalan antar bangsa dan agama. Irwan berhasil mengurai konflik tersebut. “Kegiatan mentransfusi darah orang Melayu ke tubuh bangsa asing merupakan satu-satu cara yang dapat difikirkan oleh para saintis untuk mengelakkan pupusnya bangsa bukan Melayu. Ada kerajaan orang Melayu yang telah mengambil kesempatan ini untuk mengeksport darah rakyatnya demi menambah pendapatan per kapita negara” (hlm. 32).

Membaca keseluruhan cerita dalam novel Meja 17 ini dapat disimpulkan bahwa Irwan Abu Bakar piawai memasukkan unsur pemikirannya dalam peristiwa yang terjadi di dalam novel tersebut. Terlebih lagi pengarangnya mampu memilih kalimat-kalimat padat dan bernas dibalut dengan imajinasi yang luar biasa dahsyat. Selamat.

BIODATA PENULIS. Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Silsilah yang Gelisah (2017); Air Mata Sungai (2019); Mubeng Beteng (2020). Cerpennya tergabung dalam Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017); Alumni MUNSI Menulis (2020). Ikut menulis di Bunga Rampai Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL,2021); Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021); Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021). Dia dosen Universitas Mercu Buana dan peneliti/anggota Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Pos-el: bambangwidi99@gmail.com. WA: 0821 1821 8892. Alamat: Jl. Meranti Raya H 200 RT 09 RW 012 Jatimulya Bekasi 17515 Indonesia.

5.

Judul : MENANGKAP KEGILAAN YANG MENGASYIKKAN DI MEJA 17
Sayembara ESVA-1000
Nama Penulis : Ruzaini Binti Yahya
Nama Negara : Malaysia

Meja 17 ditelusuri penuh hati-hati. Paparan awal menjelaskan ia adalah sebuah novel antiplot. Pendapat beberapa orang tokoh sasterawan seperti Prof Lim Swee Tin dan Dinsman yang dibaca melalui kata pengantar yang ditulis oleh S. Amir On atau Sanggar Nurimas amat menjentik keinginan untuk mengetahui dan menikmati sendiri kebijakan penulis Irwan Abu Bakar menghidangkan karyanya yang dikatakan licik, pintar, segar, gila-gila sehingga boleh ‘merosakkan’ minda! Berbagai-bagai persoalan timbul. Perlukah berfikiran gila-gila untuk menikmati kegilaan yang terkandung dalam buku kecil tetapi berbisa ini? Yang pasti seseorang yang benar-benar ingin menikmati juadah Meja 17, perlu sebijaksana penulisnya untuk memahami intipati dan mesej yang ingin disampaikan.

Prolog menjelaskan kedudukan meja 17 di dalam restoran eSastera. Nombor 17 dipilih kerana ia menggambarkan nombor kasih sayang yang merujuk kepada si manis tujuh belas. Meja 17 menggarap berbagai-bagai rencah hidup yang ditampilkan menerusi kepelbagaian kisah pahit, manis, lucu, sedih dibumbui pula dengan unsur mistik, sindiran, kritikan, serta dihiasi kejutan demi kejutan bijaksana yang luar biasa dan gila. Setiap kisah yang diungkap pasti mempunyai perkaitan dengan meja 17. Nama-nama watak juga begitu unik dan memiliki maksud. Misalnya, Or dan Ang yang merujuk kepada “orang”, Suamee dan Isteree, atau Suam dan Ister, yang merujuk kepada “suami dan isteri”, dan Matin yang merujuk kepada keteguhan sikap dan pendirian.

Elemen lucu dengan sindiran yang menyengat dihidangkan menerusi beberapa buah kisah. Antaranya, menerusi “Gila”. “Gila” memaparkan kebijakan penulis menerusi watak Usin. Dari meja 17, Usin memerhatikan selama 10 hari seorang lelaki memesan dua keping roti canai dan dua gelas teh tarik. Sambil membaca suarat khabar, dia menghabiskan sekeping roti canai dan segelas teh tarik. Setelah itu dia meninggalkan sekeping lagi roti canai dan segelas teh tarik yang tidak diminum. Situasi ini menimbulkan tanda tanya. Pada hari ke-11, Usin memesan dua keping roti canai dan dua gelas teh Tarik. Harapannya lelaki itu akan bertanya mengapa dia berbuat demikian. Anehnya, lelaki itu duduk di mejanya. Makan, minum dan membaca surat khabar miliknya. Sesudah itu meninggalkan Usin sehelai nota. Nota yang menyebabkan Usin ketawa tidak berhenti-henti sehingga sebuah ambulan datang menangkap Usin. Persoalannya siapakah yang gila? Lelaki itu, Usinkah, atau pembaca yang gila?

Sindiran kepada masyarakat ternayata bahan enak untuk diolah menjadi karya yang bermakna dan pedas. “Talak Cinta” merupakan menu pedas Meja 17. Penulis menyindir masyarakat yang mempermain-mainkan soal perceraian dengan menjatuhkan talak sesuka hati. Suam telah menjatuhkan talak 3 ke atas Ister setelah disahkan menghidap kanser. Alasannya, Suam tidak mahu Ister terseksa. Ister berkahwin lain secara kontrak supaya apabila diceraikan oleh suaminya, Ister dapat kembali menjaga Suam. Keanehan dan keganjilan “Talak Cinta” adalah apabila Suam menganggap perkahwinan kontrak Ister sebagai sebuah pengorbanan Ister yang tinggi. Darjah kegilaan pasangan ini meningkat apabila Ister menganggap cinta Suam lebih tinggi apabila dia menerima mesej talak tiga daripada Suam yang tidak mahu menyeksa dirinya yang masih muda.

Kritikan terhadap golongan politik menyempurnakan aroma rempah ratus Meja 17. “Menyamak Babi” menyerlahkan Or, penulis politik dan Ang, ahli politik. Or menulis dengan menggambarkan sisi baik Ang kepada masyarakat dengan upah yang lumayan. Setiap kali pulang ke rumah, Or akan menjadi seekor babi bergelar Ba dan Ang bergelar Bi. Tindakan Ang membunuh perempuan simpanannya tidak dipersetujui oleh Or. Or menganggap Ang keterlaluan. Or kembali ke rumah. Anehnya, apabila tiba di rumah, Or kekal sebagai manusia. Ang juga kembali ke rumah. Tetapi sewaktu ingin masuk ke rumah, Or hanya melihat seekor babi di pintu rumahnya. Or tidak mengenalinya dan telah memukul Ang. Penulis tidak menjelaskan mesej tersirat yang ingin disampaikan. Penikmat Meja 17 mesti berfikir secara luar biasa untuk memahami “Menyamak Babi”. Sedikit nilai simpati menjentik hati Or telah memanusiakan Or. Ang terus menjadi babi yang hina dan menyondol apa sahaja yang melintang di hadapannya. Ang bukan lagi manusia bertopengkan babi tetapi telah menjadi babi selama-lamanya.

“Anggur” pula dihidangkan dengan penuh nikmat kemanisan oleh watak Amri, seorang penganggur yang mengakui tidak mahu bekerja. Amri ditegur oleh Leman yang baru dikenalinya. Hampir setiap pagi Leman melihat Amri memesan sepiring anggur dan air teh panas untuk bersarapan. Amri kehairanan apabila Leman mengatakan sikap Amri yang tidak mahu bekerja akan menyusahkannya kelak. Leman mengakui bahawa dia ialah bapa Irma, bakal bapa mentua Amri. Leman akan malu sekiranya ditanya pekerjaan bakal menantunya. Tanpa disangka Amri menjawab dia tidak perlu bekerja kerana sekiranya tiada duit dia akan mengambil duit dari bank. Jawapan Amri menyebabkan Leman ketawa tetapi mulut Leman segera ditutup oleh Amri apabila dia memberitahu Leman dia memiliki harta berjumlah RM180 juta ditinggalkan oleh arwah emak dan ayahnya. “Anggur” memiliki kesudahan yang tidak dijangkakan. Unsur kejutan berganda memberi impak yang menyegarkan minda. Hasrat Leman mengejutkan Amri dengan memperkenalkan diri sebagai bapa Irma dipancung oleh kejutan Amri terhadap Leman. Oleh itu, jangan mudah menilai seseorang daripada luarannya sahaja. Elakkan memandang rendah terhadap manusia lain kerana setiap manusia memiliki rahsia hidup masing-masing.

Rahsia hidup manusia tergambar melalui pemikiran, tindak-tanduk, malah nama setiap individu menggambarkan sikap dan sifat individu tersebut. Alim di dalam “Deringan Merdeka” begitu polos menceritakan tujuannya ke bandar kepada seorang lelaki berjubah pada malam merdeka, iaitu untuk melakukan maksiat. Meja 17 mempertemukan mereka. Apabila Alim berada di bilik hotelnya, dia didatangi seorang remaja lelaki yang mengajaknya beriktikaf di surau hotel. Alim yang sudah lama tidak menunaikan solat, telah mengimamkan solat Isyak dan berlanjutan sehingga Subuh. Alim diminta membaca surah Sajdah kerana hari itu hari Jumaat. Walaupun ragu-ragu dengan kemampuan dirinya sendiri, dia berjaya melaksanakannya. “Deringan Merdeka” menjadi lebih menarik apabila Alim kemudiannya mendapati di hotel itu tiada surau. Dan Alim terus menelefon ibunya memohon ampun dan menyatakan keinsafannya. Aroma mistik “Deringan Merdeka” melengkapkan rencah hidup manusia. Kenakalan Alim terbentur oleh doa seorang ibu. Alim merdeka dalam erti kata sebenar, iaitu bebas dari taklukan syaitan dan maksiat.

Novel ini sememangnya tidak mempunyai plot khusus, juga tidak mementingkan hadirnya latar kecuali latarnya meja 17 di restoran eSastera. Walaupun begitu, watak yang dibina hidup dan berfungsi dengan sempurna. Watak-watak ini memiliki karakter unik dan tampil dalam kostum yang menarik.

Penulisnya benar-benar nanar dalam berfikir sehingga berupaya melahirkan karya berpemikiran luar biasa. Meja 17 begitu unik untuk dinikmati oleh pembaca yang memiliki pemikiran sebijaksana penulisnya.

6.

DAYA TARIK NOVEL MEJA 17 DAN KELEMAHAN YANG DIKANDUNGNYA

Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Membaca novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar anda akan bertemu dengan novel di luar kebiasaan, betapa tidak. Biasanya sebuah novel memiliki tokoh utama dan tokoh sekunder sepanjang penulisannya sampai novel selesai ditulis dan diterbitkan. Moh. Ghufron Cholid

Saking ngefansnya Irwan Abu Bakar dengan angka 17, isi kandungan novel yang berisi delapan belas kisah, ditulis dengan 17+1. Kisah atau episode pertama diberi judul GILA sedang episode pamungkasnya, yang harusnya ditulis angka 18 diubah menjadi 17+1 dan diberi judul Temu Duga.

Episode pertama berjudul GILA, sebenarnya memiliki banyak hikmah antara lain jarrib wa lahit taqun ‘arifan (coba dan perhatikan niscaya kamu tahu).

Berawal dari keheranan Usin menyaksikan tingkah laku pemuda berusia kisaran 30 tahun, yang kerap memesan dua porsi (khusus dua orang) namun yang disentuh pesanannya hanya miliknya saja dan mengabaikan bagian lain.

Peristiwa ini tidak hanya sekali bahkan terjadi berkali-kali sehingga memuncak rasa penasaran Usin untuk mencoba melakukannya sendiri. Dengan begitu Usin akan bisa menerka pertanyaan sekaligus jawabannya tanpa harus mengganggu privasi orang lain atau pemuda usia sebayanya.
Sebenarnya Usin melakukan hal ini menurut saya selaku pembaca didasari dua alasan yakni pertama Usin tidak berani bertanya secara langsung lantaran tidak mau dicap sebagai seorang yak sok kenal sok akrab. Atau karena memang Usin tidak kenal baik nama maupun asal orang tersebut hanya sebatas kenal rupa. Alasan kedua melakukan percobaan secara langsung lebih merdeka dalam berekspresi namun fatalnya jika keanehan yang dikerjakan maka akan memancing mata khalayak ramai dalam memandang sehingga berlaku kaidah kholif tu’rof (yang berbeda cepat dikenal).

Cara Irwan Abu Bakar mendeskripsikan episode pertama berjudul GILA menurut saya sangat berhasil. Saya termasuk yang terhipnotis dengan episode pertama. Saya jamin anda akan tidak kuasa menahan tawa bila anda ikut serta membaca pesan singkat pemuda berusia 30 tahunan yang diberikan kepada Usin: “Selamat jalan, saudara. Esok kita tidak akan berjumpa lagi. Esok saudara tidak akan ke mari lagi. Kedai ini terlalu kecil untuk menampung kehadiran dua orang gila.”


Novel ini sudah terbit sampai lima edisi. Bisa dikatakan novel yang memberikan nasib baik bagi penulisnya. Negeri asalnya Malaysia dan negeri berlambang garuda, merupakan dua negara yang memiliki peranan penting baik dalam menerbitkan maupun memberikan respon atas terbitnya novel ini.

Tentu perbaikan demi perbaikan terus dilakukan pihak penerbit untuk menghadirkan novel ini menjadi sangat menarik di hati pembacanya. Kaver bukunya memuat Mirza, orang Indonesia yang tampan dan tampak begitu gagah.


