SAYEMBARA ESVA-15. Kita semua sedang tertekan menghadapi Sayembara ESVA-14: Mengulas novel “Meja 17”.
Untuk mengurangkan tekanan, mari kita sertai sayembara yang lebih relaks:

“Sayembara Menulis Ulasan Satu Episod Dari Novel “Meja 17”.

Sasaran Ulasan: Mana-mana bab dari novel “Meja 17”.
Panjang: 400-500 perkataan.
Mula: 26.6.2021.
Akhir: 30.6.2021.
Hadiah: (1) RM100. (2) RM50.
Emel Entri Ke: Gaksa.ASEAN@gmail.com
Selamat berjaya.

PENYERTAAN:

Sayembara ESVA-15. Ulas sebuah episod dari novel Meja 17.
Penyertaan:

1. Moh. Ghufron Cholid (Bab 5: Tuan Presiden).
2. Moh. Ghufron Cholid (Bab 17+1: Temu Duga).
3. Ghufron Cholid (1: Gila).
4. Paridah Ishak (Bab 1: Gila).
5. Putraery Ussin (Bab 7: Mencari Rezeki).
6. Dimas Indiana Senja (Bab 12: Deringan Merdeka).

KARYA PENYERTAAN

1.

MAGAN, ULUL ALBAB REKAAN IRWAN ABU BAKAR YANG SANGAT MEMIKAT PERHATIAN
(Sebuah Ulasan Atas Tuan Presiden Salah Satu Kandungan Novel Meja 17 Karya Irwan Abu Bakar)
Oleh Moh. Ghufron Cholid

Novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar memiliki salah satu episode berjudul Tuan Presiden. Episode ini memiliki daya pikat tersendiri bagi saya selaku pembaca. Lewat tokoh bernama Magan, Irwan Abu Bakar mulai menyisipkan cara berpolitik.
Magan adalah tokoh sendiri bagaimana pemikiran seorang Irwan Abu Bakar disisipkan. Dimulai dengan latar suasana yang ingin menikmati segala sesuatu serba gratis. Tokoh bernama Magan ingin menerapkan kehidupannya memakai konsep Kerajaan Tuhan.
Mengemukakan pandangan kepada khalayak umum atau masyarakat tentu harus siap dengan kemungkinan terburuk, konsep Kerajaan Tuhan yang dipaparkan Magan dianggap mustahil untuk diterapkan. Ada pula yang menganggap akan merugikan kerajaan dan ada pula yang menganggapnya gila.
Bukan politikus jika takut mengungkapkan pendapat atau pemikiran. Inilah yang menurut saya menjadi nilai plus dari Magan yakni berani menyampaikan walau Magan tahu kemungkinan terburuk yang akan diterima.

Kerajaan Tuhan ialah kerajaan Maha Baik dan dan Maha Adil. Maka kerajaan manusia harus mencontohi Kerajaan Tuhan, fikirnya. Maknanya, kerajaan manusia mesti membekalkan keperluan asas tanah, api, dan air secara percuma kepada setiap rakyatnya. Itulah asas pemikirannya. Semasa dia mula-mula mengemukakan cadangan itu kepada rakyat Malaysia, banyak pihak yang menentangnya dan memperolok-olokkan idea itu.


Episode berjudul Tuan Presiden bagi saya, adalah episode menarik yang mengisahkan bagaimana kehidupan seorang politikus, yang tidak gampang menyerah dalam mencari dan mendapatkan dukungan masyarakat atau rakyat.
Magan adalah sosok yang sangat menarik. Politikus sejati yang tidak mudah menyerah. Di masa kepemimpinan yang stabil Magan mewujudkan apa yang pernah dijanjikan kepada rakyatnya. Magan juga memiliki keahlian dalam mengenali kelompok-kelompok yang senantiasa mendukung dan kelompok mana yang enggan mendukung.
Tokoh Magan dalam Episode Tuan Presiden, bagi saya termasuk golongan Ulul Albab yang digambarkan dalam al-Qur’an, idea kreatifnya selalu mengejutkan semua orang, Magan mampu menangkap pesan-pesan dari apa yang disaksikan lewat perenungan yang ia lakukan.
Sejatinyq lewat tokoh bernama Magan, Irwan Abu Bakar telah memasukkan pemikiran-pemikiran kreatif, bagaimana Irwan Abu Bakar telah menghadirkan pemikiran Kerajaan Tuhan yang memberikan segala sesuatu dengan serba gratis. Atau menghadirkan Kerajaan Manusia atau kepemimpinan manusia yang selalu membutuhkan dukungan dari pihak lain, agar kepemimpinan atau negara berada dalam keadaan stabil. Tak hanya itu, lewat tokoh Magsn juga kita mendapat informasi bagaimana peperangan masa depan terjadi dan siapa pula yang akan menjadi pemenang.

