Laporan Khas e-Sua Gaksa oleh Hanif Farhan

“E-Sua Gaksa” sebagai program baru menerusi program sebelumnya, yakni “Malam Sastra Asia Tenggara” yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting pada malam Sabtu, 10 Desember 2021, menghadirkan dua pembicara dari dua negara dan dua generasi berbeda, yakni Prof. Dr. Irwan Abu Bakar (Malaysia) dan Shiny Ane El’poesya (Indonesia). Ferdiyan Ananta, bertindak sebagai moderator.

Irwan Abu Bakar adalah Presiden Persatuan Aktivis Esastera Malaysia sekaligus presiden Gabungan Komunitas Sastra ASEAN, Gaksa. Karya dan kiprahnya di wilayah Asia Tenggara tidak saja melahirkan karya-karya sastra dengan nuansa saintis sesuai dengan latar belakang keilmuannya, melainkan juga melahirkan pergerakan persahabatan antarsastrawan di Asia Tenggara melalui berbagai kegiatan dan pembentukan komunitas sastra lintas negara. Ia merupakan pendorong utama atas berdirinya Rumah Sastra ASEAN di Cilegon, Banten dan penerbitan-penerbitan karya sastra antarbangsa, yakni karya-karya yang ditulis dengan bahasa berlatar belakang bahasa Melayu, baik bahasa Melayu Thailand maupun bahasa Melayu Malaysia, Brunei dan Singapura, juga bahasa Indonesia yang berasal dari ibu bahasa yang sama.

Shiny Ane El’poesya yang berbagi pandangan bersama Irwan Abu Bakar adalah penulis muda yang memiliki semangat tentang bentuk-bentuk kesusastraan masa depan Indonesia. Pandangannya yang futuristik mendorong daya kreatifnya untuk menciptakan puisi-puisi yang bermain-main dengan bentuk, sistem, dan lambang yang kompleks sekaligus konkret. Ia mendirikan sains puisi dan mengelola grup Facebook Poiesis Community & Circle untuk mengembangkan keilmuan penulisan karya sastra. Ia telah menerbitkan beberapa buku puisi yang cukup kontroversial karena bentuknya yang tak lazim, di antaranya adalah Bidadari Masehi.

Di antara keduanya, Ferdiyan Ananta sebagai moderator yang berperan menjaga diskusi agar berjalan dengan baik merupakan cendekia Kota Cilegon. Ia dikenal sebagai penyair yang juga pengurus Gaksa. Ferdiyan baru saja menyelesaikan studi S.2 di Inggris dan menetap di negara tersebut. Ia adalah penggagas diskusi Bahasa Indonesia untuk Bahasa ASEAN di Inggris (PPIUK, 2021) dan menerbitkan buku dengan tajuk yang sama untuk ditawarkan kepada pembaca di seluruh dunia.

Kehadiran ketiganya di dalam diskusi mampu menciptakan nuansa pertukaran pemikiran yang hangat berkenaan dengan tema “Masa Depan Pembaca Karya Sastra di ASEAN” pasca-Covid-19. Dalam pembukaannya, Ferdiyan menuturkan bahwa e-Sua Gaksa merupakan program pertemuan bulanan yang dilaksanakan oleh Gaksa untuk memberikan ruang bagi pemikiran para sastrawan di kawasan Asia Tenggara. Adapun tema yang akan dibicarakan setiap bulannya berbeda-beda, bergantung pada isu yang berkembang dan hal-hal yang dianggap penting bagi kemajuan kesusastraan di Asia Tenggara.

