Oleh: Isbedy Stiawan

Dari kiri: Agusri Junaidi, Muhammad Alfariezie, Isbedy Stiawan ZS

KAMI, bertiga: aku, Agusri Junaidi dan Alfa Riezie, sama-sama punya rindu. Kami sebagai takdir adalah manusi (ber) sosial, dalam arti memiliki kerinduan untuk bertemu dan berbincang. Tetapi kasus wabah yang sudah lebih 1 tahun ditambah tahapan PPKM yang terus diperpankang, entah sampai bila.

Lalu di rumah pun bosan. Misal saya yang cukup lama tak keluar karena pembatasan kegiatan ditambah beturut-turut dapat tugas menjadi juri (lomba bantun BNPT dg peserta 281 video dan baca puisi FLS2N Pupresnas Kemendikbud dengan jumlah peserta hampir mendekati sama). Jenuh kan?

Akhirnya aku WA Agusri, menawarinya ngobrol sambil ngopi. Eh rupanya ia pun lebih merasa suntuk oleh pekerjaan sebagai ASN di Pemkab Lapung Utara plus perjalanan ulang-alik Balam-Kobum demi tugas negara. Caile…

Dia mau. Aku diminta ke rumahnya dulu. Meluncur ke suatu tempat (tak kusebut nama karena bukan endors atawa iklan, tapi ada foto: sebagai makhluk medsos kadang butuh foto).

Alfa kami kontak, karena ia pernah memesan: jika jadi bertemu kabari. Dia datang sesaat kami tengah menikmati kopi bersama tamu dari Kemendagri yang menginap di hotel itu). Alfa pun segera memesan kopi.

Dalam percakapan soal sastra, sosialisasi sastra, dan terpenting: pendemi covid serta PPKM. Kemudian kupelesetkan: pelan-pelan kita mati. Kita bisa kami, kalian, ataupun kau. Boleh kalau berani menerakan: kumati.

Lalu kuajak permaian dari klu PPKM itu yang jika dipanjangkan seperti yang kupelesetkan. Tema soal covid, PPKM dan kota yang sunyi belum pula pukul 21.00 malam!

Setiba di rumah siapa dulu jadi puisi, segera bagikan dengan mentag nama kami. Setiap kami dilarang lebih dari 7 jam dari puisi sebelumnya.

Ini hanya permainan. Bermain cara lain mengaktifkan imajinasi, sudut pandang, cara melihat masalah, suasana batin menerjemahkan tema, kecepatan, dan selebuhnya kemahiran masing-masing.

Sekali lagi, ini hanya permainan, kami sedang bermain agar tubuh setidaknya imun dan jiwa sehat di situasi “muram” ini.

Selebihnya nikmati 3 puisi ini, yang aku petik dari dinding FB kami.
*urutan penyertaan puisi sesuai dengan puisi yang ditayangkan di FB.

(#IsbedyStiawanZS)

…..

Isbedy Stiawan ZS

PELANPELAN KITA MATI. SEPERTI…
: Agusri Junaidi – Alfa Riezie

pelanpelan kita mati. seperti
kotakota tanpa keriuhan. kedai kopi
biasa kita gelindingkan canda, telah
tutup sebelum lampulampu dimatikan;
apakah dengar desau perihnya?

kecuali puisi, barangkali, abadi
karena dibaca terusmenerus. ditulis
dari bilikbilik sunyi yang terkunci,
kekasih entah di mana? layarlayar
telepon cerdik jarang memanggil,
seakan turut merayakan duka ini

duka kita! sukasuka dia!

dan pelanpelan kami (akan) mati, lelampu
cepat dipadamkan. pagarpagar secepatnya
dikunci. namanama segera dicatat
agar tidak lupa
ke mana semestinya kita kubur duka ini?

pada puisi?
hanya puisi barangkali kita akan membaca
perjalanan kotakota yang sepi

15 Agustus 2021

*

Agusri Junaidi

BAGAI NGENGAT MERUBUNG CAHAYA

ah. akhirnya kurindukan juga riuh
anak-anak bertengkar rebutkan perihal

di batinku mengaduh
” dunia kini sungguh muram”

Lantas?

” Sungguh aku bosan,” seseorang disampingku menimpali

di sana kami bertiga
bagai ngengat yang merubung cahaya

bicara hal ikhwal
tetap saja
hal-hal yang muram juga.

“apa kepanjangan PPKM?”
Aku bertanya.
Yang seorang kembali menjawab : Pelan- pelan kita mati!

*

Muhammad Alfariezie

KUINGIN DURIAN JATUH

Seperti naik turun sayap kupu-kupu
Atau laksana merayapnya semut; Maut menjemput
Meski kita mengelus halus yang lembut
Tak mungkin memilih siapa yang mencuci sisa debu
Tubuh laksana kayu
Jika yang jahil mencubit maka musykil mengaduh

Selagi waktu itu menunggu
Yang kuingin durian jatuh

2021

TAMAT.