Paopale Daya, 27 Juni 2021

2.

17 + 1 Temu Duga: Teknik Menyiasati Perusahaan Biar Tampak Profesional
(Sebuah Ulasan Atas 17 + 1 Salah Satu Kandungan Novel Meja 17 Karya Irwan Abu Bakar)
Oleh Moh. Ghufron Cholid

Buku isi berisi 18 tulisan, menariknya Irwan Abu Bakar tidak menulis 18 melainkan 17 + 1 sebagai pengganti 18. 17 + 1 diberi judul Temu Duga yakni judul yang hanya terdiri dari dua kata yaitu kata temu dan duga. Sebuah judul yang sangat mudah dilafadkan dan mudah diingat.
Angka romawi memiliki untuk menandai sajian kisah untuk kita baca. Namun panjang dan pendeknya kisah yang termuat di Temu Duga tidaklah sama.
Cara Irwan Abu Bakar menuturkan kisah serasa membawa saya selaku pembaca sebagai saksi mata secara visual meski disampaikan dengan kata-kata atau bahasa non verbal. Tampaknya Irwan Abu Bakar menguasai betul apa yang ia tulis.
Mengisahkan lima orang yang mengadakan temu duga, dengan menjadikan matin sebagai tokoh utama dan empat lainnya sebagai tokoh sekunder alias tokoh pelengkap. Sebenarnya ada enam orang, lima orang yang mengadakan temu duga dan berjenis kelamin laki-laki sementara seorang perempuan yang berada di tempat kejadian tidak dibahas karena memang fungsinya sebagai pekerja di tempat temu duga diadakan.
Miss Anne di romawi pertama memegang kendali sebab ia yang menerangjelaskan tentang tata cara temu duga, namun di mata seorang matin. Seorang tokoh utama dalam temu duga yang begitu kritis, apa yang dilakukan penganjur temu duga dinilai kurang profesional. Hal ini lantaran yang mengadakan temu duga adalah orang-orang penting dan bergaji tinggi. Menurut Matin, temu duga mesti dilakukan antar personal yang hanya terdiri dari dari orang. Bukan dipanggil dan dipertemukan secara serentak lalu diperkenalkan satu persatu.
Pada romawi II, Irwan Abu Bakar memberikan kejutan kepada pembaca bagaimana temu duga terjadi secara tak lazim, bagaimana pemilihan ketua CEO dilakukan bukan berdasarkan bakat melainkan berdasarkan kecocokan pihak perusahaan. Hal ini semacam memberi rambu kepada saya selaku pembaca bahwa dalam hidup penuh dengan kejutan, yang terkadang sangat sulit dinalar secara akal sehat.


17 + 1 yang diberi judul Temu Duga yang juga menjadi kandungan isi buku Novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar yang juga seorang Presiden Esastera dari Negeri Jiran Malaysia, sejatinya adalah satu bumbu penyedap cerita yang sangat mengaduk-aduk emosi pembaca. Bisa juga dikatakan miniatur hidup bagaimana sebuah perusahan memiliki teknik tersendiri dalam memilih Ketua CEO. Ria Intelek adalah salah satu contoh perusahaan yang diangkat dalam kisah ini. Bahwa sejatinya, Temu Duga diadakan merupakan sebuah siasat perusahaan untuk memilih ketua CEO. Kendati sudah ditentukan yang layak menjabat ketua, Temu Duga pemilihan Ketua CEO tetap diadakan untuk menampakkan keprofesionalan sebuah perusahaan di mata umum.

Paopale Daya, 26 Juni 2021

Biodata Penulis
Moh. Ghufron Cholid adalah nama pena Moh. Gufron, S.Sos.I, Karya-karyanya tersebar di berbagai media seperti Mingguan Malaysia, New Sabah Times, Mingguan Wanita Malaysia, Mingguan WartaPerdana, Utusan Borneo, Tunas Cipta, Daily Ekspres, Utusan Malaysia, Bali Post, Radar Surabaya, Radar Bekasi, Radar Madura, Koran Madura, Denpos, Tanjung Pinang Pos, Majalah Horison, Majalah SABILI, Majalah QA, Majalah QALAM dll buku puisinya Kamar Hati (Shell-Jagat Tempurung, 2012), Menemukan Allah (Pena House, 2016), Surga yang Dilahirkan (FAM Publishing, 2019), Bekal Termahal Seorang Istri (FAM Publishing, 2019). Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. HP 087850742323

BTN Cabang Bangkalan nomer rekening 0002801580057814 atas nama Moh. Gufron, S.Sos.I

3.