“Pada saat-saat ini kita terus bertemu melalui ruang virtual,” ujarnya, sebelum selintas kemudian ia menyatakan bahwa sesungguhnya pertemuan virtual lazim dijadikan pilihan oleh orang-orang di masa kini, karena, katanya, suatu zaman senantiasa memiliki wajah dan warnanya sendiri. Dengan kata lain, segala sesuatu harus melihat zaman dan melakukan penyesuaian. Teknologi manusia diciptakan manusia untuk mempermudah aktivitas manusia. Pertemuan-pertemuan yang di masa lalu begitu sulit untuk dilakukan karena harus menempuh perjalanan jauh dan biaya yang tidak murah, kini telah dimudah-murahkan. “Jadi,” kata Ferdiyan, “kita mudahkan saja pertemuan di antara kita.”

Pada sesi pertama, setelah penampilan Risma Meylani dan Miko Afrila yang menyanyikan lagu “Kamu dan Kenangan” yang dipopulerkan oleh Maudy Ayunda, Irwan Abu Bakar membuka pembicaraan dengan mengungkap tiga pertanyaan yang katanya, kerap diterima olehnya, yakni: (1) apa kesan covid-19 terhadap kegiatan sastra tempatan; (2) adakah apa-apa gangguan atau masalah interaksi antarsastrawan yang timbul akibat covid-19; dan (3) bagaimana pengedaran karya sastra di Asia Tenggara pada masa Covid-19 juga setelahnya.

Tiga pertanyaan yang ia utarakan menjadi batasan masalah dalam pemaparan profesor sains yang juga dikenal sebagai sastrawan kenamaan Malaysia tersebut. Katanya, “Selama lebih dari satu tahun, Covid-19 telah menyebabkan kita terperanjat sedikit. Tak tahu harus berbuat apa. Tetapi pada akhirnya kita dapat mula bergerak seperti biasa. Kecuali tidak dapat melakukan pertemuan fisik. Misal program untuk datang ke Indonesia pada tahun 2020 itu, tidak dapat dilaksanakan.”

Merebaknya Covid-19 di dunia, pada pandangan Irwan Abu Bakar, telah membawa manusia pada cara hidup yang baru dalam tatanan masyarakat umum, termasuk terkait kegiatan-kegiatan sastra di Asia Tenggara. Perubahan pertama yang langsung dapat dirasakan adalah pembatasan pertemuan, bahkan bagi orang-orang di usia emas harus dirumahkan: work from home. Katanya, pada mula-mula Covid-19 ada, semua orang dihadapkan pada keadaan pelik, pembatasan-pembatasan yang mau tidak mau harus diikuti demi keselamatan bersama warga dunia menyusahkan manusia yang terbiasa bertebaran di muka bumi dengan berbagai aktivitas. Tetapi di masa sekarang, Covid-19 telah menunjukkan tren penurunan kasus yang menggembirakan, sehingga di berbagai negara dunia aturan pembatasan direnggangkan. Banyak pertemuan dengan berbagai sistem protokol kesehatan yang ketat, digelar kembali. Meski demikian, tidak lantas membuat program-program yang terhenti dapat dijalankan begitu saja, termasuk rencana kunjungan ke Indonesia yang diprogramkan oleh Gaksa, belum dapat dipastikan olehnya kapan dapat dilaksanakan. Perlu perencanaan ulang yang matang.

Berkenaan dengan penerbitan buku karya sastrawan ASEAN, Irwan menilai kegiatannya tidak seberapa terganggu. Dengan agak bergurau, ia berkata bahwa selama virus Covid-19 tidak masuk ke talian (jaringan) internet, selama itu program-program penerbitan buku dapat dilaksanakan. Hal tersebut berlaku karena program-program Gaksa sejak lama dibuat dalam dua jalur, yakni secara daring/virtual dan luring/tatap muka. Program daring dijalankan berkaitan dengan diskusi tentang karya, proses pengumpulan karya, penerbitan, dan pengiriman buku dari Indonesia. Buku diproduksi oleh Gaksa Enterprise yang berlokasi di Cilegon, Banten, dikirim kepada komunitas-komunitas anggota Gaksa di Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand. Irwan optimis semua program yang dirancang Gaksa telah sesuai zaman dan akan diteruskan dengan cara yang selama ini telah dilakukan. Program-program sayembara antaranggota komunitas anggota Gaksa di grup WhatsApps E-Sastera Vaganza juga akan diteruskan untuk menghidupkan gairah kekaryaan antarbangsa.

