Oleh: Moh. Ghufron Cholid

Puisi bisa jadi salah satu media untuk mengilustrasikan risalah hati, kepada yang teristimewa. Moh. Ghufron Cholid.

Kali ini saya berhadapan dengan puisi berjudul “Bukan Cincin Sulaiman” karya Sriwati Hj Labot (Malaysia) dan puisi ini telah disiarkan di portal esasteravaganza.com pada 6 Februari 2021.

Sebagai seorang penyuka cincin dan sebagai penulis puisi, tentu saya sangat tertarik untuk membaca puisi ini dan mencoba menyelami apa yang terkandung di dalamnya.

Berikut saya posting utuh puisinya untuk lebih memudahkan pembaca berkenalan secara langsung, di lain sisi agar pembahasan lebih terfokus.

Tajuk : Bukan Cincin Sulaiman.
Karya : SRiwati Hj Labot

Tidak aku meminjam cincin Sulaiman
Yang tertulis nama baginda dan Maha Pencipta
Cuma aku menempa cincin pusaka
Yang terukir indah nama kita berdua
Di atas permata takdirnya.

Tidak aku meminta mukjizat hebat
Untuk terbang melayang di angin
Berkuasa di laut memerintah di darat
Aku cuma meminta seucap hikmat
Yang terpendam di kurun rahsia
Di alun getar di debar dada.

Aduhai kanda Arjuna kata
Kuhadiahkan padamu setulus hati
Walaupun bukan cincin Sulaiman
Cincin ini hikmatnya tinggi
mampu merentasi zaman dan mimpi.

Simpanlah untuk sezaman lagi.

Simanggang, Sarawak, Malaysia.

Sriwati Hj Labot (SHL) menamai puisinya “Bukan Cincin Sulaiman” dan menjadikan puisi ini sebagai media untuk mengilustrasikan risalah hati dalam mengungkapkan cinta.

Agaknya SHL tahu benar bahwa untuk memancing pembaca menyediakan waktu membaca atas karya puisi yang dibuat, harus membuat judul yang menarik. “Bukan Cincin Sulaiman” adalah cara SHL memantik rasa penasaran pembacanya.

Cincin Sulaiman yang terkenal dengan khasiat yang monomental coba dinarasikan dengan hal yang lain, dengan menambahkan kata bukan di depan kata cincin sulaiman.

Saya menduga ide ini bukan tiva-tiba melainkan sudah direncanakan. Cincin Sulaiman yang dipercaya bisa menundukkan bangsa jin, oleh SHL diubah pada sesuatu yang beroma cinta dengan menjadikan sebuah judul puisi dengan menambahkan kata bukan. Yakni “Bukan Cincin Sulaiman”.

Bait pertama SHL menulis, Tidak aku meminjam cincin Sulaiman/Yang tertulis nama baginda dan Maha Pencipta/Cuma aku menempa cincin pusaka/Yang terukir indah nama kita berdua/Di atas permata takdirnya.// semacam mewacanakan bahwa cinta memang sangat penting diungkapkan. Sebab menyatakan cinta kepada seseorang yang istimewa lalu menyadari bahwa cinta (berjodoh dengan orang lain) tersebut adalah hal ikhwal yang sudah ditakdirkan. Dengan pengakuan tersebut maka baik sadar maupun sadar betapapun kuat usaha dan doa diterbangkan pada pemilik takdir jualah semua dikembalikan.

SHL menyadari betul, tiap manusia hakikatnya tidak bisa membaca isi hati orang lain, tiap insan hanya bisa menerka-nerka saja sesuai dengan tanda-tanda yang diyakininya, oleh sebab itu bagi SHL keterusterangn dalam mengungkap rasa cinta perlu digalakkan, hal semacam ini bisa dibuktikan dengan guratak larik-larik yang berada di bait kedua. SHL menulis, Tidak aku meminta mukjizat hebat/
Untuk terbang melayang di angin/Berkuasa di laut memerintah di darat/Aku cuma meminta seucap hikmat/Yang terpendam di kurun rahsia/Di alun getar di debar dada.//

SHL meyakini bahwa dalam mengungkapkan cinta bukan hanya diutarakan lewat ucapan melainkan tindakan yang dirias doa, lebih lanjut SHL menulis bait ketiga yang ditujukan pada orang teristimewa dalam hidupnya, Aduhai kanda Arjuna kata/Kuhadiahkan padamu setulus hati/Walaupun bukan cincin Sulaiman
Cincin ini hikmatnya tinggi/mampu merentasi zaman dan mimpi.//

Sebagai seorang insan yang sedang dilanda asmara setelah melakukan segenap usaha dan doa juga melakukan semacam permintaan kepada orang yang dicintai dengan mengatakan, Simpanlah untuk sezaman lagi.//

Kendati penutup puisi ini, terkesan menggantungkan harapan kepada sesama manusia dan di dalam agama sudah diwanti-wanti agar tak terlalu berharap pada manusia agar tak kecewa.

Saya menemukan bahwa SHL dalam puisi ini semacam didera kekhawatiran yang teramat sangat mengganggu hatinya, sehingga lebih memilih tidak berbasa-basi dalam menangani kekalutan hatinya. Yakni meminta kepastian bahwa keraguan yang muncul di hati bisa ditepis jika yang menjadikan keragu-raguan itu dihadapi.

Menyikapi hal ini saya teringat petikan hadits di Arbain Nawawi yang menegaskan bahwa kita mesti meninggalkan apa yang meninggalkan kita ragu.

Maka penutup bait puisi ini bisa menjadi buah simalakama jika dimakan (diucapkan) kita tampak menggantungkan harapan kepada sesama manusia, jika tidak dimakan (diucapkan) kita didera keragu-raguan.

Oleh:

Moh. Ghufron Cholid.
Junglorong, 6 Februari 2021.

TAMAT.