CARA TERASYIK TERTAWA TERPINGKAL-PINGKAL
(Sebuah Ulasan Atas Episode GILA yang Ada Dalam Novel Meja 17 Karya Irwan Abu Bakar)
Oleh Moh. Ghufron Cholid

Meniru boleh asal selektif, sebab meniru tanpa memikirkan akibat hanya akan meninggalkan penyesalan yang tidak berujung. Moh. Ghufron Cholid
Barangkali tulisan yang saya jadikan pembuka adalah intisari saya setelah menamatkan salah satu episode dari delapan belas episode yang berada dalam Novel Meja 17 karya Irwan Abu Bakar, penulis novel yang juga seorang Presiden Esastera Malaysia.
Usin adalah tokoh utama yang didera rasa penasaran akibat mengamati orang yang biasa datang ke Restoran Esastera dan biasa memesan dua makanan namun yang disentuh hanya bagiannya saja dan meninggalkan bagian lain. Peristiwa ini selalu menyita perhatian Usin dan menimbulkan tanda tanya. Namun Usin merupakan orang yang enggan bertanya. Enggan mengusik apa yang biasa dilakukan orang lain dengan mengajukan pertanyaan.
Malu bertanya sesat di jalan, adalah pepatah yang kerap saya dengar dan pernah juga saya alami sendiri. Dan dalam episode yang diberi judul GILA oleh Irwan Abu Bakar selaku penulis Novel Meja 17, saya menemukan.
Usin lebih memilih berekspremin, mencoba apa yang biasa Usin lihat dengan langkah nyata. Barangkali secara sadar maupun tidak sadar, Usin telah mengamalkan salah satu pepatah Arab yang terjemahan bebasnya kurang lebih berbunyi, coba dan perhatikan niscaya engkau tahu.
Usin tidak ingin terlalu lama diusik rasa penasaran, Usin mulai berpikir jalan keluar dari rasa penasaran yang dialami. Berikut cuplikan episode GILA yang ditulis oleh Irwan Abu Bakar.
10 hari terlalu lama untuk Usin terus menahan rasa kehairanan! Namun hendak bertanya kepadanya akan kepelikan kelakuannya, tidak berani Usin. Maklumlah, Usin orang baru di situ dan lelaki itu belum Usin kenali walaupun setiap pagi berjumpa dan setiap pagi Usin menjeling kepadanya dan dia menjeling kepada Usin. Usin tidak berani walaupun Usin juga lelaki berumur awal 30-an dan berbadan tegap sepertinya. Usin mendapat suatu ilham. Apa kata kalau Usin berbuat sepertinya juga? Tentu dia akan kehairanan. Tentu dia akan datang bertanya kepada Usin akan kepelikan kelakuan Usin itu. Usin menjangka daripada pertanyaan itu, Usin akan dapat merumuskan rahsia di sebalik kelakukan pelik lelaki itu.
Melihat cara Irwan Abu Bakar mengajukan pertanyaan dan merancang jawabannya lewat tokoh bernama Usin, agaknya Irwan Abu Bakar sedang menjalankan perannya sebagai seorang Novelis yang psikolog. Betapa tidak, kita diajak untuk berkelana menebak lewat minda hal-hal tak terduga yang akan ditanyakan.
Membaca episode ini, kita sesekali akan geleng-geleng kepala, sesekali kita akan diajak untuk menganggukkan kepala sebagai tanda kita sepakat dengan apa yang ditulis oleh Irwan Abu Bakar lewat tokoh bernama Usin.
Di akhir cerita, kita akan diajak terpingkal-pingkal yakni tertawa sejadi-jadinya lantaran tulisan yang tertera dalam kertas yang diberikan pemuda berusia kisaran 30 tahun yang diberikan kepada Usin, Selamat jalan, saudara. Esok kita tidak akan berjumpa lagi. Esok saudara tidak akan ke mari lagi. Kedai ini terlalu kecil untuk menampung kehadiran dua orang gila.