Gaksa merupakan gabungan komunitas internasional dengan konsep keanggotaan bukan perorangan, melainkan atas nama komunitas sastra di masing-masing negara. Sebagai komunitas internasional, arus mobilisasi dan komunikasi menempati posisi paling strategis, sementara itu keduanya dapat menghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, sejak Gaksa dibentuk Irwan menyadari bahwa mobilisasi dan komunikasi yang paling mungkin dapat dijangkau adalah melalui ruang virtual. Hanya pada program-program khusus saja Gaksa melakukan komunikasi tatap muka, misal program konser sastrawan Asia Tenggara dan seminar-seminar internasional. Maka wajar jika Covid-19 tidak betul-betul berpengaruh dalam jalinan komunikasi internal komunitas antarkomunitas anggota Gaksa.

“Jadi,” kata Irwan, “kegiatan sastra tidak sangat terganggu dengan apa yang berlaku di alam nyata karena dari awal sudah kita rancang program kita banyak berlaku di online.”

Sebagai penutup wacana pembuka diskusi darinya, Irwan menggambarkan bagaimana sesungguhnya pola pendistribusian buku di seluruh negara ASEAN anggota Gaksa. Gaksa Indonesia yang berkedudukan di Cilegon, Banten, diperankan sebagai pusat kegiatan yang bertugas mengeluarkan berbagai rekomendasi program yang diajukan ke sekretariat Gaksa yang berkedudukan di Kuala Lumpur memproduksi buku-buku yang telah diseleksi naskahnya di Kuala Lumpur untuk kemudian mengirim buku-buku tersebut ke berbagai negara melalui pengiriman Pos Indonesia. Pada awal-awal Covid-19 merebak di seluruh dunia, Brunei Darussalam dan Singapura memang menolak pengiriman barang dari Indonesia, tapi sejalan dengan menurunnya kasus Covid-19, jalur pengiriman kembali dibuka. Irwan memandang hal tersebut sebagi suatu kemudahan yang telah lama ditempuh oleh Gaksa yang tidak sepenuhnya dapat diganggu oleh Covid-19.

So, saya rasa kegiatan seperti ini membuatkan kita rasa terus hidup di dalam bidang sastera terutama sekali bagi E-Sastera dan Gaksa,” ujarnya. “Ini merupakan kejayaan kita karena kaedah yang kita gunakan untuk berkarya dan menyebarkan karya telah dapat kita teruskan walau dalam suasana serangan Covid-19. Covid ini banyak sekali bentuknya. Covid-19 dalam bentuk manusia pun banyak, tapi itu pun dapat kita atasi dengan agak baik.”

Dalam paparannya, Irwan Abu Bakar memang tidak mengutarakan bagaimana masa depan pembaca karya sastra di Asia Tenggara secara eksplisit, tapi dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa masa depan itu telah dihadapi jauh-jauh hari, bahkan sebelum kini ramai media sosial, ia telah memasang pondasi pergerakan sastra siber di Malaysia melalui Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia pada tahun 2000. Dua puluh satu tahun yang lalu. Gaksa pun bergerak secara sadar melalui jalur yang sama. Tinggal bagaimana ia bersama Gaksa melakukan pemutakhiran, mengingat publik hari ini adalah publik yang Gandrung pada kebaruan.

