<JUDUL>

6. Kecup Darahku! Jilat Lubang Lukaku! 5. Selamat Jalan Bisikmu. 4. Kubentang Hujan Ini. 3. Masih ada Jalan Lain Ke Rumahmu. 2. Satu Jalan Pergi Dari Dirimu. 1. Seratus Ekor Kutu Di Kepala.

PUISI

6.
KECUP DARAHKU!
JILAT LUBANG LUKAKU!

kau mau membunuhku
kau ingin mengutukku
jadi batu di pantai ini

perang antarkawan
di malam perawan
dekat pelabuhan
— begitu kelam,
amat malam —

dua bilah pedang
saling berciuman
sama-sama mencakar
berahi ingin melumat

“kecup darahku!”

“jilat lubang lukaku!”

kedua kawan belum lelah
walau seluruh tubuh berpeluh
malam dingin, tapi darah
di dalam tubuh sangat gerah

“siapa yang mesti
mencium tanah?”

“sipa yang meninggalkan
mayat kawan sendiri?”

malam perawan
begitu kelam

tiada siul burung
tiada saksi

2021

5.
SELAMAT JALAN, BISIKMU

selamat jalan, bisikmu
ranjang putih
dinding putih
aroma obat bagaikan bunga
beterbangan

tapi aku belum ke manamana
masih di sini
kusisir usia
kuraba langkah

selamat jalan, katamu lagi
seperti memaksaku pergi
tapi aku belum pula mandi
tak ada jadwal perjalanan

pesawat
kapal laut
kereta
bas
(hanya beri abaaba mau jalan
namun tak juga bergerak…)

4.
KUBENTANG HUJAN INI

kubentang hujan ini
jadi tanah lapang
untukmu bermain
sampai kau kuyup
— gigil di antara
dedaun yang kuncup —

tengok langit di kepalamu
betapa dalan airmata
sekiranya kau gali
dari tangis orangorang
sebab petaka
karena bencana

3.
MASIH ADA JALAN
LAIN KE RUMAHMU

setelah kelokan dan rambu terakhir
hijau, aku lempang. jalan semakin
sepi, pohonpohon tegap bagaikan
tentara baris. hijau bajunya, hitam
di dekatnya

sudah malam kini, desisku

kucari jalan kecil yang tak riuh. aku harap
ada jalan lain untuk ke rumahmu; sebuah
jalan yang telah dijejaki orangorang
sebelumku

lurus dan serasa di ladang pinus

di rumahmu kelak aku akan keramas
— lalu berkemas? —
sekiranya kau inginkan tubuhku wangi
kupakai parfum yang kuterima
dari seseorang, dulu ia selalu tinggal
di rumah suci

ya. ada jalan lain menuju rumahmu
kucatat di saku celanaku

KGM, 3 Maret 2021

2.
SATU JALAN PERGI DARI DIRIMU

satu jalan aku ingin pergi dari dirimu
selepas padang lalu sungai yang akan
memisahkan kita; suatu senja di bulan
yang basah,
aku lupa nama, kuingat hanya
ada purnama saat malam — baru
kelewati jalan itu — begitu hening
pepohonan kering
oleh musim yang garing
kini basah, mulai mengganti
untuk hijau. tak, ia hanya ingin pindah
dari ingin mati kepada kehidupan baru

baru?

seperti aku, kini memilih satu jalan
untuk pergi darimu. akan kutemukan
pijakan seluas katakata di kitab itu

berdebu?

aku masih selalu masuk ke kitab itu
mengeja tiap huruf, menemukan jalan
: selalu jalan. lurus, menanjak-menurun,
dan kelokan…

2019-2020

1.
SERATUS EKOR KUTU DI KEPALA

seratus ekor kutu di kepala
menggerakkan jemarimu
kau bayangkan penari di panggung
satu satu kutu kau pites
seperti puntung rokok lumat di kakimu

seratus ekor kutu di kepala
kau pilih satu; raja atau ratu
lainnya anakanak yang terbang
ke rambutku,

duh!

BIODATA PENULIS

Isbedy Stiawan ZS lahir di Kota Tanjungkarang, Provinsi Lampung, Indonesia.

Ia merupakan sastrawan terkemuka Indonesia, generasi Forum Puisi Indonesia 87 yang sampai kini masih berkarya. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik.

Kerap memenangkan sayembara penciptaan puisi dan cerpen. Buku puisinya pernah memenangi Hari Puisi Indonesia untuk bukunya “Menuju Kota Lama” (2014).

Lalu buku puisinya “Kini Aku Sudah Jadi Batu!” dinobatkan 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), “Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua” sebagai 5 besar buku puisi pilihan Majalah Tempo (2020).

Pernah sebulan di Belanda pada November 2015.

TAMAT.