Ingin menjadi politikus handal, novel ini bisa menjadi salah satu referensi yang anda pakai, episode yang diberi judul TUAN PRESIDEN sangat cocok anda baca untuk menunjung kegigihan anda menjadi seorang politikus sampai anda benar-benar handal.

Magan adalah tokoh rekaan yang menurut saya bisa anda jadikan referensi. Bagaimana seorang Magan selalu menggunakan akalnya untuk memikirkan sesuatu yang kadang di luar dugaan kita sebagai khalayak umum.

Untuk menciptakan hidup sejahtera dan makmur, Magan tidak ragu untuk menjadi peniru ulung, gagasan ingin menerapkan konsep Kerajaan Tuhan dalam menjalankan roda keperintahan adalah gagasan yang disampaikan untuk menarik simpati rakyat. Berapi-api Magan menyampaikan gagasan namun yang pertama diterima adalah penolakan lantaran sangat mustahil untuk diterapkan.

Kendati mengalami penolakan, Magan tak putus asa. Magan terus bergerak untuk mewujudkan impian yang pernah dilontarkan, saat kehidupan berada dalam masa stabil, tanpa ragu Magan menunaikan janji yang pernah diucapkan. Janji menerapkan kerajaan Tuhan yang serba gratis.
Bukan politis sejati kalau mengalami penolakan langsung angkat bendera sebagai tanda menyerah atau putus asa. Magan, saking ulungnya dalam berpolitik sampai memikirkan hal-hal tak terduga. Ingin memasukkan negaranya sebagai bagian dari Amerika yang dalam pandangannya merupakan negara maju. Tak hanya itu, bahkan peperangan di masa depan dan yang akan memenangkan peperangan sudah berada dalam otak briliannya.

Membaca utuh episode Tuan Presiden berarti anda memilih jalan selangkah lebih maju menjadi seorang politikus handal masa depan sebab dalam episode tersebut anda tidak hanya diajarkan secara retorika namun langsung menyaksikan prakteknya.

Namun kecendrungan novel ini tetap memaparkan ketaklaziman Irwan Abu Bakar dalam menulis novel yakni tidak menggunakan pakem yang ada dalam penulisan novel. Bagi Irwan tetap menghadirkan Meja 27 lebih istimewa daripakan menentukan nama tokoh utama yang sama dari semenjak novel mulai ditulis sampai tuntas ditulis.


Memberlakukan membaca novel Meja 17 seperti bermain puzle, paling tidak anda telah menempuh jalur kreatif dalam memetik kisah-kisah menarik untuk membantu ingatan lebih lengket. Tipe ini juga saya pakai saat membaca novel ini. Saya baca secara acak episode yang ikut serta mengisi kandungan buku.

Bagi saya, Irwan Abu Bakar termasuk seorang penulis yang tidak terlalu hiperbololis dalam memilih judul dari tiap episode di novel ini.

Terkadang Irwan Abu Bakar lebih banyak memposisikan sebagai narator daripada memperbanyak dialog antar tokoh dalam novel yang ditulisnya. Irwan juga memiliki mata jeli dalam menyorot permasalahan yang ada di sekitar lalu diabadikan dalam tulisan agar pemikirannya tidak mudah terhapus angin waktu.

Misal dalam episode Cari Rezeki, Irwan menampilkan sosok Syma sebagai seorang dermawan lengkap dengan karakternya yang sangat natural. Di sisi lain, menghadirkan tokoh Irfan sebagai penyeimbang. Bisa pula dikatakan sebagai alarm alam dalam menyorot ketimpangan yang berada di depan mata namun dihadirkan secara jenaka.

Irwan Abu Bakar lewat episode Cari Rezeki, yang terbilang sangat pendek dalam penyajian namun memiliki takaran hikmah yang tak sependek yang ditulis. Irfan yang tanpa basa basi menyorot ketidaklaziman seorang ibu tua dan anaknya yang datang kepada Syma dan Irfan saat mereka berada di Restoran Esastera tepatnya di Meja 17 dengan tujuan untuk meminta belas kasihan Syma dan Irfan. Yang segera diungkap kejanggalan oleh Irfan namun anehnya si pemuda yang bersama ibu tua dengan jenaka menjawab kalau mereka sedang bertukar shiff.

Dengan kata lain, adanya episode Cari Rezeki hendak menegaskan bahwa orang baik atau orang dermawan di dunia nyata benar-benar ada namun yang memanfaatkan kebaikan orang juga benar-benar ada.

Secara garis besar episode ini mengajarkan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Adanya pengemis adalah ujian bagi tiap orang sampai di mana kedermawanan kita berada. Apakah sudah menjadi kebiasaan atau kita masih dikuasai kikir.


Novel ini banyak memiliki daya kejut, penuh intrik namun kelemahan novel ini adalah tidak adanya tokoh utama seperti yang kerap kita temukan dalam buku novel pada umumnya.

Paopale Daya, 3 Juli 2021

7.

MAGNET NOVEL MEJA 17 DAN NOVEL YANG MELABRAK PAKEM

Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Jika ada yang bertanya kepada saya adakah novel yang memiliki magnet sekaligus keluar dari pakem menulis novel maka saya akan tegas menjawab ada dan bisa ditemukan dalam Novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar. Moh. Ghufron Cholid

Tahukah anda bahwa ada sebuah novel yang unik yang hingga kini sudah terbit 5 edisi dan selalu mengalami perbaikan guna memberikan sajian bacaan yang lebih mantap bagi pembacanya. Novel ini ditulis oleh seorang berkebangsaan Malaysia juga menjabat sebagai Presiden Esastera, salah satu komunitas sastera Asia Tenggara, yang tidak hanya diminati peminat sastra di negaranya, melainkan merambah ke negara lain. Bahkan memiliki kantor di negara Indonesia bernama Rumah GAKSA.

Novel ini memuat 18 episode namun Irwan Abu Bakar melebeli episode ke-18 dengan menulis 17 + 1 serta memilih judul Temu Duga bagi episode penutup. Sebuah episode yang memuat intrik sebuah perusahaan. Dibuatnya acara Temu Duga untuk memilih Ketua Eksrkutif (CEO). Perusahaan yang saya maksud adalah Ria Intelek.

Agar perusahaan bisa secara nyata dikatakan profesional maka diadakanlah acara Temu Duga, yakni acara pemilihan Ketua Eksekutif walau pada kenyataannya sudah ditentukan ketuanya terlebih dahulu. Bahkan secara kritis Irwan Abu Bakar menyorot ketaklaziman ini seakan ingin menegaskan bahwa Temu Duga adalah miniatur kehidupan seputar dunia perusahaan yang memang ada di kehidupan nyata namun dihadirkan dalam novel agar menjadi sebuah renungan bersama alias sindiran secara halus dari seorang Irwan Abu Bakar pada para pelaku yang bekerja di bidang dunia usaha.

#

Novel Meja 17 adalah novel yang tidak memusatkan pada tokoh utama dan tokoh sekunder mulai dari dimulai sampai tuntas ditulis dengan memakai nama yang sama sebab yang menjadi sorotan bukan bagaimana karakter tokoh utama dan sekunder benar-benar dikenal, melainkan yang banyak disorot adalah Meja 17 yang kerap menghadirkan peristiwa yang begitu dekat dengan kehidupan kita dalam dunia nyata.

Misal episode pertama berjudul GILA, kecendrungan Usin yang tidak bisa mengontrol rasa penasaran yang melekat pada dirinya lantaran kerap menyaksikan keanehan secara berulang. Memesan menu di restoran untuk dua orang namun yang disentuh hanya miliknya saja dan membiarkan lainnya dengan utuh tanpa pernah diusik keberadaannya.

Episode berjudul GILA memang sangat berhasil menghipnotis saja untuk terus membaca, cara pendeskripsian Irwan lumayan detail dan menarik. Saya membayangkan penulis novel ini sedang berperan sebagai psikolog yang sangat mengerti gejolak kejiwaan seseorang sehingga saya membaca novel seakan menjadi saksi mata kejadian. Lantaran pendeskripsian kisahnya bagi saya sangat visual walau perangkat yang digunakan adalah bahasa tulisan.

Lambat laun jika anda membaca episode ini secara berulang akan tertawa, terpingkal-pingkal. Bagi yang akrab dengan bahasa Melayu dalam sekali baca anda akan bisa merasakan daya hipnotis episode ini untul tertawa terpingkal-pingkal secara berjamaah. Namun bagi orang Indonesia yang kurap akrab dengan bahasa Melayu maka bisa dibaca sampai 3 kali atau lebih baru bisa merasakan betapa jenakanya episode ini.

#

Episode 5 berjudul Tuan Presiden bagi saya sangat cocok untuk dibaca seorang politikus atau siapa saja yang menyukai atau ingin lebih mengenal lebih dekat tata cara berpolitik yang tidak mudah menyerah.

Episode ini, tak hanya berbicara politik saja tetapi juga membahas tentang peperangan di masa depan dan bagaimana caranya memenangi sebuah peperangan.
Yang menguasai teknologi adalah pemenang yang tidak tergusur. Yang mudah putus asa dalam membina karir di bidang politik maka sangat cocok bagi anda untuk membaca, Insya Allah cara pandang anda akan berkembang dan selangkah lebih maju dibanding biasanya.

#

Konsep rezeki juga menjadi bumbu episode yang membuat novel ini serasa menikmati peremen nano-nano. Bagaimana tanpa basa basi, Irwan Abu Bakar menyoroti ketidaklaziman dalam mencari rezeki. Yang tanpa babibu, Irfan mengoreksi pergantian peran antara ibu tua dan pemuda yang menjadi peminta-minta tatkala Syma dan Irfan berada di Restoran Esastera tepatnya di Meja 17 untuk dimintai sedekah.

Adanya Syma, Irfan dan Ibu Tua serta anaknya yang berprofesi sebagai peminta-minta adalah nama lain dari kedermawan dan kebiasaan memanfaatkan kebaikan serta alarm waktu yang diperankan Irfan sangat membuka cakrawala kesadaran saya selaku pembaca, dunia rekaan itu hadir untuk menvisualkan kehidupan nyata.

Irwan memparodikan tata cara cari rezeki, yang sadar ataupun tidak. Mau ataupun tidak mau, kita harus mengakui adakalanya orang itumenjadi seorang peminta-minta karena didera kebutuhan hidup yang begitu mendesak. Ada pula bukan karena butuh melainkan karena sudah terbiasa dan dipandang sangat menguntungkan maka pilihannya hanya satu yakni tetap melakukan.

Dalam episode ini, kita bisa tahu ciri khas peminta-minta yang kerap meminta belas kasihan orang lain terbagi menjadi dua. Pertama adalah golongan orang yang meminta lantaran sangat membutuhkan pertolongan. Biasanya yang dikerjakan adalah sebatas yang ia bisa dan sesuai kebutuhan jadi baik kata maupun gerak yang muncul sangat natural alias tidak dibuat-buat. Kedua, pengemis yang dijadikan profesi mudah diketahui lantaran kerap berganti peran dan hanya mata jeli yang bisa melihatnya seperti yang diperankan ibu tua dan anaknya yang mendatangi Syma dan Irfan untuk meminta belas kasihan naasnya kedok mereka terbongkar dan dengan sigap Irfan menjadi alarm waktu agar yang dilkakukan ibu tua dan anaknya tidak menipu lagi. Dengan kata lain pesan moral episode ini, yang dibuat-buat biasanya tidak alami dan dengan mudah bisa dikenali.

#

Novel Meja 17 memakai pandangan tiga sastrawan senior Malaysia sebagai bentuk promasi yang mudah memantik perhatian. Tulisan Ilyani di Alu-aluan Penerbit juga bisa membuat novel ini sebagai memiliki bobot isi. Bisa juga sebagai pengantar tentang kilas balik bagaimana proses novel ini lahir dan penyambutan atas kelahiran novel ini.

Tulisan Sanggar Nurimas yang dijadikan Kata Pengantar edisi 5, bisa menjadi gambaran awal untuk memahami sisi yang menarik dan menggelitik dari novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar.
Irwan Abu Bakar sebagai penulis novel ini, sudah mengusahakan memberikan karya terbaiknya tanpa harus menyibukkan orang lain. Sekuat tenaga dikerahkan segala kemampuan untuk melahirkan karya bermutu. Nyatanya masih saja ditemukan kekurangan demi kekurangan dalam novel ini, orang yang mengungkap kekurangan atau ketaksempurnaan novel ini adalah Taufik Meh, berkat pembaca ini novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar tampak lebih bermutu.

Tidaklah berlebihan jika saya katakan di balik sebuah karya yang hidup dan berdegup ada jasa pembaca kritis yang tanpa memiliki rasa takut atau enggan dalam mengungkap kebenaran. Kalau boleh saya ilustrasikan niat hati membuat karya yang sempurna namun hanya pembaca kritis yang dengan jeli mengungkap kekurangan-kekurangan yang dimiliki sehingga berproses menjadi lebih sempurna.

Sosok Taufik Meh, orang yang sangat berjasa atas penyempurnaan novel ini mengingatkan saya pada sosok Kamil Alfi Arifin, anak Sumenep. Teman seperjuangan di kala nyantri di Al-Amien. Teman yang lebih memilih hubungan sebagai perteman kritis dalam menyikapi karya.

Bagi Kamil Alfi lebih baik mengucapkan hal-hal yang sangat pedas dalam mengomentari sebuah karya agar karya tersebut menjadi karya yang lebih bagus dan bermutu bukan menjadi karya asal jadi atau karya yang dibuat asal-asalan.