Nuansa pertemuan masih terasa hangat, audiens yang berasal dari berbagai negara tampak masih menyalakan videonya, tanda masih sangat tertarik dengan diskusi yang dihadirkan. Ferdiyan kemudian mempersilakan dua deklamator muda asal Cilegon untuk membacakan puisi. Bima Setiawan membaca puisi “Sajak Tanah Banten” karya KH. Mukti Jayaraksa, disusul oleh Koko Wahyudi yang membacakan puisi “Abah” karya Spenk A Fenk. Dua penyair yang karyanya dibacakan tersebut merupakan penyair-penyair Cilegon yang karya dan kiprahnya telah dikenal oleh masyarakat pecinta sastra di Cilegon. Kedua deklamator muda tampil dengan baik sehingga dapat lebih menghangatkan suasana sebelum moderator mempersilakan Shiny untuk menyampaikan pemaparannya, khusus tentang bagaimana kemungkinan masa depan pembaca karya sastra di Asia Tenggara.

Shiny membuka pembicaraan dengan terlebih dahulu menggarisbawahi bahwa ia tidak dapat memaparkan tabiat pembaca di Asia Tenggara secara utuh, karena ia bukan pengamat untuk wilayah Asia Tenggara. Ia kemudian mencoba memberi gambaran kemungkinan berdasarkan pengamatannya atas apa yang berlaku di Indonesia. Hal tersebut tidak ia khususkan pada karya sastra yang dinilai betul-betul karya sastra. Dalam artian, Shiny tidak membicarakan kualitas karya sastra untuk melihat persebaran dan para pembacanya. Ia ambil secara umum saja. Apa yang orang pada umumnya anggap sebagai karya sastra. Tidak mengkhususkan pada karya-karya yang telah diakui oleh para kritikus atau komunitas sastra yang memang memiliki standar sendiri dalam menilai keberadaan dan kelayakan karya sastra.

Masuk ke pemaparan, Shiny mengutarakan beberapa poin: (1) siapa pembaca sastra di Indonesia; (2) pembaca sastra di Indonesia dibagi berdasarkan medianya, siapa yang menggunakan media apa; dan (3) mengenai bentuknya.

Poin pertama, sejauh yang ia amati, pembaca karya sastra di indonesia adalah orang yang berada di dalam komunitas-komunitas sastra. Para pembaca ini disebutkan Shiny adalah kalangan penulis. Para penulis adalah para pembaca yang mau tidak mau harus terus membaca karya yang lahir agar dapat mengetahui perkembangan karya sastra. Kedua, para pembaca adalah kalangan mahasiswa. Sepengamatannya, banyak mahasiswa yang membaca karya sastra. Mereka rajin pergi ke toko buku untuk membeli buku sastra. Karya sastra yang dibaca oleh mahasiswa digunakan untuk beragam kepentingan, di antaranya sebagai bahan diskusi, cermin pembacaan realitas sosial, dan dibacakan di podium demonstrasi. Meski Shiny tidak menyebutkan jenis karya apa yang dibaca dalam demonstrasi, dapat dipahami maksudnya adalah puisi-puisi mimbar, misal puisi-puisi Widji Thukul dan W.S Rendra. Ketiga adalah lembaga-lembaga agama. Lembaga agama yang dimaksud olehnya dibagi menjadi dua, yakni pesantren dan majlis-majlis pengajian. Shiny menerangkan bahwa sastra di dua kelompok lembaga tersebut hadir karena sering digunakan untuk penyebaran agama, terlebih jika Kiayi di suatu pesantren adalah penyair, maka para santri hampir dapat dipastikan membaca karya-karya dari Kiayi mereka.

Ia tidak menampik akan adanya para pembaca dari kalangan masyarakat umum di luar tiga kalangan yang telah ia sebutkan, tapi baginya tidak masif dan sistemik. Cenderung sporadis. Sekadar hobi. Beberapa kalangan pembaca dari masyarakat umum ada juga yang hadir dari ajakan menerbitkan antologi karat sastra bersama, terlepas dari kualitas karya-karya tersebut. Shiny melihat kalangan guru adalah kalangan yang cukup banyak mengikuti program penerbitan antologi bersama. Ia tidak menyebutkan apa penyebabnya, tapi kalau direka maksudnya, kemungkinan besar faktor pendorongnya adalah minat yang hadir karena adanya kesempatan atau ini berhubungan dengan nilai angka kredit para guru untuk menapaki jenjang karir, mengingat buku mendapat nilai kredit yang cukup besar.