Paopale Daya, 26 Juni 2021

4.

SAYEMBARA ULASAN NOVEL MEJA 17 BAB PILIHAN
BAB 1: TAJUK GILA
OLEH
PARIDAH ISHAK

Selalunya bab pertama sebagai mukadimah semestinya disusun frasa dengan sangat rapi lagi berhati-hati, mempesonakan pembaca untuk menyelak lembaran seterusnya menelusuri kisah lakaran penulis. Ternyata Penulis novel MEJA 17 ini berjaya mengusik naluri dalaman jauh tersudut agar tidak melepas novel di tatap dengan ralit. Ingin segera membaca bab seterusnya untuk mengetahui kesudahan kisah..Unsur suspens dimanipulasi Penulis novel ini dengan cermat. Bab ini mengutarakan dua watak pasif.
Watak Usin dalam bab 1 bertajuk GILA dilukis Penulis sesuai dengan perwatakkannya. Menjadikan diri Usin sebagai seorang yang suka bermonolog dalam fikirannya. Dan merasa keliru dengan pemerhatiannya. Penulis memaparkan karyanya secara naratif atau penceritaan tanpa dialog. Namun dialog berlaku dalam monolog Usin membentuk beberapa pertanyaan.
Usin keliru menanggapi gelagat seorang pelanggan yang telah menduduki meja bernombor 17. Sebenarnya meja 17 adalah tempat kesukaannya yang telah diduduki kerusinya seorang pemuda di situ. Pelanggan itu berada di situ setiap pagi selama 11 pagi menurut kiraan Usin. Pelanggan restoran eSastera itu seperti Usin juga iaitu suka membaca akhbar sambil meneguk teh tarik dan makan sekeping roti canai. Tapi setiap pagi Usin melihat pemuda itu memesan dua cawan teh tarik dan dua piring roti canai. Cuma menghabiskan sekeping roti canai dan secawan teh tarik. Meninggalkannya di atas meja 17 tapi membayar harga semua pesanannya.
Usin pula meniru gelagat lelaki itu.dia juga turut memesan dua keping roti canai dan dua cawan teh tarik. Pemuda itu pula yang pelik melihat tingkah laku Usin. Setelah selesai membaca akhbar milik Usin dia meninggalkan sekeping nota pada Usin. Teruja Usin hendak tahu isi maksudnya. Dia ketawa terbahak-bahak sebaik usai membacanya.
Ketawanya yang bertemali itu menyebabkan Usin dihantar ke hospital gila. Apakah yang menyebabkannya jadi begitu? Selama sebelas hari di situ memerhati gelagat pemuda yang aneh pada anggapannya itu tidak pula Usin tertawa.Mungkin terlalu geli hati lantaran membaca, “Selamat jalan, saudara. Esok kita tidak akan berjumpa lagi. Esok saudara tidak akan ke mari lagi. Kedai ini terlalu kecil untuk menampung kehadiran dua orang gila ”
Maka pembaca pun dipenuhi mindanya dengan tanda tanya pelbagai. Tentu terasa tidak sabar lagi untuk mengetahui sambungan cerita selanjutnya. Mengapa Usin dibawa ke hospital gila hanya kerana ketawa? siapakah pemuda itu? Mungkinkah pemuda itu seorang pegawai dari hospital gila yang sedang menyiasat kesihatan mental Usin selama 11 hari kerana aduan daripada pemilik restoran eSastera. Segalanya mungkin. Namun Penulis tidak menyatakan tentang itu.
Penulis menggarap bab satu dengan menerap rasa keterujaan ingin tahu meluap-luap hanya dengan menonjolkan dua persona. Iaitu Usin dan seorang pemuda. Kreativiti karya olahan yang sungguh luar biasa perisanya. Kalimat gila merujuk pada pelbagai maksud. Bukan semata mereng atau sakit mental kronik yang mengganggu jiwa seseorang. Tajuk yang dipilih Penulis untuk bab ini selari dengan kisahnya. Pembaca juga turut hanyut dibawa arus fikiran menentukan siapakah yang gila. Idea Penulis berkarya secara gila-gila memberi kepuasan kepada yang inginkan karya bersifat kompleks. Dan sedikit rumit, menuntut minda bestari menghuraikan pemikiran Penulis yang amat kritis.
Masalah psikologi melibatkan bidang psikik cuba dipapar Penulis pada pembaca novel ini dengan gayanya tersendiri.

5.