#

Bagi saya novel Meja 17 menarik dalam penyajian sebab Irwan Abu Bakar begitu merdeka menarik peristiwa di alam nyata ke alam karya agar lebih mudah dibaca, direnungkan dan dikritisi. Saya menyebut novel Meja 17 sebagai Campurasi Karya Bergizi yang dihadirkan secara jenaka sepenuh aksi dan kritis. Keluar dari pakem penulisan novel, lantaran lebih menitik beratkan latar tempat sebagai sumber inspirasi dan mengkritisi kehidupan yang timpang.

Junglorong, 7 Juli 2021

8.

CUPLIKAN KEHIDUPAN YANG DIBAWA KE DUNIA KARYA YANG DISAJIKAN SECARA JENAKA NAMUN KRITIS

Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Cinta Berbalas Di Meja 17 adalah judul yang pertama kali bergema di tahun 2008 sebagai cikal bakal dari Novel Meja 17 pada edisi pertama. Rupanya seleksi alam memberikan keberuntungan. Novel ini tidak hanya saja bisa bertahan namun berhasil terbit ulang pada tahun 2012, sebagai penanda kelahiran edisi kedua dengan judul Meja 17. Judul yang menurut saya lebih ringkas namun lebih mistis daripada judul pertamanya.

Meja 17 menurut saya lebih mengundang rasa penasaran pembaca untuk membaca isinya daripada Cinta Berbalas Di Meja 17. Alasannya jika dilebeli dengan kata Cinta, umumnya pembaca akan menebak alurnya kalau tidak happy ending ya sad ending. Paling tidak ada dua efek yang langsung dapat dirasakan. Pertama akan mengundang minat orang-orang yang lagi kasmaran untuk segera membaca mengingat judul edisi pertama tahun 2008 lebih mudah ditebak hasil akhirnyq. Kedua akan menghentikan peminat yang patah hati untuk membaca novel ini karena dipandang tidak mendukung keadaan pembaca yang sedang dilanda duka.

Bagi penggemar hal-hal mistis, atau yang berbau teka-teki maka judul Meja 17 lebih menggoda hati pembaca untuk membaca tuntas novel tersebut. Lantaran tidak ada lebel kata cinta dalam judul yang dihadirkan. Bisa dibilang pertaruhan pemilihan judul sangat mempengaruhi tertarik tidaknya pembaca untuk membaca atau meninggalkan novel yang ditawarkan penulis novel.
Paling tidak pada edisi ketiga yang sangat memegang peranan penting Novel Meja 17 adalah penerbit yang ada,di negera asal penulisnya. Penerbit yang saya maksud adalah Mobile Book Cafe berkat penerbit ini Novel Meja 17 mendapat sambutan hangat dari pembaca di Malaysia, yang tentunya merupakan kabar baik bagi Irwan Abu Bakar selaku penulis karena bisa mendengar sekaligus menyaksikan novel yang telah ditulisnya mendapatkan tempat istimewa di mata pembacanya.

Ulasan terkini terhadap Meja 17 (edisi 4) telah dibuat oleh penulis Sanggar Nurimas dengan judul “Unsur Keterkejutan, kepelikan dan antiplot boleh menyebabkan pembaca ‘mati mengejut”.

HAL-HAL YANG MENGHIDUPKAN KARYA

Sebuah karya yang lahir merupakan berita baik sekaligus mimpi buruk bagi seorang penulis. Dikatakan berita baik lantaran karya tersebut tak hanya bersarang di minda penulis melainkan telah berhasil diantarkan ke dunia dengan selamat dan bisa bertemu pembacanya. Mimpi buruknya adalah setelah sebuah karya berhasil diterbitkan tetapi tidak mendapatkan alias tidak diminati untuk dibaca.

Sebuah karya bisa dikatakan hidup apabila karya tersebut lahir atau terbit. Dibaca lalu dibicarakan pembacanya. Semakin banyak yang membicarakan maka semakin hidup karya tersebut, terlepas ada yang menyukai lengkap dengan perangkat yang bisa membuat pembaca lain tertarik membaca, atau direspon dengan stigma negatif lengkap dengan ketidaksempurnaan adalah bagian dari dinamika sebuah karya.

Adanya novel Meja 17 telah menjadi magnet bagi lahirnya karya-karya lain yang dihasilkan pembacanya seperti dijadikan pembahasan di dua kegiatan sastra bergengsi baik di dalam maupun luar negeri yakni dibicarakan di Seminar Kepengarangan Muslimah Nusantara di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (31.3.2009-2.4.2009) dan di Universitas Gajah Jogjakarta, Indonesia dalam program Seminar Internasional Sastra Indonesia-Malaysia (SISIM). Novel ini pun juga menginspirasi penulis yang pembaca untuk mengulas isinya.

Sebenarnya keberadaan tulisan Sanggar Nurimas yang dijadikan kata pengantar dalam novel ini seperti mata pisau. Di satu sisi sangat kritis sehingga memungkinkan membuka minda Irwan Abu Bakar untuk berkarya lebih kreatif, memukau namun tidak keluar pakem penulisan novel. Bagi pembaca lain, berfungsi sebagai pengetahuan awal tentang isi novel ini.

HAL-HAL YANG DISOROT IRWAN ABU BAKAR DALAM NOVELNYA

Episode pertama menyorot kebiasaan orang yang penasaran kepada hal-hal yang dianggap janggal, ingin tahu apa yang dipikirkan namun malu bertanya secara langsung sehingga Usin bereksperimin sendiri untuk mengarang pertanyaan yang muncul sekaligus jawabannya.
Irwan Abu Bakar dalam episode ini seakan ingin berujar meniru boleh asal jangan kebablasan. Meniru tanpa memperhitungkan akibat yang dilakukan. Di sisi lain juga ingin berucap bahwa sejatinya kita bebas melakukan apa saja namun jangan lupa ada mata lain, yang siap menyorot kita. Jika berbeda dengan kebiasaan umum maka berakibat burut seperti yang diterima Usin dalam percobaannya di episode pertama dalam novel ini. Kebiasaan ingin tahu dan kebiasaan orang lain ikut mengurus kegiataan orang lain sepaket tali tiga uang yang tidak bisa dihilangkan sehingga dengan bahasa yang mudah dicerna dan dihadirkan secara jenaka menjadi garapan Irwan Abu Bakar dalam menghadirkan permasalahan lalu menuntaskan dengan jenaka.

Meminta pertolongan orang lain bukanlah hal yang tercela selama kita benar-benar butuh namun mesti diingat jika meminta pertolongan orang lain dijadikan sebagai mata pencarian maka mesti diingat selalu ada orang dermawan yang didampingi oleh orang bermata jeli, yang tanpa basa basi akan membongkar kebiasaan buruk peminta-minta seperti yang diungkap oleh Irwan Abu Bakar dalam episode 7 berjudul Cari Rezeki. Menariknya Irwan Abu Bakar menghadirkan ketimpangan ini dalam kisah yang jenaka sehingga tidak menyinggung pihak manapun.

Permasalahan asmara kerap terjadi sehingga Irwan Abu Bakar lewat novel Meja 17 juga ikut andil membahasnya. Bahwa sejatinya mencintai dan cintai adalah fitrah manusia dan tugas manusia adalah menyikapi cinta yang ada dengan lebih dewasa. Episode l Talak Cinta dalam novel ini adalah cara Irwan Abu Bakar mendeskripsikan cinta. Sementara untuk membahas kecanggihan teknologi, Irwan mewakili pandangannya lewat episode X-Umur.

Bagi anda yang menyukai politik, novel ini boleh dibaca khususnya pada episode berjudul TUAN PRESIDEN, lewat tokoh bernama Magan anda akan dibawa pada ranah seorang politikus sejati yang tidak gampang menyerah pada keadaan dan selalu memiliki pandangan visioner.

Episode Adat dalam novel Meja 17 merupakan episode yang sangat memikat dan tanpak sangat rugi, bila anda membacs novel Meja 17 dan melewatkan episode Adat tanpa pernah membacanya. Lantaran episode ini merupakan cara Irwan Abu Bakar dengan sangat jenaka melakukan kritik sosial terhadap suatu adat yang dinilai tidak memanusiakan manusia.

Selalu ada daya kejut yang dihadirkan. Membaca semacam memberi sensasi ngeri-ngeri sedap. Tokoh Amri dan Amni bagi saya adalah tokoh yang saling melengkapi dan memiliki selera humor yang tinggi. Berusaha keluar dari ketakukan-ketakutan yang ada dengan sangat cerdas dan jenaka.
Membaca episode berjudul Adat seakan memberi gambaran cara menggugat ketimpangan tak harus bersuara lantang dan turun ke jalan raya mengadakan aksi demo secara besar-besaran namun cukup dengan menuliskan pemikiran kita dan menghadirkannya dengan baik, punya selera humor namun memuat hikmah yang begitu besar dan Irwan Abu Bakar telah menempuh cara tersebut dalam novel Meja 17 tepatnya pada episode berjudul ADAT.

PENUTUP

Bagi saya buku ini lebih tepatnya dikatakan kumpulan kisah-kisah daripada buku novel, hal mendasar adalah karena berisi ragam cuplikan kehidupan yang disajikan secara jenaka namun kritis. Bisa dikatakan novel jika mengacu pada Meja 17 sebagai benang merah dari kisah-kisah yang ada. Hal ini disebabkan karena Irwan Abu Bakar lebih menonjolkan latar Meja 17 daripada memilih satu tokoh utama mulai dari novel ini dibaca sampai tamat. Biasanya novel yang ada umumnya hanya mengangkat satu tokoh utama dan beberapa tokoh sekunder dengan perwatakan yang kuat. Novel pembanding yang saya baca adalah Rindu Berbisik karya Indah Hairani Latif (Terengganu).

Junglorong, 7 Juli 2021

9.

MEJA 17 KEGILAAN MENTERTAWA DIRI

Oleh: Ibnu Din Assingkiri

Gila selalunya sinomin dengan hilang akal dan tidak lagi pedulikan apa yang terjadi kepada diri atau keadaan sekeliling. Itulah yang terjadi seandainya anda membaca novel anti plot Meja 17, karya Irwan Abu Bakar. Jika anda memulakan pembacaan dengan harapan disajikan dengan cerita-cerita biasa yang sering dibaca, anda bakal kecewa. Jika anda mengharapkan babak anak kayangan tertabrak anak Si Marhaen lalu berkenalan dan jatuh cinta, ada bakal lelah mencarinya kerana tidak akan bakal dijumpai di dalam naskhah ini.

Pendapat saya, naskhah cetakan pertama tahun 2008 ini adalah antara pelopor novel yang ditulis gaya cerpen di setiap bab dan cuma ada judulnya sahaja sebagai hubung kait antara bab ke bab. Gaya sebegini, kemudian nampaknya telah diikuti oleh penulis lain juga. Sebagai di antara yang terawal menulis gaya sebegini, Irwan Abu Bakar terbukti genius dalam kreativiti dan dalam masa sama, sedikit gila-gila. Jika Muhammad Haji Salleh digelar penyair genius Melayu, saya akan menggelarkan Irwan Abu Bakar sebagai novelis genius Melayu!

Bentuk dan cara novel ini ditulis sudahpun terkedepan melampaui zamannya. Tema, persoalan, dan amanat di dalamnya pula sangat segar dan relevan walaupun sudah 13 tahun ditulis. Ini adalah ciri-ciri yang terdapat pada karya filem P. Ramlee yang sentiasa relevan sepanjang zaman. Mungkinkah naskhah Meja 17 ini apabila dibaca 30 tahun akan datang, masih menggeletek minda kita untuk mentertawakan diri sendiri. Jawapannya ya, kerana kritik sosialnya sangat mengena dengan keadaan sepanjang zaman, sama seperti karya filem P. Ramlee. Tiap kali diulang baca (sampai lunyai kertasnya), setiap kali itulah kita bakal menemui hal-hal baharu yang menggeletek minda kita.

Kenapa saya katakan dan mengulangi kata, mentertawa diri? Lihat di Bab 6, wataknya bernama Dr. Pow. Kalau disebut berulang kali, tahulah kita bahawa doktor, lebih-lebih lagi dari hospital swasta, kerjanya hanya hendak menge’pow’ (memeras) wang pesakit sahaja. Jalan ceritanya pula ditulis dengan gaya pengulangan bukan kerana ingin bermain-main dengan kesabaran pembaca tetapi sebagai elemen penekanan dan penegasan tentang kelaziman manusia. Walaupun ditipu berkali-kali tetapi masih juga percaya. Walaupun berkali-kali gagal namun masih membuat langkah yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeza. Itulah dia, kita sedang mentertawakan watak dan jalan cerita hidup kita sendiri.

Kegeniusan gila-gila Irwan Abu Bakar dalam membina watak hanya melalui nama sangat saya kagumi. Nama-nama wataknya bukan muslihat, tetapi refleksi tentang watak dan perwatakan manusia yang hidup hari ini. Manusia yang sering kita jumpa sehari-hari di kejiranan, tempat kerja, malah saudara-mara dan ahli keluarga kita. Dalam Bab 9- Sumpahan, nama-nama bangsawan kayangan telah diparodikan dengan lucu dan akhirnya ditukar menjadi Mary dan Joe sahaja sebagaimana mereka yang selalu melarikan diri dari cuaca panas nusa tercinta untuk bercuti atau pulang ke kampung kedua di London sana, begitulah terciptanya nama timangan mereka. Entah apa nama timangan anak mereka yang bertadika di Perancis itu. Mungkinkah Jean Claude atau mungkin Garçon Sombre, Wallahuaklam!