“Kalau kita misalkan melihat dari aspek media, itu ada dua,” papar Shiny. “Mereka yang membaca secara konvensional. Artinya lewat-lewat karya cetak-cetak. Kedua, mereka yang membaca karya sastra melalui media digital. Ini yang sempat ramai.”

Mengenai pembaca digital, Shiny menunjukkan betapa beragam ruang yang digunakan. Ada yang membaca melalui Facebook, Instagram, melalui platform aplikasi khusus untuk membaca dan menulis karya sastra. Selaju lalu ia mengajak audiens untuk melihat para pembaca sastra berdasarkan bentuk karya sastra yang dibaca. Pembaca puisi, menurutnya, biasanya adalah orang-orang yang memang serius menyukai atau mendalami sastra. Masyarakat umum yang sekadar lintas menyukai sastra ada juga yang menyukai puisi, tapi secara umum demikianlah yang berlaku bagi Shiny, karena masyarakat umum, pembaca karya sastra, lebih tertarik pada novel dan cerpen yang lebih mudah dibaca dibandingkan puisi. Naskah drama disebut Shiny memiliki jumlah pembaca yang lebih sedikit dibandingkan puisi, hanya dibaca oleh orang-orang teater, sementara masyarakat umum tidak membaca naskah drama.

Bagaimana masa depan pembaca sastra di Asia Tenggara berdasarkan pemaparan di atas? Shiny menjelaskan, meskipun ada atau terjadi konvergensi media, yakni peralihan media dari cetak ke digital, sebenarnya media-media klasik seperti buku, koran, dan majalah masih digandrungi. Banyak penulis yang mengirim karya untuk diterbitkan di media-media tersebut dengan berbagai alasan, termasuk alasan romantisme pemuatan karya di koran atau majalah sastra yang legitimed. Koran atau majalah masih ada pembacanya, walau mengamali penurunan jumlah pembaca yang signifikan sejak publik mengenal dan akrab dengan dunia digital. Khusus berkenaan dengan buku, menurutnya masih banyak orang yang sangat mencintai buku dan tidak bisa hidup tanpa buku–bukan dalam pengertian tulisan, melainkan fisik buku itu sendiri. Selain karena satu dan lain hal yang ditemukan melalui berbagai penelitian kebutuhan manusia terhadap buku fisik, masih banyak orang yang tanpa memegang buku, merasa belum membaca. Dalam kesempatan ini, Shiny menyelipkan tentang apa yang ia pahami tentang buku. Buku baginya adalah suatu konsep. Konsep keutuhan suatu karya. Dengan kata lain, keberadaannya dapat berada di mana saja dalam bentuk apa saja, tidak selalu kertas dicetak berjilid.

“Sekarang yang banyak berkembang adalah media sosial,” tuturnya. “Di Twitter pernah ramai puisi-puisi pendek. Ya, tapi, sudah tidak populer lagi setelah ada Instagram. Di Instagram teks lebih panjang didukung oleh aspek visual. Yang agak panjang tetap di Facebook. Di portal-portal banyak karya yang di-upload. Tetapi tetap itu hanya sebagai arsip.”