Ulasan Buku

Judul : Bab 7 – Novel Meja 17
Penulis : Irwan Abu Bakar
Tahun Terbit : 2016 / edisi 4 penerbit eSastera Enterprise
Jumlah Halaman : 1: muka surat 41|
Putraery Ussin

Ringkas tetapi Menyengat

“Ringkas tetapi menyengat” barangkali itulah ungkapan yang paling sesuai untuk menggambarkan tentang kisah dalam Bab 7, novel Meja 17. Pengarang Irwan Abu Bakar meletakkan tajuk untuk Bab 7, Mencari Rezeki. Judul bab ini sudah memberi makna yang mendalam kepada pembaca. Telahan awal yang boleh dibuat sudah pastilah jerit-perih untuk mendapatkan sesuap nasi. Susah payah untuk mencari nafkah. Mungkin juga terpaksa membanting tulang bagi menyara keluarga. Selesai sahaja membaca halaman 41, pembaca akan lekas-lekas menyelak halaman berikutnya dengan harapan akan ada lagi sambungannya. Ternyata hanya itu sahaja teks atau ceritanya. Ya, hanya satu perenggan pemerian yang mengandungi 5 ayat dan dua baris dialog! Habis. Sudah cukup.
Sinopsisnya juga mudah. Kisah bermula apabila sepasang kekasih, Irfan dan Shima (dua watak ini muncul lagi dalam Bab 16, Pemikiran Reversal di halaman 119-120) sedang makan-makan di Restoran eSastera. Mereka memilih meja 17. Tidak lama kemudian seorang remaja dan seorang perempuan tua (ibu) menghampiri mereka untuk meminta sedekah. Irfan dan Syima mengenali peminta sedekah itu kerana pada malam sebelumnya juga mereka telah didatangi oleh ibu dan remaja itu. Kemudian, cerita diakhiri dengan pernyataan oleh anak itu bahawa mereka bertukar-tukar (shif) (Halaman, 41) untuk menjadi orang buta bagi tujuan mengemis. Terlalu ringkas bukan?
Ya, sudah tentu kisahnya ringkas dan padat. Dalam bahasa orang muda sekarang cukup ‘padu’, yakni sangat menyengat untuk menyampaikan mesej kepada pembaca. Di sinilah letaknya kebijaksanaan (iaitu menyengat) untuk pembaca menghayatinya. Pengarang, Irwan Abu Bakar dengan sinis atau sinikal hendak menyampaikan maksud tentang sikap masyarakat Malaysia yang peduli tetapi tidak kisah. Irfan dan Syima sedar mereka ditipu oleh pengemis tersebut tetapi mereka masih membantu dan membatu. Sebab itu mereka bertanya siapa yang buta sebenarnya? Cuma mereka tidak mengambil sebarang tindakan, sebaliknya terus memberi sedekah. Jadi secara tidak langsung perkara tersebut (mengemis) akan terus berleluasa. Hal ini lebih jelas dalam Bab 16, apabila Irfan dan Syima didatangi oleh beberapa orang pengemis dan mereka tetap memberi dan terus memberi sedekah. Benar, tangan yang memberi memang lebih baik daripada tangan yang meminta, tetapi menipu atau bercakap bohong adalah berdosa. Maka tepuk dada tanya iman.
Kesimpulannya, untuk memahami mesej yang hendak disampaikan dalam cerita ini, maka saya petik tulisan Hafizah Iszahanid dalam ruangan Kritikan Cerpen (Dewan Sastera, Bil.5/2021); kisah dalam genre surreal ialah aliran yang memfokuskan pada telling a story atau menyampaikan makna melalui bahasa atau imej-imej. Jadi dalam hal ini, kisah ini memberi tumpuan kepada imej-imej dalam cerita itu iaitu ragam pengemis dan masyarakat. Irfan dan Syima tetap memberi kepada pengemis, walaupun mereka sedari diri ditipu.