Dalam Bab 5, Tuan Presiden Magan yang mahukan kerajaan manusia mencontohi kerajaan Tuhan untuk menjadi lebih baik dan adil dengan upaya menyedia udara, tanah, api, dan air. Katanya lagi, hanya udara saja yang masih percuma. Ini adalah kritik sosial terbesar kepada pemerintah yang gagal kembali kepada ajaran Islam dalam memerintah. Mereka bangga melabel kerajaan Melayu Islam tetapi hingga ke hari ini masih ada yang gagal menyediakan air kepada rakyat. Bekalan elektrik dimonopoli kroni dan harga tanah (rumah) melambung naik ke kayangan. Bab 5 diakhiri dengan kesudahan tidak terjangka yang memberi harapan kepada kita (walaupun hanya di dalam karya fiktif) bahawa masih ada pemimpin tanah air yang genius hingga dapat mengakali bangsa penjajah. Saya syak Magan itu buka dari parti-parti politik dinasours yang sedia ada.

Menurut saya, Bab 7 Ialah bab paling sadis tikamannya. Ia menikam dan merobek-robek jantung dengan perlahan-lahan dan sakitnya, Tuhan sahaja yang mengetahui. Ini bab paling pendek dalam naskhah Meja 17. Sebuah fiksimini yang hebat. Dengan kata-kata yang sedikit, ia mampu membawa tema dan persoalan yang besar kepada kita. Dalam mencari rezeki, manusia sering melupakan halal haram. Manusia suka mengambil jalan mudah. Manusia malas berusaha. Inilah antara persoalan dalam bab ini. Walaupun tertangkap basah menipu sebagai orang buta, kedua beranak itu masih selamba menjawab bahawa mereka sedang tukar syif dalam menipu siapa buta.

Bab ini mempersoalkan tentang penipu menipu terang-terangan dan masih mampu meraih simpati kerana masyarakat kita selalu merelakan diri mereka ditipu. Kiritik sosial dalam bab ini adalah serampang dua mata, kepada penipu dan yang tertipu. Kata orang, kalau ada permintaan tentu ada penawaran. Ada persamaan dalam karya filem P.Ramlee yang relevan sampai kini, pada dialog, “takkan lebai nak menipu” sedangkan bengitu banyak “scammers” yang wujud hari ini berkopiah-serban dan menipu seperti tiada esok bagi mereka. Begitu juga dengan watak penipu berlakon buta di dalam bab ini. “Takkan orang nak menipu jadi buta…”- mungkin inilah yang terdetik di hati mangsa-mangsa penipuan mereka.

Gaya dan laras bahasa novel ini sederhana sahaja. Sesuai dengan skop audiens yang lebih besar. Naskah ini sesuai dibaca oleh semua golongan masyarakat yang mahu berfikir dengan kritis di sebalik ketawa menghiburkan diri (walaupun mentertawakan diri sendiri). Gaya bahasa sederhana ini lebih sesuai sebagai wadah komunikasi kritik sosial. Ini kerana karya-karya sastera yang sarat kritik sosial adalah serampang dua mata. Selain ia menikam jantung yang dikritik secara harfiah, ia juga menikam dalam bentuk pesanan dan amanat kepada pembaca. Pun begitu, sebagai karya terkedepan zamannya, Meja 17 mampu membuatkan pembaca mentertawakan diri sendiri dalam sedar ataupun tidak!

Cabaran tersulit bagi penulis adalah menjadi acuan pemikiran masyarat masa kini dan masa hadapan. Selain genius dan kreatif, ciri khas Irwan Abu Bakar ialah seorang pemerhati yang kritis terhadap masyarakat. Beliau juga peka terhadap isu semasa serta tajam dalam menggemakan suara marhaen di dalam karyanya. Saya dapat rasakan di setiap ziarah beliau ke Kedai Mamak, beliau pasti memerhati gelagat manusia lain untuk dijadikan modal cerita yang bakal ditulisnya. Begitu juga berita-berita yang dibacanya melalui media massa dan internet, sudah pasti akan dijadikan bumbu penambah kesedapan jalan cerita.

Menurut saya, naskhah Meja 17 ini genius, berfikiran di luar kotak, melampaui zamannya ditulis, dan setara maha karya seniman agung P.Ramlee yang “tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”. Seperti karya filem P.Ramlee, saya yakin di ketika lain, apabila pembaca dimatangkan waktu dan keadaan, mereka akan memandang karya ini dari sudut lain yang belum pernah mereka sedar sebelum ini. Inilah ciri-ciri karya malar hijau – ia berkembang seiring zaman dan seiring kedewasaan pembaca. Meja 17, akan sentiasa relevan kerana kegeniusan kreatif (gila-gila) Si Penulisnya.

1051 kata.

10.

Ulasan Buku
Judul :Meja 17
Penulis :Irwan Abu Bakar
Tahun Terbit : 2016 / edisi 4 oleh eSastera Enterprise
Jumlah Halaman : 143

TERSURAT DAN TERSIRAT DALAM NOVEL MEJA 17

Kenapa kita membaca novel? Apa yang dihidangkan oleh sebuah novel kepada pembaca? Adakah kisah dalam novel tersebut menepati cita rasa pembaca? Apa sebenarnya yang pembaca inginkan? Persoalan sebegini sering menghantui saya ketika hendak membeli sesebuah novel jika hanya melihat kulit (tersurat). Saya bimbang tidak dapat menghabiskan bacaan hingga ke muka surat terakhir. Lebih risau lagi, jika karya tersebut terbiar sepi dan berhabuk di rak buku. Sedangkan sering kita mendengar bahawa setiap buku pasti ada perkara yang boleh dimanfaatkan (tersirat).
Secara mafhum sesebuah karya ada perkara yang boleh dimanfaatkan dan mempunyai nilai estetika yang tinggi. Mana Sikana (2019) menyatakan bahawa estetika sebagai keindahan dalam dunia sastera yang dapat dihujahkan dan dibuktikan. Jadi perbincangan ini akan menyentuh estetika tersebut dari segi tersurat dan tersirat dalam novel Meja 17. Pengarang, Irwan Abu bakar memulakan cerita dengan meletakkan suatu persoalan tentang ‘misteri’ yang sering berlaku di sebuah meja bernombor 17, restoran eSastera. Meja bernombor 17 itu walaupun sudah diketahui berhantu, namun masih diduduki oleh sesetengah pelanggan. Maka dari situlah segala yang tersurat dan tersirat perlu diperhalusi oleh pembaca.

Saya membelek setiap rentetan frasa dan ayat mencari misteri yang dikatakan. Pernyataan yang terjadi di meja 17; Kononnya meja tersebut berhantu. Ada penunggu. … Pelanggan menjadi gila (halaman 9) dan sebagainya telah meninggalkan pertanyaan demi pertanyaan di benak saya. Apakah misteri-misteri yang akan terjadi seterusnya sehingga tamat di muka surat 143? Untuk memahami yang tersurat dan tersirat genre kisah sebegini sudah tentulah juga memerlukan sedikit minat dan keberanian untuk menghabiskan karya ini.

Pengarang novel Meja 17 bagaikan chef profesional, telah memasukkan ramuan terpilih dalam karya ini untuk memenuhi selera pembaca. 18 bab yang dihidangkan mengandungi resipi novel-novel yang laris di pasaran. Kepelbagaian tema seperti percintaan, kekeluargaan, persahabatan, kemasyarakatan dan lain-lain lagi menjadi rencahnya. Semua pokok persoalan ini didasarkan dengan satu genre kisah misteri. Maka, pembaca yang meminati jenis misteri sudah pasti tidak akan melepaskan begitu sahaja novel ini. Lebih menarik lagi untuk dipadankan dengan kisah misteri, pengarang menggarap cerita-cerita dalam novel ini berbentuk surreal iaitu di luar realiti (tersirat).

Perkara pertama yang melekat dalam minda saya apabila membaca novel ini tentulah meja 17, di restoran eSastera itu. Setiap cerita pasti akan dikaitkan atau cuba disangkutkan kepada meja berhantu itu. Di meja itu segala-gala boleh terjadi seperti persahabatan yang erat membawa kepada pengkhianatan dan perpisahan (Bab 3 – Adat), perkahwinan yang bahagia menjadi porak-peranda (Bab 6 – Masam Manis Madu dan Bab 11 – Talak Cinta), marah, sedih dan kecewa (Bab7 – Cari Rezeki, Bab 16 – Pemikiran Reversal dan Bab 13 – Usia), penipuan (Bab 14 – Menyamak Babi) dan pergaduhan (Bab 9 – Sumpahan dan Bab 15 – Akademik Fun+Usia). Semua itu adalah isu yang dibawa dalam cerita-cerita di meja 17 untuk tafsiran pembaca sama ada secara tersurat atau tersirat. Jika dirangkumkan, novel Meja 17 menceritakan pelbagai tema tetapi semuanya menjurus kepada tragedi. Jadi cara ini jika diteliti pasti boleh menjadi serampang dua mata dalam menarik minat pembaca daripada pelbagai lapisan masyarakat.

Keupayaan pengarang mengajak pembaca membuat tafsiran sendiri terhadap kisah-kisah misteri adalah satu kelainan. Surreal adalah genre penulisan yang tidak mementingkan logik cerita dan logik akal. Maka pembaca perlu membuat telahan sendiri untuk mendapatkan logiknya. Ada kalanya pembaca boleh terpinga-pinga dengan penyelesaian cerita tersebut seperti dalam Bab 17+1 – Temu Duga. Jadi berbalik kepada keperluan latar belakang pembaca juga dapat membantu untuk memahami genre cerita sebegini. Maka ukuran untuk estetika cerita ini juga terletak kepada kefahaman pembaca dalam membuat tafsiran sama ada secara tersurat atau tersirat.

Selain itu, kelebihan novel Meja 17 ini, berikutnya adalah cerita-ceritanya terpisah-pisah. Tiada hubung kait antara satu sama lain kecuali bab 7 dan bab 16 yang ada ikatan iaitu berkaitan pada watak dan tema. Teknik yang luar biasa ini memberi kebebasan untuk pembaca menghayati mana-mana cerita yang dirasakan perlu. Pembaca juga boleh memulakan pembacaan daripada mana-mana bab yang disukai. Pendek kata pembaca tidak terikat dengan kesinambungan jalan cerita atau plot. Jadi keseronokan (bebas membuat pilihan) yang diperlukan oleh pembaca untuk menghabiskan pembacaan ada dalam karya ini. Sebagai contoh bab epilog yang semua orang sedia maklum boleh sahaja dijadikan sebagai permulaan bacaan. Kisah meja 17 yang hancur dilanggar lori tiba-tiba berdiri tegak semula pasti akan menarik minat pembaca untuk mengetahui kisah-kisah sebelumnya. Jadi tepuk dada tanya selera.

Irwan Abu Bakar yang berlatar belakang sains sudah pasti menggunakan kelebihannya untuk menghasilkan naskhah hebat ini. Sains fiksyen boleh ditemui dalam bab-bab tertentu dalam kisah di Meja 17 ini. Sebagai contoh kisah di bab 10 yang berjudul X-umur. Cerita tentang Dr. Kadri yang menemui formula untuk mengukur kematian. Bukan calang-calang pengarang yang mampu untuk mengaitkan semua elemen saintifik itu dalam kepengarangnya. Oleh yang demikian, pembaca yang berlatarbelakangkan sains pasti akan teruja untuk mendalami kisah-kisah yang mempunyai maksud tersirat sebegini.

Pengarang tidak lupa menyelitkan unsur keindahan cerita asmara, dan memaparkan adegan tersebut dengan sempurna. Kisah berjudul Talak Cinta dalam Bab 11 pasti menguja pembaca. Dalam kisah yang pendek dan ringkas itu pengarang menyampaikan mesej bahawa sikap terburu-buru boleh membaca kemusnahan dalam perhubungan. Namun, kesetiaan pasangan dan juga rasional akal dalam membuat pertimbangan telah menyelamatkan cinta serta hubungan mereka. Sudah pasti peminat kisah cinta boleh khayal dengan pengakhiran kisah ini. Malah pembaca juga ditinggalkan oleh pengarang dengan persoalan untuk difikirkan secara tersirat.

Di sebalik aspek garapan cerita yang teliti dan menarik, pembaca juga disajikan dengan gaya bahasa yang ringkas tetapi indah. Sesebuah karya yang baik sudah pasti bahasanya juga menarik. Selitan peribahasa, mutiara kata serta diksi dan garapan bahasa pengarang sendiri yang bersahaja menjadikan cerita ini mencapai tahap ‘sempurna’ untuk dibaca oleh semua peringkat umur. Selain itu penerapan aspek-aspek budaya tempatan juga dimasukkan dengan baik oleh pengarang. Sebagai contoh, kisah monyet dan penyu dalam Bab 3 – Adat. Doktor Irwan Abu Bakar juga berjaya mengeksploitasi semua pengetahuannya untuk menghasilkan naskhah hebat ini. Pembaca juga akan terhibur dengan jenaka spontan beberapa buah kisah seperti dalam Bab 2 – Anggur dan Bab 14 – Menyamak Babi.