Menimbang berbagai hal yang telah ada di media sosial yang disebutkan olehnya, ia kemudian melihat bahwa masa depan pembaca sastra di Asia Tenggara, berdasarkan pengatamannya di Indonesia, berada di aplikasi. Banyak aplikasi yang menyediakan kesempatan yang sangat terbuka bagi publik untuk membaca dan menulis karya sastra, walau hal tersebut mengandung konsekuensi pemuatan karya sastra yang kurang terseleksi. Aplikasi yang dimaksud Shiny adalah aplikasi yang dijalankan oleh suatu komunitas untuk dapat menjadi etalase karya, transaksi pembelian buku sebagai suatu konsep utuh, dan komunikasi kekaryaan yang baik antarsastrawan di Asia Tenggara. Keberadaan aplikasi dipandang penting oleh Shiny mengingat perkembangan teknologi digital yang sangat cepat. Konsep aplikasi yang dimaksud agar dapat menjaga kualitas karya dapat dijalankan dengan menentukan kurator dari masing-masing negara. Bagaimana bentuk aplikasi yang perlu dibuat, ia tidak menjelaskan secara rinci. Meski demikian, dapat dipahami maksudnya.

Pemaparan dari Shiny diakhiri dengan permintaan kepada Irwan Abu Bakar untuk memberi gambaran tentang karakter pembaca karya sastra di Malaysia. Permintaan tersebut disambut oleh Irwan setelah dipersilakan oleh moderator. Kata Irwan, penulis bidang sastra di Malaysia tidak terbatas pada pegiat bahasa atau pelajar-pelajar bahasa dan sastra saja. Malah, katanya, penulis-penulis sastra di Malaysia terdiri dari orang-orang profesional (maksudnya dengan latar belakang profesi tertentu di luar sastra), yakni para profesor sain, dokter, ahli-ahli hukum, dan semacamnya. Inilah yang disebut Irwan dunia telah sampai pada tata konsep all brain thinking. Manusia masa kini dituntut untuk tidak hanya menggunakan otak kanan atau otak kiri di dalam berpikir dan mengambil keputusan. Otak kanan dan otak kiri, menurut Irwan, harus digunakan secara bersama-sama. Hal tersebut yang ia jadikan landasan untuk menyatakan bahwa wajar penulis di Malaysia datang dari kalangan profesional. Berkenan dengan karakter pembaca, demikian pula adanya di Malaysia: berasal dari berbagai kalangan hingga pada kalangan-kalangan dari disiplin ilmu yang sekilas pandang tidak ada kaitan dengan sastra.

Pandangan Irwan didukung oleh Dr. Fadzil dari Universitas Malaya yang hadir pada momen Zoom Meeting tersebut. Katanya, ilmuan di masa lalu menggunakan sastra sebagai media untuk menyampaikan sesuatu. Tidak hanya agama Islam. Di masa kini sastra terlihat seperti berada di tempat yang sangat jauh terpencil. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena sastra hanya berkutat di bidang puisi, cerpen, dan novel, tidak melibatkan sains dan teknologi di dalam keilmuan dan penciptaan karya sastra. Inilah yang disadari olehnya sehingga ia mengajak semua pegiat sastra agar bersedia meninggalkan pola-pola lama dan harus berani melihat ke depan: sastra mencakup semua bidang agar masyarakat umum mau membaca karya sastra. Hal lain, ia juga mengajak publik untuk menyadari bahwa pembelajaran tentang bahasa tidak hanya untuk bidang sastra. Bahasa dan kebahasaan adalah pembicaraan untuk semua bidang, mampu masuk dalam segala aspek kehidupan. Itu, menurutnya, akan mampu merangkul para pembaca secara global.

Dr. Fadzil tersebut dapat dipahami arahnya, yakni bagaimana pelajaran bahasa masuk ke semua bidang ilmu. Misal, ada cabang ilmu bahasa politik, ilmu bahasa pendidikan, ilmu bahasa hukum, ilmu bahasa filsafat,  ilmu bahasa tata boga, ilmu bahasa olahraga, dan seterusnya. Saya belum dapat memastikan, apakah ilmu-ilmu tersebut telah diadakan dan dijalankan atau belum. Beberapa pelatihan yang diadakan oleh badan bahasa di Indonesia, misalnya, beberapa saya dapati pelatihan bahasa hukum. Baru setahap pelatihan, belum sampai pada kurikulum pendidikan. Mungkin juga saya belum mengetahui keberadaan dan penerapan ilmu bahasa di berbagai bidang ilmu. Terlepas dari itu, pandangan Dr. Fadzil penting untuk disimak.