6:

PESAN PROFETIK DAN DEKONSTRUKSI MAKNA MERDEKA
Dimas Indiana Senja (esais Indonesia)

Membaca BAB 12 bertajuk “Deringan Merdeka” dalam novel MEJA 17 karya Irwan Abu Bakar, kita akan dihadapkan pada upaya mendekonstruksi makna merdeka yang selama ini disalahpahami. Latar waktu pada bab ini adalah malam kemerdekaan, sebuah malam yang sakral bagi sebuah negara. Sebab, hari kemerdekaan adalah hari penting dalam sejarah sekaligus momen kebangkitan nasionalisme.
Namun, momen malam “suci” itu tidak selamanya dilalui dengan baik. Kita bisa melihat di banyak tempat, malam kemerdekaan tidak digunakan sebagai momentum untuk bersyukur atas nikmat kebebasan yang telah diberikan Tuhan. Sebaliknya, banyak yang menghabiskan malam kemerdekaan sebagai ajang foya-foya dan bermaksiat. Sangat jauh dari harapan para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan.
Untuk itulah, Irwan Abu Bakar agaknya tertarik untuk memberikan pemahaman yang baik dalam melewati malam kemerdekaan. Bab ini, sarat akan muatan profetik. Profetik adalah sebuah upaya mencapai derajat insan kamil atau manusia paripurna. Filsafat profetik ini diturunkan menjadi ilmu sosial profetik dan menjadi maklumat sastra profetik oleh Kuntowijoyo.
Pesan profetik itu sebagaimana yang diterangkan dalam QS. Ali Imran ayat 110; “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. Dalam ayat tersebut insan kamil atau (khair al ummah) adalah manusia yang mau melakukan amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberasi) dan tu’minu billah (transendensi)
Dalam ini, Irwan mengingatkan tentang pentingnya nilai transendensi. Simbol yang dipakai adalah warna putih. Seperti lelaki melayu yang ditemui oleh Alim, dia mengenakan baju putih dan jubah putih. Juga seorang remaja yang ditemui Alim ketika membukakan pintu hotelnya setelah mendengar suara adzan. Si remaja juga menggunakan sorban putih dan serban putih. Bahkan Alim dan jamaah kira-kira 40 orang juga mengenakan jubbah putih. Putih adalah simbol kesucian. Bisa dimaknai bahwa kemerdekaan adalah sebuah kesucian, juga menjadi penanda bahwa ketika malam kemerdekaan, kita sebaiknya kembali kepada fitrah, kembali mengenang keagungan Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan. Sementara pesan humanisme dan liberasi atau pembebasan. Diucapkan oleh Lelaki berbaju melayu, berjubah putih, dan berpeci putih. Salam Merdeka. Bebaslah kita dari kutukan setan dan maksiat. Kalimat ini adalah pintu gerbang memasuki pesan profetik irwan dalam novel ini.
Melalui mimpi, tokoh Alim dibawa kepada hal yang semestinya dilakukan seorang warga negara yang baik. Hal ini serupa dengan pesan yang disampaikan dalam novel Sumbangsih Seni karya Sastrawan Brunei Ampuan Haji Brahim Ampuan Haji Tengah (1997), sebagaimana diulas oleh Haji Morsidi Haji Muhammad dalam artikelnya “The Attachent Between Thought and Culture in Brunei Malay Literature”.
When independence was declared, the citizens and resident of Brunei Darussalam were exhorted to perform the maghrib and isha prayers and recite the Surah Yasin together as a way of thanking allah and seeking his protection as the country embraced independence.

Malam kemerdekaan semestinya diisi dengan berdzikir, bermuhasabah, dan memperbaiki diri serta amalan baik. Niscaya kemerdekaan menjadi sesuatu nikmat yang terus bertambah. Merdeka adalah ketika seseorang menemukan dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hal ini ditekankan Irwan pada kalimat Pagi itu Alim merasa menjadi orang baru. Orang yang baru lahir. Alim merasa dirinya suci.
Puncak dari misi profetik sekaligus dekonstruksi makna merdeka yang ditekankan Irwan adalah
Pengalaman tadi malam menyadarkan Alim akan kekhilafan dan kealpaannya selama ini. Timbul tekad di hatinya untuk kembali fitrah. Menjadi orang Islam yang merdeka. Alim ingin memerdekakan dirinya dari belenggu setan dan maksiat. Alim ingin taubatan nasuha. Alim bertekad. Sungguh-sungguh. (hal 81)

HALAMAN INDONESIA, 2021

KEPUTUSAN

Pengadil berpendapat bahawa ulasan yang baik perlu didampingi dengan kuat oleh pandangan peribadi pengulas terhadap karya. Misalnya, ditegaskan kekuatan dan kelemahan karya serta apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki karya itu.

Berdasarkan konsep tersebut, pegadil telah memberikan keputusan yang berikut:

Hadiah Pertama (RM100) = Karya No.1: Moh. Ghufron Cholid. (Paid).
Hadiah Kedua (RM50) = Karya No. 5. Putraery Ussin. (Paid).

TAMAT.