Kesimpulannya, membuat ulasan juga kita perlukan keberanian. Berani untuk mengatakan yang benar atau sebaliknya sama ada secara tersurat atau tersirat. Novel ini berjaya menarik perhatian saya kerana sudah tentulah aspek gaya bahasa, plot, latar dan pengajaran cerita ini meninggalkan kesan yang mendalam, walaupun genre surreal bukanlah keutamaan minat saya. Maka apa yang diperkatakan oleh Mana Sikana tentang estetika dalam novel ini seperti sudah terang lagi bersuluh. Diharapkan karya ini akan menjadi pilihan pembaca, malah dijadikan bicara karya serta kajian oleh pengkaji sastera agar naskhah malar segar ini terus diperkatakan.

11.

NOVEL MEJA 17 KARYA IRWAN ABUBAKAR:
ABSURD, TRADISIONAL, DAN RELIGIUS
Oleh: Christya Dewi Eka

Meja 17 adalah sebuah novel karya sastrawan Malaysia, Irwan Abu Bakar. Pertama kali diterbitkan pada tahun 2008 oleh Esastra Enterprise dengan judul Cinta Berbalas di Meja 17. Novel ini banyak mendapat perhatian dari khalayak. Salah satunya adalah Indonesia. Universitas Gajah Mada Yogyakarta pernah mendiskusikan novel ini pada tahun 2014.

Ada 18 cerita pendek di dalam novel ini. Semuanya kental dengan absurditas. Kedelapan belas cerita pendek tersebut terjadi di meja 17 dengan latar belakang peristiwa terjadi di berbagai tempat.

Meja nomor 17 adalah sebuah meja yang berada di restoran eSastera, sebelah barat simpang empat, di sisi timur bandar pinggir kota. Nomor 17 identik dengan sweet seventeen, nomor manis yang lekat dengan usia remaja yang ceria menghadapi indahnya dunia. Berbanding terbalik dengan meja 17. Peristiwa yang absurd, ironis, dan tragis selalu terjadi di sana.

Bila dibaca sekilas pandang, novel ini menggunakan bahasa yang sederhana, dialog yang minim, penokohan yang kurang rinci, alur yang ringan, namun akhir yang kontras dengan pikiran pembaca. Dunia meja 17 adalah dunia yang berdiri sendiri. Bukan dunia sang pengarang. Bukan pula dunia pembaca. Jadi bisa dimaklumi bila kekontrasan itu menjadi senjata pengarang untuk menciptakan dunia absurd yang tidak perlu repot-repot dipertanggungjawabkan logika formalnya.

Irwan Abu Bakar seolah-olah –bila meminjam istilah Sapardi Djoko Damono dalam kata pengantar kumpulan cerpen Godlob (1987) karya sastrawan Indonesia, Danarto– meledek kecenderungan pembaca yang berpegang teguh kepada nalar. Lantas apa yang terjadi ketika realita tidak sinkron dengan nalar? Itulah yang dialami tokoh-tokoh dalam novel Meja 17. Ada yang menganggapnya aneh, ironis, bahkan gila. Intinya, keluar dari akal sehat. Tampaknya benarlah kredo pembaharuan ala sastrawan Malaysia, Mana Sikana dalam antologi cerpen Dajal (1986), “Jangan hanya melihat dengan mata akal.”

Absurditas tampak pada cerita “Gila”. Secara eksplisit dan sederhana, cerita ini mengungkapkan perbedaan antara wajar, aneh, dan gila. Wajar adalah memesan makanan dan minuman secukupnya untuk diri sendiri. Aneh adalah memesan makanan dan minuman lebih, tanpa disentuh, dan tidak dibawa pulang. Sedangkan gila adalah adanya manifestasi berlebihan bila melakukan hal aneh tersebut.

Usin diduga gila karena tertawa tanpa henti setelah membaca nota yang mengatakannya gila karena memesan makanan dan minuman lebih tanpa disentuh dan tidak dibawa pulang. Sama halnya dengan Usin, pada cerita “Ialah Dia”, sang suami mengalami kejadian absurd. Tanpa disadari ia terpisah dari raganya. Untunglah roh suami tidak sembrono melukai laki-laki yang duduk mendampingi sang istri, yang tidak lain adalah dirinya sendiri. Bisa diambil kesimpulan sementara bahwa meja 17 memang memiliki sesuatu hal misterius. Karena ketika mereka tidak duduk di meja 17 ternyata tidak pernah mengalami kejadian aneh apa pun.

Magan dalam cerita “Tuan Presiden” adalah seorang tokoh politik yang mendapat ide absurd ketika duduk di meja 17. Ia ingin meniru kepemimpinan Tuhan yang Maha Pemurah sehingga ia berupaya menyediakan kebutuhan rakyat Malaysia secara gratis. Kemudian ide absurd kedua (yang juga muncul ketika duduk di meja 17) adalah menjadikan Malaysia sebagai negara bagian ke-52 Amerika.

Alim dalam cerita “Deringan Merdeka” pun menemui hal absurd di sana. Kebetulan ia semeja dengan lelaki separuh baya yang tidak dikenal. Hal-hal yang aneh terjadi setelah Alim selesai makan di meja 17. Tanpa disadarinya, Alim bergabung dalam majelis salat berjamaah isya sebagai imam, lantas lanjut itikaf, menunaikan salat tengah malam, bahkan kembali menjadi imam salat berjamaah subuh. Padahal di tempat itu tidak ada surau!

Nilai tradisional terlihat pada cerita “Anggur”. Biasanya anggur adalah buah yang mewakili orang kaya, namun pada cerita ini anggur bisa berarti pengangguran. Ada kontras yang berusaha dipertentangkan pengarang. Amri yang muda, pengangguran, yatim piatu, namun kaya raya karena memiliki warisan uang, dipertentangkan dengan Leman seorang pegawai kerajaan dengan status sosial yang lebih tinggi dibanding Amri. Cerita diakhiri dengan kalimat, “Terlopong mulut Leman. Hahahahaha.”

Terlopong” adalah jawaban yang mewakili Leman, sang golongan tua bahwa pemuda yang disepelekannya karena kemalasannya ternyata berasal dari keturunan kaya raya. Sedangkan “hahahahaha” adalah jawaban yang mewakili golongan muda yang bangga bahwa masa depan berada di bawah kekuasaan uang.

Unsur tradisional juga dipakai pengarang dengan cara menarik benang merah antara fabel Melayu dengan realita dalam cerita “Adat”. Lagi-lagi ada kontras di dalamnya. Fabel yang indah dan penuh pesan moral sesungguhnya dipenuhi intrik licik, dengki, dan jahat.

Betapa kejamnya jika persahabatan antara Amri dan Amni yang dianalogikan dengan persahabatan penyu dan monyet kelak diakhiri dengan tewasnya salah satu dari mereka yang kurang cerdik mencari jalan keluar atas muslihat licik.

Cerita “Pemikiran Reversal” barangkali adalah cerminan kisah Lebai Malang yang memberikan seluruh barangnya bahkan baju dan celananya hingga telanjang. Karena bersedekah tanpa perhitungan, akhirnya Irfan dan Syima mengemis dari meja ke meja untuk membayar makanan dan minuman yang telah disantapnya.

Fanatisme ras jelas menonjol pada cerita “Darah Melayu”. Dikisahkan ras Melayu adalah ras paling unggul menghadapi penyakit kerusakan darah. Keunggulan itu bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ras Melayu selamat menghadapi penyakit mematikan tersebut. Di sisi lain, darah ras Melayu adalah sasaran pemburuan ras asing demi mendapatkan autoimun tersebut. Dilema melanda Akil. Akankah ia mengkhianati darahnya sendiri dan meraih predikat pahlawan penyelamat dunia dengan cara menikahi perempuan ras asing ataukah mempertahankan kemurnian ras Melayu dengan cara menikahi gadis Melayu?

Dekonstruksi dongeng terjadi pada cerita “Sumpahan”. Makhluk jelek atau hewan biasanya akan menjadi manusia bahkan pangeran tampan dan kaya raya ketika terlepas dari kutukan. Pengarang justru membalik inti dongeng tersebut. Setelah bebas dari kutukan, justru Putera Joe kembali ke asal menjadi makhluk buruk rupa. Jadi kutukan bermaksud supaya setidaknya bisa dua belas jam per hari menjadi manusia tampan.

Lagi-lagi pembalikan persepsi ditemukan pada cerita “Talak Cinta”. Adat Melayu mengutamakan sebuah rumah tangga tetap berdiri walaupun tanpa cinta Biasanya perceraian disebabkan karena sudah tidak mencintai. Pada cerita ini perceraian disebabkan karena cinta. Suami menceraikan istri karena menghindari istri dari tugas melelahkan merawat suami yang sakit parah. Pun istri, setelah diceraikan, memutuskan langsung menikah lagi bukan karena marah tetapi karena masih cinta. Harapannya kelak bisa kembali menikah dengan suami jika ia sudah pernah menikah dengan lelaki lain.

Nilai religius terlihat secara implisit pada cerita “Manis Masam Madu”. Maut tiba-tiba merenggut Lukman sepulang dari kenduri kecil merayakan kesembuhan Kadri. Padahal Kadri telah lama sakit, namun berhasil sembuh, sedangkan Lukman sehat. Secara implisit pengarang menunjukkan betapa malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bisa jadi seseorang yang lama sakit memiliki usia hidup yang lebih panjang daripada orang sehat. Melalui cerita ini dipaparkan juga perbedaan nasib yang bisa diubah oleh ikhtiar manusia dan takdir Allah yang mutlak tidak bisa diubah lagi.

Hal tersebut senada dengan nilai religius pada cerita “X-Umur”. Hamsi mendengar berita rusaknya detektor umur ciptaan dokter Kadri yang membuktikan kebenaran hasil eksperimennya, yaitu teori x-umur. Bisa jadi karena Hamsi terpengaruh keyakinan bahwa meja 17 adalah meja yang aneh, sehingga Hamsi berpraduga bukan mesin itu yang rusak tidak bisa mendeteksi umur Kadri melainkan memang umur Kadri sudah habis. Dokter Kadri tewas sesaat sebelum mengumumkan teorinya tentang umur manusia.

Hal yang ironis terlihat pada cerita “Cari Rezeki”. Irfan dan Syima melihat seorang ibu buta dituntun seorang remaja mengemis. Padahal hari sebelumnya, mereka melihat orang yang sama tetapi berbeda aktivitas: remaja buta dituntun ibunya mengemis. Ini sungguh memilukan. Kesenjangan sosial menciptakan orang-orang miskin dengan profesi pengemis bermental penipu, bahkan lupa memohon pada Allah agar diberikan rezeki yang halal.

Cerita “Menyamak Babi” penuh dengan nuansa keabsurdan. Sepasang pemuda unik, Or dan Ang, bisa berubah menjadi babi bila masuk rumah. Akhir yang bahagia menimpa Or yang kemudian seratus persen menjadi manusia ketika ia berperilaku sebagai manusia sejati yang berani menyatakan kebenaran. Sedangkan Ang mendapat musibah menjadi babi seratus persen manakala tidak memedulikan nuraninya sebagai manusia bahkan memikirkan muslihat mencelakakan manusia lain. Ini sungguh sindiran halus yang membuat pembaca bisa mengambil amanat, bahwa perbedaan antara babi –yang dianggap mewakili yang haram– dan manusia bukan terletak pada wujud lahiriahnya saja, tetapi juga pada perilaku yang bermoral sesuai hati nurani yang bersih.

Demikian halnya cerita “Akademi Funtusia”. Plui dan 11 orang yang ingin mati terjebak dalam permainan hidup-mati atau membunuh-dibunuh yang disiarkan ke seluruh dunia. Betapa tragis jika hidup dipertaruhkan seperti itu! Di akhir permainan, tentu saja Plui, sang tokoh utama, berhasil bertahan hidup dan memperoleh uang besar, dengan catatan ia juga pernah membunuh temannya. Setelah melalui permainan tersebut, Plui dan kawan-kawannya semakin menghargai hidup yang diberikan Tuhan dan urung bunuh diri.

Keabsurdan jelas tertulis pada epilog Meja 17! Ketika tertabrak sebuah truk, kursi-kursi patah sedangkan meja 17 bisa bangkit dan kembali ke posisi semula. Demikianlah akhir cerita dari restoran eSastera.

*

Secara keseluruhan, cerita dalam Meja 17 mudah dipahami. Hanya saja, pembaca harus membebaskan cerita bergerak sesuai kehendak pengarangnya. Tidak perlu mematutkan cerita sesuai kaidah pada umumnya. Yang penting Irwan Abu Bakar berhasil membuat cerita yang mengaduk-aduk persepsi pembaca dan berani membuat alur yang kontroversial. Barangkali hal itulah yang membuat Meja 17 banyak mendapat apresiasi khalayak, karena novel ini bisa ditafsirkan dengan luas dan beragam.

BIONARASI

Christya Dewi Eka adalah ibu rumah tangga yang berdomisili di Semarang, Indonesia. Pada tahun 2003 berhasil lulus dengan predikat lulusan terbaik Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang. Saat ini mengikuti kelas kepenulisan online Kelas Puisi Alit (KEPUL) dan Writerpreneur Academy.

DAFTAR PUSTAKA

Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Mahayana, Maman S. Bermain dengan Cerpen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006.

Mahayana, Maman S. Kitab Kritik Sastra. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia, 2015.

Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.

Selden, Raman. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991

12.

Meja 17, Der Steppenwolf, dan Spirit Optimisme

Oleh: Marwanto

Mutu karya sastra tidak ditentukan oleh tebal tipisnya buku. Memang beberapa buku tebal mendapat apresiasi internasional. Soul Mountain, novel setebal bantal karya Gao Xingjian, mengantarkan penulisnya meraih hadiah nobel sastra tahun 2000. Sebelumnya, Gabriel Garcia Marquez meraih nobel sastra di tahun 1982 lewat novel yang cukup tebal: One Hundred of Sulitude. Tapi berkat novel tipis berjudul Der Steppenwolf seorang Hermann Hesse mendapat penghargaan nobel sastra tahun 1946.