Di sela-sela diskusi, Khambali Zutas, pengurus Gaksa Bali memberikan pandangannya tentang bagaimana sesungguhnya pola pendokumentasikan karya sastra masa kini dan perlakukan orang masa kini terhadap kesusastraan. Menurutnya, banyak portal atau aplikasi yang dibuat untuk para pembaca perlu dilihat respon pembacanya. Perlu dilihat trafik pembaca secara periodik untuk dapat menentukan skema-skema pemasyarakatan karya sastra. Menurutnya, pemasyarakatan karya sastra di masa kini perlu menimbang secara sungguh-sungguh keberadaan teknologi digital, karena zaman telah menunjukkan bahwa teknologi digital tidak lagi dapat dilepaskan dari aktivitas rata-rata manusia di muka bumi.

Khambali juga menyoroti kegandrungan orang-orang masa kini terhadap karya sastra, terutama di dunia pendidikan, kampus. Ia sangat menyayangkan banyak mahasiswa mebuat skripsi, tesis, atau disertasi berkenaan dengan karya sastra, tapi karya yang diambil adalah karya-karya lama, bahkan karya-karya angkatan Pujangga Lama. Hal tersebut menurut Khambali merupakan suatu kesalahan karena menunjukkan sikap dunia pendidikan kita terhadap kesusastraan yang kurang berani mengajukan karya-karya baru. Dunia pendidikan hari ini, khususnya yang membidangi sastra, menurutnya mesti membuka ruang terhadap karya-karya baru agar semangat kemajuan kekaryaan dan kemajuan keilmuan sastra dapat berjalan selaras dengan perkembangan yang ada.

Diskusi masih hangat-hangatnya, tapi Ferdiyan Ananta sebagai moderator mengatakan bahwa waktu hampir larut malam, sehingga diskusi harus disudahi. Ia meminta para pembicara menyampaikan pandangan penutup sebelum pada akhirnya ia menutup diskusi dan ruang Zoom Meeting memutar video musik tradisi yang dibuat oleh Gaksa sebagai musik penutup pertemuan. Benar-benar masih hangat-hangatnya, tapi begitulah waktu, terbatas. Mengikuti diskusi ini rasanya sangat menyenangkan. Bahasa pembahasan ringan, walau konten yang dibahas tidaklah ringan: meramal masa depan pembaca sastra di Asia Tenggara. Itu kepiawaian dari para pembicara. Pembawaan moderator yang santai dengan tutur bahasa yang tertata tidak dapat ditampik sebagai bagian penting yang membuat diskusi berjalan sedemikian hangat. Sebagaimana yang dikatakan moderator, e-Sua Gaksa adalah program diskusi bulanan Gaksa, tentu bulan depan adalah bulan yang sangat ditunggu.

Cilegon, Banten, 12 Desember 2021.

Hanif Farhan, penulis, pengurus Gaksa Banten, belajar di Ponpes Utawi Iki Iku el Falasi dan kuliah di UIN Banten.

BIODATA PENULIS

Hanif Farhan, kelahiran 25 Mei 1999, lulusan Otomasi Industri, sekarang belajar di pesantren Al-Hidayah, Palas, Cilegon. Ia tercatat sebagai mahasiswa filsafat di UIN SMH Banten dan merupakan anggota Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra ASEAN). Ia menggeluti sastra sejak masih duduk di bangku SMK. Sampai saat ini, ia menulis novel dan puisi. Bukunya yang sudah terbit: Berkelana Di Sepasang Matamu, ZA Publisher, 2018.

TAMAT.