Ingatan pada Der Steppenwolf kembali muncul usai saya membaca novel Meja 17 karya Prof. Irwan Abu Bakar –sebuah novel tipis tapi sarat makna dan kejutan. Disamping karena keduanya tergolong novel yang tipis, antara Meja 17 dan Der Steppenwolf juga ada beberapa kemiripan.

Pertama, titik pijak setting pada kedua novel tersebut adalah tempat yang sederhana. Di dalam novel Der Steppenwolf, cerita berawal dari sebuah kamar penginapan. Di kamar penginapan itulah, tokoh utama Der Steppenwolf, yakni Harry Haller meninggalkan sebuah catatan yang berjudul “Nur für Verrückte” (hanya untuk orang gila). Naskah ini bercerita tentang hari-hari Harry Haller selama tinggal di penginapan yang sebagian besar merupakan pengalaman spiritual dalam mencari pembebasan seorang manusia.

Sedangkan pada novel Meja 17, titik pijak jalan cerita berawal pada sebuah restoran, tepatnya salah satu meja di restoran tersebut, yakni meja nomor 17. Di meja nomor 17 itulah tokoh-tokoh dalam novel ini diceritakan: dari saat mereka mengemukakan problem hidupnya, berkonflik, mencari solusi, hingga keluar dari jerat masalah – bahkan beberapa di antaranya menemu kebahagiaan dan kesuksesan. Pendek kata, meja nomor 17 adalah dunia dimana novel ini dibangun: sebuah ikhtiar rekonstruksi peristiwa yang unik dan menarik.

Membangun dunia dalam karya fiksi hanya dengan berangkat dari sebuah meja tentu tidaklah mudah. Namun demikian, Irwan Abu Bakar mampu mengolahnya menjadi sebuah cerita yang asyik untuk diikuti, disimak dan dikuliti maknanya. Semua tokoh dan jalan cerita ditautkan dengan meja nomor 17. Membayangkan angka ini barangkali sebagian besar pembaca akan mengaitkan dengan hal yang manis-manis, seperti dalam ungkapan sweet seventeen. Jika hal ini yang Anda lakukan, maka bersiaplah kecewa – karena beberapa bagian novel ini menikung tajam (kadang curam, kadang terjal) tak terduga.

Kemiripan kedua, ada semacam “ide gila” baik pada novel Der Steppenwolf maupun Meja 17. Ide gila pada novel Hermann Hesse adalah tentang bunuh diri yang dianggap menjadi pencapaian tertinggi untuk menjadi manusia sempurna. Dan itulah yang harus ditempuh oleh seorang Steppenwolf. Sementara ide-ide gila dalam Meja 17 adalah optimisme para tokoh dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Jadi, meski kedua novel tersebut sama-sama mengandung ide gila, tapi Der Steppenwolf menawarkan pesimisme, sementara Meja 17 lebih menggelorakan optimisme.

Optimisme dalam Meja 17 terlihat sejak awal ketika sang tokoh ditampilkan. Coba perhatikan ketika novel ini dibuka dengan tokoh Usin: pemuda usia 30-an dengan segudang problem itu tetap tertawa (“optimis”) meski pergi diangkut ambulans. Kemudian kisah antara Amri dan Amni yang sangat menginspirasi. Ketika Amri mengalami titik nadir hidupnya karena jebakan Amni, ia dengan warisan kecerdasan lokal leluhurnya ganti menjebak Amni. Lain lagi cerita tentang Magan, seorang perdana menteri yang berhasil meraih sukses dengan menaklukkan Amerika dan membawa negerinya menguasai dunia. Akhir sukses lainnya dialami pasangan Kadri – Hasriah dan Lokman – Aidah – bersama Dr. Pow mereka merayakan kembalinya Kadri ke kehidupan normal.

Memang tidak semua perjalanan tokoh dalam Meja 17 berakhir sukses. Hal ini terlihat setidaknya jika kita menyimak kisah yang dialami Dr. Kadri di bagian X-Umur – ia meninggal terserang stroke berkat uji coba x-tron. Tapi tiupan optimisme dalam novel Meja 17 ini tetap lebih menonjol optimisme daripada pesimisme. Hal ini ditekankan pada bagian epilog novel Meja 17, coba simak baik-baik:

“Tiba-tiba sebuah lori dengan lajunya menyusuri jalan di tepi restoran itu, hilang kawalan, terbabas, dan terus melencong masuk ke dalam restoran! Lori itu merempuh meja 17. Meja itu serta empat buah kerusi di kelilingnya patah ranap! Tamatlah riwayat hidup sebuah meja di sebuah restoran di pinggir bandar di sebuah kota. Meja bernombor 17 terpelanting bangun dan kembali ke kedudukan asalnya.”

Kalimat terakhir sangat jelas menunjukkan optimisme: meski terpelanting meja itu bangun lagi pada kedudukan asalnya.

Terkait gaya bahasa yang digunakan, narasi yang dibangun novel Meja 17 cenderung bersahaja. Tidak banyak diliputi metafora agar novel ini terkesan estetik. Kelugasan Irwan Abu Abakar dalam bertutur di novelnya ini terasa tepat untuk menyampaikan optimisme. Pembaca langsung digedor dengan bahasa yang kuat dan lugas, tidak lembek dan penuh metafora. Di sini terlihat kecerdasan seorang Irwan Abu Bakar: ia tak mau mengajak pembaca mendayu-dayu, dan akhirnya terlena dengan pesan yang hendak disampaikan. Irwan lebih mengajak pembaca untuk berkerut keningnya sepanjang cerita agar pembaca selalu “waspada” dan tidak membiarkan otak pembaca istirahat. Pendek kata, membaca novel ini otak kita harus tetap bekerja!

Optimisme yang dibangun Irwan dalam novelnya ini sangat peting ditanamkan pada para pembaca dalam situasi dunia yang sekarang sedang dilanda wabah atau pandemi. Sebab optimisme adalah salah satu sikap yang akan meningkatkan imunitas pada diri seseorang. Dan optimisme yang disuarakan Irwan Abu Bakar dengan kelugasan bahasa ungkap akan dapat dicerna dengan mudah oleh mayoritas pembaca sastra. Sehingga, mencerna dan menikmati novel ini tidak
semata berwisata pada bahasa ungkap yang digunakan, tapi lebih pada wisata gagasan besar yang diusung dan optimisme yang digelorakan.***

Yogyakarta, Juli 2021.

=====
Marwanto S.Sos., M.Si, sastrawan dan pegiat literasi yang lahir dan tinggal di Yogyakarta Indonesia. Menekuni dunia menulis sejak 1992, pernah menjadi Pemimpin Umum Visi majalah Fisip UNS Solo. Sejumlah tulisannya berupa opini, esai, puisi, dan cerpen sudah dimuat media lokal dan nasional, baik koran (Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Suara Karya, Suara Merdeka, Harian Jogja, Bernas, Solo Pos, Pikiran Rakyat, Mercusuar), majalah (Gatra, Gong, Syir‟ah, Suara KPU RI, Suara Hidayatullah, Hai, Bakti, Binangun, Mata Jendela, Pagagan), tabloid (Adil) buletin (Ikhtilaf, Lontar, Pawon) maupun media online (basabasi.id, detikcom, cendananews, lensasastra.id, times.indonesia, dll). Setamat kuliah ia mendirikan komunitas Lumbung Aksara (sejak 2006), menjadi pengurus Dewan Kebudayaan Kulonprogo DIY (2010-sekarang), mengetuai Forum Sastra-Teater Kulonprogo DIY (2015-sekarang), dan membina komunitas Sastra-Ku (2019- sekarang). Bukunya yang pernah ditulis: Kado Kemenangan (cerpen, 2016), Demokrasi Kerumunan (esai, 2018), Hujan Telah Jadi Logam (cerpen, 2019), BYAR: Membaca Tanda Menulis Budaya (esai, 2019) dan Menaksir Waktu (puisi, 2021). Puisinya yang berjudul “Celengan Jago Warisan Ibu” meraih juara pertama pada even Pekan Literasi Bank Indonesia 2020. Karyanya dari beragam genre juga masuk di sekitar 40 buku antologi bersama.

Alamat penulis:

Wisma Aksara, Jalan Kiai Bathok Bolu Maesan III Wahyuharjo Lendah Kulonprogo Yogyakarta INDONESIA (kode pos: 55663). Nomor WA: 08175460569. Email: markbyar@yahoo.com.
Facebook: Marwanto (Marwan bin Muh Syamsi).

15.07.2021. Salam…. Berikut nomor rekening saya: 6938-01-020691-53-1 atas nama Marwanto S.Sos di BRI.
Maaf Prof Irwan, kalau boleh tahu para pemenang lomba diumumkan di link/web apa ya ?
Terimakasih.
Marwanto S.Sos, M.Si

13.

Sayembara ESVA-1000
Oleh: SULFIZA ARISKA, Indonesia

Novel Meja 17: Karya Sastra yang Merdeka

Novel Meja 17 merupakan karya sastra yang merdeka. Tidak hanya teknik penulisan yang merdeka dari ‘kanon sastra’, tetapi Meja 17 juga merdeka dari teknik pembacaan teks konvensional. Inilah salah satu karya sastra yang ‘wajib baca’ bagi masyarakat di seluruh penjuru dunia!

Sebagai pencipta Meja 17, Irwan Abu Bakar melakukan berbagai inovasi penulisan teks karya sastra yang masih jarang ditempuh mayoritas penulis karya sastra kontemporer khususnya di Asia. Melalui ‘Meja 17’, Irwan Abu Bakar menghadirkan kisah-kisah yang bersumber dari mitos, sejarah, dunia siber, metafisika, spiritualitas, gangguan jiwa, krisis eksistensi manusia, isu-isu kontemporer, percintaan, nasionalisme, politik global, absurditas, gagasan-gagasan futuristik, hingga sains dan teknologi modern. Sinergi sumber-sumber tersebut menjadikan ‘Meja 17’ akan selalu kontekstual di seluruh zaman.

Bila kita visualisasikan dalam wujud makanan, 17+1 kisah dalam novel ‘Meja 17’ bagaikan 17+1 jenis masakan yang dihidangkan di ‘meja dengan nomor 17’. Masing-masing bab terdiri atas kisah-kisah yang memiliki keberagaman yang luar biasa. Keberagaman tersebut terikat secara simbolik dengan keberadaan meja 17 (meja bernomor tujuh belas) yang hadir dalam keseluruhan kisah.

Pembaca bisa menikmati 17+1 masakan di Meja 17 tersebut dengan tiga cara: (1) membaca Meja 17 seperti menyantap ‘satu jenis’ makanan baru yang dihasilkan dari perpaduan ‘17+1 jenis masakan’; (2) membaca masing-masing bab seperti menyantap satu demi satu jenis makanan dari ‘17+1 jenis’ yang belum dicampur dan mempertahankan ‘17+1 jenis’ cita-rasa ‘asli’ setiap masakan; (3) membaca Meja 17 seperti menikmati banyak jenis makanan yang berasal dari gabungan beberapa jenis masakan (tidak keseluruhan) dari ‘dua atau lebih dari 17+1 jenis masakan’ yang dilakukan secara berulang-ulang dan menghasilkan lebih beragam cita rasa baru.

Selain membaca sendiri (membaca tunggal), pembacaan Meja 17 bisa dilakukan dua pembaca. Lalu, para pembaca bisa mendiskusikan hasil pembacaan masing-masing. Bila upaya ini dilakukan, hasil membaca akan jauh lebih kaya. Hal ini disebabkan kisah-kisah yang membangun Meja 17 memiliki kecenderungan multitafsir atau ketiadaan tafsir tunggal. Kecenderungan mutitafsir menjadikan Meja 17 memiliki daya pikat yang luar biasa, sehingga menarik untuk dijadikan sebagai bahan riset karya sastra dari perspektif keilmuan yang bersifat interdisiplin.

Kecenderungan multitafsir bisa kita cermati pada bab ke-8 berjudul Darah Melayu. Bab ini mengisahkan tentang keunggulan ‘darah melayu’ yang ampuh dijadikan sebagai penyelamat umat manusia di seluruh dunia dari ‘pandemi’ ABCD. Keunggulan ‘darah melayu’ meningkatkan martabat bangsa Melayu. Pernikahan bangsa-bangsa lain dengan orang-orang yang memiliki darah Melayu terbukti ampuh untuk meningkatkan kesehatan, daya tahan tubuh, dan terhindar dari penyakit yang disebarkan pandemi ABCD. Upaya penyelamatan dunia tersebut menimbulkan konsekwensi: ancaman kepunahan ‘darah Melayu murni’ yang dihasilkan perkawinan antarsesama pemilik ‘darah Melayu’. Kisah tersebut ditutup kebimbangan tokoh bernama ‘Akil’ antara menyelamatkan dunia dengan cara kawin dengan bangsa lain atau kawin dengan gadis Melayu untuk mengekalkan kewujudan ‘darah Melayu’ yang tulen.

Dalam kisah ‘Darah Melayu’ terdapat ‘sekurang-kurangnya’ tiga tafsir. Pembaca boleh saja menafsirkan bahwa upaya penyelamatan dunia semestinya dipilih tokoh Akil. Pembaca boleh saja menafsirkan bahwa tokoh Akil semestinya kawin dengan gadis Melayu untuk mencegah kepunahan ‘darah Melayu’. Bahkan, pembaca boleh saja menafsirkan bahwa ‘kebimbangan’ tokoh Akil sebagai sejenis ‘gangguan kejiwaan’ yang membuat seseorang sulit menentukan keputusan.

Secara keseluruhan, Irwan Abu Bakar menulis Meja 17 dengan menggunakan bahasa Melayu-Malaysia yang banyak menyerap kosakata bahasa Inggris, baik berupa kosakata asli secara gramatikal atau transformasi linguistik kosakata bahasa inggris ke dalam pembacaan (lafal) bahasa Melayu—seperti handsome menjadi hensem (halaman 36). Gugusan narasi yang dibangun bahasa Melayu-Malaysia tersebut kadang-kadang terselip kosakata yang lazim digunakan di negara lain tetapi tidak lazim digunakan di negara Malaysia—seperti ‘tiga likur’ (halaman 35) yang berarti ‘dua puluh tiga’ (23) dari bahasa Jawa di Indonesia. Kecenderungan tersebut berpotensi besar timbul karena bahasa Melayu memiliki daya resonansi yang tinggi, fleksibel, luwes, dan inovatif. Kecenderungan tersebut juga meneguhkan bahwa Meja 17 dikembangkan dengan sentuhan eksperimental yang menjadi ciri khas karya sastra posmodern. Upaya pengadopsian kosakata (istilah) dari luar bahasa Melayu-Malaysia dalam Meja 17 mengindikasikan Irwan Abu Bakar merupakan sosok sastrawan yang memiliki tingkat kosmopolit yang tinggi dan telah menempatkan eksistensi dirinya sebagai ‘warga dunia’.

Oleh sebab itu, pembaca Meja 17 dari bahasa asli memang perlu memiliki wawasan yang sangat luas dalam perkembangan bahasa kontemporer dari rumpun Melayu. Tanpa wawasan yang luas dalam bahasa, pembaca akan sulit untuk memahami narasi Meja 17 yang mengandung berbagai eksperimen linguistik khususnya dalam penulisan kreatif. Pembacaan dalam bentuk kelompok (komunitas) yang dikukuhkan dengan diskusi akan membantu upaya memahami narasi Meja 17.

Meja 17 diterbitkan pertama kali pada tahun 2018. Sambutan masyarakat baca yang luar biasa menuntun Meja 17 untuk terus menerus naik cetak. Bila digabungkan penerbitan dalam format digital, Meja 17 telah naik cetak sampai lima kali pada 2021. Bila terdapat peluang untuk penerbitan untuk periode naik cetakan selanjutnya, sebaiknya Meja 17 dibenahi dalam ‘editing’ dan penyuntingan ulang.

Hal itu disebabkan gugusan narasi Meja 17 banyak yang dibangun kalimat yang menjuntai panjang. Kalimat-kalimat yang terlalu panjang tersebut berpotensi besar menciptakan distraksi yang sangat kuat dalam pembacaan. Pembaca menjadi cepat lelah, bosan, atau kehilangan minat untuk membaca teks secara utuh. Meskipun berpotensi besar membuat Meja 17 kehilangan orijinalitas dari naskah awal; upaya pembenahan tersebut akan memperluas jangkauan pembaca, memperkuat daya magis teks; serta memudahkan penerjemahan ke dalam bahasa-bahasa negara lain.

Selain itu, sebaiknya inovasi Meja 17 ‘tidak mati’ atau terhenti pada dunia yang diciptakan teks seni sastra semata, tetapi juga bisa menerobos bidang seni lainnya. Beberapa kisah mengandung daya dramatis yang luar biasa dan sangat tepat untuk dikembangkan ke dalam bentuk seni suara (podcast), audiobook, seni peran (drama/teater), sinematografi (film), seni rupa (lukisan/novel grafis/komik strip), dan cabang seni lainnya. Daya multitafsir dalam teks sastra Meja 17 akan menjadi katalisator transformasi tersebut. Transformasi teks dalam seni sastra ke dalam bidang seni lainnya akan memperluas daya resonansi Meja 17 dan jangkauan penikmat seni.

Transformasi tersebut sangat penting untuk dilakukan. Bukan sekadar menjadikan Meja 17 sebagai karya sastra mutakhir yang populer, tetapi agar nilai moral atau budi pekerti Meja 17 bisa memperkaya jiwa dan menginspirasi lebih banyak insan—tidak hanya insan ‘pembaca teks novel’ semata.

Tahniah untuk Irwan Abu Bakar yang telah berhasil menghasilkan ‘kebaruan’ yang ‘ajaib’ dalam khazanah sastra dunia khususnya di Asia. Tidak hanya bangsa Malaysia, tetapi seluruh bangsa di dunia layak untuk bangga pada kehadiran novel Meja 17. Novel Meja 17 akan menjadi sebuah karya sastra yang tidak lekang oleh waktu dan perubahan zaman.

14.

IDENTITAS MELAYU DAN KRITIK MANUSIA MODERN:
PEMBACAAN HOLISTIK NOVEL MEJA 17 KARYA IRWAN ABU BAKAR

Oleh: Dimas Indiana Senja, Indonesia.

Sebuah Perkenalan
Secara umum, novel ini merupakan berntuk novel realis, novel yang mengisahkan sesuatu yang empiris dan kerap terjadi di masyarakat. Hal ini mengamini pendapat Prof Faruk dalam bukunya “Politik dan Poetik dalam Sastra dan Film”, bahwa secara filosofis realisme terkait dengan penemuan empirisme, dunia pengalaman, yang juga menjadi asas dari ilmu pengetahuan modern. Irwan Abu Bakar tentu menyusun novel ini berdasarkan pada pengamatannya terhadap fenomena kehidupan. Sebab, dalam novel, kehidupan keseharian ditampilkan dan dipahami sebagai sesuatu yang wajar, bukan sebagai kehidupan yang rendah atau karikatural.

18 cerita dalam novel ini sebenarnya berdiri sendiri-sendiri sebagai sebuah cerita yang utuh, namun dengan sangat cerdas Irwan Abu Bakar membuat sebuah benang merah agar cerita-cerita itu mempunyai satu kesatuan setting tempat, yaitu meja 17 di Restoran eSastera. Sebuah setting imaji yang keberadaannya terasa begitu nyata. Irwan Abu Bakar menjadikan meja sebagai sebuah pintu menuju keterhubungan satu cerita dengan cerita lainnya, untuk itulah, Irwan Abu Bakar menamakan novelnya dengan “sebuah novel antiplot”.

Keberanian Irwan Abu Bakar perlu diapresiasi, lantaran belum banyak sasterawan Malaysia yang mencoba membuat novel eksperimental. Saya menyebut demikian, lantaran dengan kesadaran penuh Irwan menyajikan sebuah novel tanpa plot. Namun, jika pembaca menelaah dengan teliti, ada sebuah keterhubungan yang unik dan menarik. Irwan selalu bisa menghadirkan meja 17 di semua cerita, dan menjadikannya tidak sekadar tempelan semata, melainkan sebuah simbol sarat makna yang mampu mengajak pembaca melintasi ruang dan waktu. Meja, dihadirkan sebagai saksi atas pelbagai peristiwa yang ditangkap oleh indera Irwan Abu Bakar. Meja menjadi benda multidimensi, yang mampu hadir di cerita-cerita yang berbeda.


Identitas Melayu
Dalam artikel berjudul “Glokalisasi Identitas Melayu: Potensi dan Tantangan Budaya dalam Reproduksi Kemelayuan”, Irwan Abdullah mengatakan bahwa Melayu seringkali merupakan masa lalu yang kejayaannya dikenang bukan dirayakan pada masa kini sebagai pedoman kehidupan bersama yang terus hidup. Pernyataannya ini berangkat dari keprihatinan lantaran Melayu telah menjadi suatu etnis yang kurang strategis secara sosial politik, bahkan kultural, atas alasan-alasan yang perlu dikaji secara seksama. Padahal dengan melihat pada kejayaannya di masa lalu, Melayu memiliki bekal yang pantas untuk hari ini tampil sebagai tradisi besar (great tradition). Fakta memperlihatkan lain bahwa identitas Melayu memudar sejalan dengan perkembangan jaman.
Melalui novel ini, Irwan Abu Bakar berusaha mengetengahkan pembahasan ikhwal identitas Melayu. Sebagai etnis yang besar dan memiliki akar sejarah yang panjang, identitas Melayu seyogyanya menjadi acuan dari pergulatan suatu etnis dalam lingkungan strategis yang terus berubah. Orang Melayu tersebar luas di Indonesia, Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina, bahkan Myanmar, Taiwan, dan Madagaskar. Demikian pula bangsa Melayu sudah lahir sejak 683 Masehi sebagaimana dapat dilihat dengan adanya Batu Bersurat Kedukan Bukit dan dikuatkan dengan Batu Bersurat Talang Tuwo (684M) dan berbagai catatan arkeologis yang menegaskan kehadiran Melayu Purba (Sutherland, 2001).

Dalam BAB “Darah Melayu” (hal 41), Irwan dengan sangat jelas, mencoba mengenalkan identitas masyarakat Melayu. Irwan mengisahkan mengenai kemunculan penyakit acute blood cells decay (ABCD) yang menjangkit hampir seluruh belahan dunia. Berita itu terus saja beranakpinak menjadi ketakutan. Sebab penyakit ini bukan saja membunuh individu. Bukan saja membunuh bangsa. Bukan saja membunuh warga negara. Penyakit ini sedang membunuh seluruh umat manusia. (hal 42).
Setelah diteliti oleh peneliti WHO, ditemukan sebuah penemuan aneh: tidak ada orang Melayu yang diserang ABCD! Berita tentang etnis Melayu yang kuat terhadap penyakir ABCD ini lekas menyebar ke seluruh antero dunia. Irwan Abu Bakar dengan sangat baik memasukkan sebuah pesan bahwa etnis Melayu memiliki kekhasan daripada etnis lain di dunia ini, yang digambarkan melalui novel ini sebagai etnis yang bisa bertahan dari serangan keganasan penyakit ABCD. Bahkan, darah etnis Melayu menjadi sedemikian berharga. Darah orang Melayu menjadi sangat tinggi harganya. Satu centimeter kubik bisa dijual dengan harga ribuan euro.

Bahkan para peneliti menganjurkan untuk melakukan transfusi darah dari orang Melayu kepada tubuh bangsa asing. Bahkan fenomena itu menimbulkan chaos lantaran banyak negara yang berebut untuk mendapatkan darah orang Melayu. Transfusi darah ini tidak semata persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan politik. Ketika praktik transfusi dirasa tidak cukup, bahkan fenomena menikahkan orang Melayu dengan bangsa lain pun menjadi sebuah trend tersendiri. Tentu, demi keberlangsungan hidup bangsa-bangsa yang menjadi korban ABCD.

“Darah” dalam konteks ini adalah sebuah simbol dari kekuatan genetik yang dimiliki oleh etnis Melayu. Sebuah kekayaan kultural yang sebenarnya sangat potensial yang dimiliki oleh etnis Melayu. Sehingga, patutlah, kata Hang Tuah, tidak ada Melayu hilang di dunia (hal 49).

Kritik Manusia Modern
Irwan Abu Bakar, melalui kisah-kisah dalam novel ini, menghadirkan banyak sekali ironi dalam kehidupan masyarakat modern. Masyarakat yang mulai teralienasi dengan dirinya sendiri, dengan kegalauan eksistensi yang sangat kentara. Misalnya, pada Bab I bertajuk “Gila”, sebenarnya merupakan kritik bahkan autokritik terhadap manusia modern yang cenderung “gila” oleh dinamika zaman yang terus bergulir yang menyisakan ironi dan kengerian.

Pada Bab 2, sebuah realita masyarakat, di mana kelas sosial ditentukan oleh harta dan kekayaan. Ini adalah cerminan masyarakat modern yang terjebak pada pola pemikiran kapitalisme. Pada Bab 3, tentang dua orang sahabat yang “saling memakan” atau saling mengancam eksistensi satu sama lain, hanya untuk menuruti kebutuhannya sendiri. Sebagaimana galib diketahui, individualisme adalah ciri khas manusia modern. Pada BAB 7 bertajuk “Mencari Rezeki” yang masih ada keterkaitan dengan BAB 16 Pemikiran Reversal, merupakan representasi dari hilangnya rasa malu manusia modern. Apapun dilakukan agar ia bisa bertahan hidup, meski dengan cara berbohong dan menipu. Pada BAB 9 bertajuk “Kutukan”, memperlihatkan negosiasi antara hakim dengan penguasa, di mana hukuman ternyata masih bisa ditawar. Hal ini adalah realita yang sangat dekat dengan manusia modern saat ini, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Bahkan di bab 15 adalah sebuah diorama kehidupan mengenai cara memertahankan kehidupan manusia modern, yakni dengan menyakiti dan membunuh orang lain atau liyan.

Puncaknya adalah Bab 14 bertajuk “Menyamak Babi”, sebuah kisah yang sangat ironis. Mengenai dua orang sahabat yang sama-sama memiliki dua tubuh, menjadi manusia saat melakukan pencitraan di luar, dan menjadi babi saat berkubang di kamar. Bab ini menjadi cerminan realita masa kini mengenai seseorang yang serakah dan terjebak pada kenikmatan duniawi, hingga direpresentasikan sebagai sosok babi. Sebagaimana kita ketahui, babi adalah hewan paling kotor dan jorok. Betapa tidak, ia bahkan akan memakan kotorannya sendiri saat ia merasa lapar.
Perumpamaan itu mengingatkan kita pada kritik Erich Fromm terhadap manusia modern,
Makan, minum, prokreasi tentu saja juga merupakan fungsi-fungsi asli manusia. Tetapi, ketika fungsi-fungsi itu diamati sendiri-sendiri, di luar lingkungan aktivtas lain manusia, dan jika fungsi-fungsi itu dijadikan tujuan pungkasan dan satu-satunya, maka fungsi-fungsi itu adalah fungsi-fungsi binatang. (2020: 161)

Penutup
Membaca novel ini, kita akan diyakinkan bahwa novel bisa menjadikan manusia merasa ironis, tertanam sesuatu yang gelap dan mengerkan, suatu firasat dan melankolis, meskipun terkadang juga membentuk diri yang lain, yaitu humanis, kritis, dan sedikit berintelektual. Kesemua itu telah dibentuk oleh Irwan Abu Bakar menjadi sebuah cerita yang unik dan menarik. Gaya khas dalam novel ini adalah Irwan Abu Bakar senantiasa memutar konsep waktu sebagai sesuatu yang tidak mudah ditebak. Irwan Abu Bakar membolak-balikkan alur penceritaan dengan tetap menjaga keutuhan dan logika cerita.

Halaman Indonesia, 2021.

Referensi

Abdullah, Irwan. 2017. “Glokalisasi Identitas Melayu: Potensi dan Tantangan Budaya dalam Reproduksi Kemelayuan”, MANHAJ: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Vol 6, No 2.

Fromm, Erich. 2020. Gagasan Tentang Manusia. Yogyakarta: Ircisod.

Prof Faruk. 2021. Politik dan Poetik dalam Sastra dan Film. Yogyakarta: Penerbit JBS.

Sarjono, Agus R, dkk (editor). 2017. South East Asia Literary and Cultural Rendezvous. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Sarjono, Agus R, dkk. 2003. Sastra Kota, Yogyakarta: Bentang Budaya.

Shamsul A.B. 2001. “A History of an Identity, an Identity of a History: The Idea and Practice of ‘Malayness’ in Malaysia Reconsidered”, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3.

Sutherland, Heather. 2001. “The Makassar Malays: Adaptation and Identity”, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 32, No. 3.

15. (Tulisan Undangan)

Hidangan Kehidupan di “Meja 17”

Oleh: Yo Sugianto, Jogjakarta, Indonesia*

Irwan Abu Bakar terbilang sosok multidimensi. Ia seorang sastrawan, dan seorang profesor di Departemen Rekayasa Biomedia, Fakultas teknik, University Malaya, Kuala Lumpur. Disiplin ilmunya adalah Biomekanik dan Mekanik Jaringan lulusan (Mechanical Engineering) dari Technical College, Kuala Lumpur (kini Universiti Teknologi Malaysia UTM).

Gelar lainnya, Bachelor of Secnience (Mechanical Engineering) dan PhD (Bio-Engineering diraihnya dari University of Stratclyed, Glasgow, Skotlandia.

Namun di kalangan dunia sastra ia dikenal sebagai penyair , novelis dan cerpenis. Dari tangannya telah lahir ratusan, mungkin lebih dari seribu puisi. Tak hanya tersebar di berbagai media massa, majalah tapi juga sudah dibukukukan. Salah satu kumpulan puisinya terhimpun dalam “Peneroka Malam”, yang uniknya sebanyak 25 puisi di buku terbitan E Sastra Management Enterprise (EsMe) itu diulas oleh para penyair Indonesia.

Novel anti plot “Meja 17” menjadi karya Prof. Irwan, begitu sapaan akrabnya, yang cukup menyita perhatian. Tak hanya diterbitkan di Indonesia (pada 2014 oleh EsMe), tapi juga dijadikan topik utama “Seminar Internasional Sastra Indonesia-Malaysia”pada 11 November 2014 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Sastrawan ternama Malaysia, Lim Swe Tien menjadi salah satu penyaji makalah di seminar itu.

Ada 18 cerita, dengan bab ke-18 sebagai tambahan sebuah cerita lagi (bab 17+1) untuk versi bahasa Indonesia.

Sedari awal, pembaca sudah digiring ke lokasi Meja 17 yang berada di sebuah tempat bernama ‘Restoran eSastera.’Meja itu merupakan meja keempat dari meja kasir – sebuah meja dengan empat kursi yang menjadi saksi berbagai peristiwa, dan tingkah laku para pengunjung restoran itu.

Di restoran tersaji hidangan yang beragam, dengan teh tarik dan roti canai yang sering dimunculkan dalam berbagai peristiwa novel ini. Kemudian, teh panas, milo panas, roti kosong, air mineral, dan Kopi Jantan. Sementara makanan yang ada adalah mi udang, anggur, roti telur, ayam panggang, dan satai.

Meja itu seakan-akan ‘keramat’, karena si tokoh yang berganti-ganti akan berhadapan dengan pengalaman-pengalaman misterius. Secara perlahan, dan cantik, Prof. Irwan menggiring pembaca untuk masuk ke sebuah tempat, seperti menyusuri sebuah terowongan yang sulit ditebak kemana arahnya. Tak heran jika disebut sebagai meja yang dihindari oleh pelanggan. Konon ia berhantu, berpenunggu.

“Meja 17” menunjukkan bagaimana Prof.Irwan memang seorang penulis yang benar-benar matang dalam berpikir dan mengolah kata-kata. Ia juga tak meninggalkan budaya Melayu yang ada pada dirinya, yang diusung dengan jelas dalam semua cerpennya. Bertahun ia hidup di Skotlandia, dan juga sudah berkunjung ke berbagai negara di luar Asia, Prof. Irwan tetap seorang Melayu yang tak melupakan akar budayanya.

Novel antiplot ini terdiri atas 18 bab atau episode yang masing-masing bertajuk : Gila, Anggur, Adat, Adalah Dia, Tuan Presiden, Asam Manis Madu, Mencari Rezeki, Darah Melayu, Kutukan, X-Usia, Talak Cinta, Deringan Merdeka, Usia, Menyamak Babi, Fun + Usia, Pemikiran Reversal, Padam dan Wawancara.

Ke-18 bab itu berisikan 18 cerita dan watak yang berbeda. Bisa kita baca dalam beberapa cerita di situ. Semisal pada “Gila” (bab 1), “Darah Melayu” (bab 8) dan “Usia” (bab 13). Ketiganya itu punya alur cerita yang berlainan.

Terdapat 39 karakter baik yang penting dan kurang penting yang menjadi pendukung berbagai kisah dan peristiwa di novel ini. Kesemua karakter itu tidak saling bertautan antara satu sama lain.

Hal itu menjadikan setiap bab secara relatif mempunyai cerita yang sama sekali berbeda, tiada satu pun yang menjadi urutan atau lanjutan kepada cerita yang sebelumnya. Saat membaca satu bab, tak akan ditemui kelanjutannya pada bab berikutnya.

Pada kisah “Darah Melayu” Prof. Irwan tak hanya bertutur tentang siuasi dunia yang gawat dengan berbagai musibah, seperti halnya pandemi Covid-19 saat ini. Ia dengan lantang menampilkan kebanggaannya sebagai bangsa Melayu. Hanya darah Melayu yang mampu menyelamatkan mereka.

Namun, restoran itu tak sekedar tempat singgah dan menjadi arena berbagai persitiwa. Dalam 18 cerita yang berbeda, termasuk juga karakter di dalamnya, terkait langsung maupun tidak langsung dengan sebuah meja di restoran itu : Meja 17.

Semua watak itu punya perjalanan hidupnya masing-masing, rencana hidup yang tergantung kepada keputusan Tuhan untuk terwujud atau menjadi sia-sia. Mereka juga menghadapi tantangan yang berbeda, kadang ada yang sama dengan beda rentang waktu dan peristiwa. Takdir pada masing-masing watak yang ditampilkan dengan apiknya di “Meja 17”.

Jika dicermati, secara umum meja bernomor 17 itu seperti menyandang tugas dan peran yang secara menarik disodorkan oleh Prof.Irwan. Berbagai peristiwa yang aneh atau misterius sering hadir di meja itu.

Namun bukan itu yang jadi tujuan sang penulis, karena ia memang tak menyajikan menu misterius atau hal gaib. Pembaca diajak tersenyum, bahkan tertawa saat menyimak berbagai tingkah manusia di meja itu.

Meja 17 tetap sebuah meja, sama halnya di restoran manapun, entah itu mewah atau biasa saja. Namun penulis membuatnya menjadi istimewa karena dari situ muncul berbagai peristiwa, beragam manusia dengan watak dan tingkahnya. Bukankah itu sebenarnya cerminan atau refleksi kita juga sebagai pembaca?

“Meja 17” disajikan dengan bahasa yang khas Prof. Irwan, dengan tetap menjaga kesantunan tapi kritik yang disampaikannya menggelitik. Bahkan jika disimak lebih mendalam terasa menggigit.
Hal itu bisa dilihat pada salah satu cerita yang menarik minat saya yakni “Menyamak Babi”. Di situ ditampilkan dua tokoh yang merupakan sahaba bernama “Or” dan “Ang”. “Or’ seorang penulis, sedangkan “Ang” adalah politisi.

Keduanya saling melengkapi. Sebagai tokoh politik “Ang” membutuhkan pemikiran “Or” lewat tulisan-tulisannya. Jelas keduanya punya dunia berlainan. “Ang” butuh publikasi dan simpati masyarakat yang akan dan telah memilihnya.Sedangkan “Or” mencoba menyajikan analisa terkait dengan situasi politik terbaru.

Namun, perbedaan itu menghilang saat keduanya pulang ke rumah. Mereka menjadi babi, sehingga nama merekapun berganti : Or mendi “Ba”, dan Ang dipanggil “Bi”. Keduanya juga berkubang dan makan di tempat yang sama.

Namun hubungan mereka retak ketika terjadi penggusuran pemukuman kumuh di Gang Serabut, yang akan diubah menjadi mall. “Or” menentang hal itu, tindakan yang dilakukan oleh “Ang” untuk meraup keuntungan jutaan ringgit. “Or” menuliskan keberpihakannya kepada kaum miskin itu di meja 17.

Konflik dua sahabat itu makin meruncing. Saat berdebat di Meja “Or” sampai menggebrak meja. “Ang” juga tak mau kalah, karena merasa di dunia politik yang ada adalah “Membunuh atau dibunuh.”

Akhirnya keadaan semakin tak terkendali. “Or” merasa jijik dengan perbuatan sahabatnya yang tega melenyapkan perempuan simpanannya sendiri. Mayat perempuan itu ditemukan terapung di sungai di sisi kota dalam keadaan yang amat mengenaskan.

Prof.Irwan memberikan ending menawan dalam cerita itu. “Or” sudah tidak berubah menjadi babi lagi saat masuk ke dalam rumah, sedangkan Ang selamanya menjadi babi walaupun di luar rumah.
Meskipun novel anti plot itu ditulis oleh Prof.Irwan hampir sepuluh tahun lalu, namun kesemuanya memiliki dimensi yang lebih luas dan masih relevan dengan kondisi saat ini. Realita yang gamblang di depan mata untuk dikunyah dengan pahit, atau sekedar bisik-bisik di sudut kedai sambil menikmati teh tarik.

Hal ini tak terlepas dari kedalaman berpikir seorang Prof.Irwan. Setiap persoalan bisa ia sajikan dengan menarik, tanpa kesan menggurui atau hanya sepotong-potong.

“Meja 17” menorehkan sejarah tersendiri menjadi buku sastrawan Malaysia yang diterbitkan dan diedarkan di Indonesia. Ini menjadi silahturami sastra yang patut ditiru penulis Malaysia lainnya. Pembaca di Indonesia akan lebih mengenal nama-nama penulis Malaysia, baik yang sudah terkenal maupun belum di negara serumpun itu.

Meski begitu, tentu ada kendala yang cukup mengganggu yakni penggunaan istilah sehari-hari yang tentu berbeda dari kedua negara. Namun, hal itu bisa diatasi dengan adanya lembaran tersendiri tentang istilah tersebut, seperti halnya dalam “Meja 17”. Tentunya dibutuhkan kesabaran tersendiri untuk mengerti istilah itu dengan menengok halaman tersebut.

Identitas Buku
Judul : Meja 17
Penulis : Irwan Abu Bakar
No. ISBN : 9786027100800
Penerbit : E Sastra Management Enterprise
Tanggal Terbit : Cetakan Pertama– November 2014
Tebal Buku: viii + 156 halaman

*Penulis adalah penikmat sastra, sehari-hari bekerja sebagai karyawan, menulis puisi dan artikel.

KEPUTUSAN (9.07.2021)

Sayembara ESVA-1000. Mengulas novel Meja 17. Keputusan:

Galeri Sha Banknote: DUIT RM 1000 MALAYSIA 1967 - 1998

Nota. Banyak ulasan yang bagus-bagus. Hakim cuba membuat keputusan terbaik.

Ke-1. RM1000: Putraery Ussin. (PAID 10.07.2021 11:38:24).
Ke-2. RM600: Marwan Sham. (Paid = Rois).
Ke-3. RM100: Dimas Indiana Senja. (Paid = Rois).

Tahniah kepada para pemenang. Yang tidak berjaya, cuba lagi dalam sayembara akan datang.

TAMAT.

Senarai Sayembara ESVA: Klik SINI.