xxxxx

kumpulan cerpen
Lala St Wasilah

How to Get More Blooms From Your Roses

AMBILKAN MAWAR

© eSastera Enterprise, 2020

xxxxx

BIODATA PENULIS

“Mbak Lala” demikian ia biasa disapa, dilahirkan di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 10 Juni, putri dari keluarga K.H. Umar Habib (almarhum) dan Hajjah Cik Inah Muthmainnah.
Masa kecil Mbak Lala hidup di lingkungan pesantren di desa Rabak, kecamatan Kalimanah, Purbalingga, sampai lulus Madrasah Ibtidaiyah GUPPI. Kemudian Mbak Lala melanjutkan sekolah di SMP Darul Ulum, sambil mengaji di Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Pada saat SMA, Mbak Lala kembali lagi ke Purbalingga, sampai lulus dari SMA Muhammadiyah I Purbalingga. Hijrah ke Yogyakarta, Mbak Lala lulus sebagai Sarjana Hukum dari Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.
Mengisi waktunya dengan banyak membaca cerpen dan novel, dari situlah Mbak Lala mulai menekuni profesi sebagai penulis cerita anak. Cerpen anak karyanya telah dimuat di Kompas (Anak) (Jakarta), Solo Pos (Solo), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), di majalah Kids Fantasi dan majalah Bobo (Jakarta). Sesekali Mbak Lala juga menulis cerpen dewasa dan dimuat di SKM Minggu Pagi dan Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta).
E-mail: lalastwasilah@lawyer.com

CERPEN

SENARAI TOPIK

(1) Raden Para Rubi. (2) Jalan Melingkar. (3) Ambilkan Mawar, Bu!

3.

AMBILKAN MAWAR, BU!

Sepulang kerja, Rahmi mengayuh sepedanya pelan-pelan. Dinikmatinya suasana sore hari dengan santai. Di boncengannya duduk seorang anak kecil berumur tiga tahun, Cantik namanya. Sesekali dipegangi dengan tangan kirinya, khawatir kalau-kalau posisi duduk Cantik bergeser. Karena pernah sebulan lalu anaknya itu hampir saja terjatuh dari boncengan. Waktu itu Rahmi begitu tergesa mengayuh sepedanya. Cantik sebagai anak yang tak bisa diam tiba-tiba pantatnya sudah miring ke kanan. Untung saja Rahmi langsung sigap, sehingga terhindar dari hal yang sangat merugikan. Rahmi tak ingin hal itu terulang kembali.
Sebagai ibu, Rahmi teramat menyayangi anak semata wayangnya melebihi menyayangi dirinya sendiri. Kemana pun Rahmi pergi Cantik selalu dibawanya, sekalipun pergi bekerja. Apapun permintaan anaknya, Rahmi berusaha sebisa mungkin mengabulkan, meski penghasilannya sebagai tukang masak di sebuah TK swasta amatlah minim. Suaminya, Hasan telah meninggal dunia setahun lalu, karena menderita stroke cukup parah. Sebenarnya kehidupan Rahmi semasa suaminya masih hidup terbilang cukup. Karena sebagai suami, Hasan giat bekerja sebagai rasa tanggungjawab yang besar pada keluarganya. Tutur kata dan kesabarannya, bisa diacungi jempol. Pendek kata, suami yang ideal. Beda halnya dengan sifat Rahmi yang grusa-grusu dan temperamental. Ibaratnya, ada daun jatuh saja bisa jadi masalah fatal.
Ah, kini Rahmi menyesal teramat dalam. Semasa hidup suaminya, kenapa ia tak bisa menjadi istri yang baik. Tidak itu saja. Ia kerap marah-marah bila ada sedikit saja masalah yang menurut Rahmi menyinggung perasaan. Tidak jarang sebab emosinya memuncak, barang-barang berharga yang berada di dekatnya hancur berkeping-keping akibat “terbang bebas”. Kalau sudah begitu, Hasan tak pernah melawan, meski sebenarnya ia sangat mampu untuk melakukan itu. Bahkan demi meredam keadaan agar tidak semakin runyam, Hasan akan melakukan apa saja pada Rahmi termasuk menghiba, memohon ampun, sampai-sampai mencium telapak kaki istrinya. Padahal sudah jelas-jelas yang kebangetan adalah Rahmi sendiri. Dan yang paling tak bisa dilupakan Rahmi waktu itu, kata terenyuh sama sekali tidak menyentuh hatinya dengan sikap Hasan yang telah total mengalah seperti itu. Bukannya ia meraih suaminya untuk bangkit, malahan tangannya mendorong tubuh suaminya hingga kepalanya terbentur lantai. Darah menetes segar dari hidungnya. Sudah begitu, Rahmi masih tega menusuk dengan kata-kata, “Makanya jangan bikin masalah!!” Lalu meninggalkan suaminya begitu saja yang mengerang kesakitan.
“Bu, kok keterusan jalannya. Katanya Cantik mau dibelikan boneka Berbie yang bagus itu,” seru Cantik ketika mereka telah melewati toko mainan. Rahmi terhenyak dari lamunannya.
“O ya, sayang…..Ibu kebablasan,” Rahmi menghentikan sepeda dan membelokkannya. Mereka masuk toko mainan, dan memilih boneka berbie yang paling bagus. Wajah Cantik semakin tampak cantik begitu mendapat mainan yang diinginkan. Hati Rahmi puas melihatnya. “Biarlah Cantik bahagia. Biarlah ia kumanjakan. Karena dialah satu-satunya yang berharga milikku. Buah cintaku bersama suamiku. Aku tak memiliki siapa-siapa lagi,” pikir Rahmi. Karena dengan seperti itu, barangkali bisa menebus dosanya pada bapaknya Cantik.


Matahari menebar kehangatan pagi. Seperti biasa Rahmi dan anaknya bersiap menuju tempat kerja. Setiap kali melewati rumpun bunga mawar yang berada di samping rumah, hati Rahmi bagai ditusuk durinya. Begitu tersayat. Itulah tanaman terakhir suaminya yang gemar bertanam. Mengenangnya, sama saja dengan membuka perjalanan hidup masa lalunya. Penuh duri-duri yang dia ciptakan sendiri. Teramat menusuk bila dikenang. “Sebagai bentuk penyasalanku padamu Mas Hasan, akan kurawat bunga itu sebaik mungkin. Dan aku bersumpah, takkan memetik bunga itu. Sebab memetiknya sama dengan menyakitimu lagi. Sungguh aku tak mau. Biarlah wanginya menebar ke alam sekitar, hingga tercium olehmu di sana,” janji hatinya. Perasaan itu sebuah bentuk penyesalan terhadap kesalahan pada suaminya yang berhati malaikat.
Namun tidak dengan Cantik. Sebagai anak yang masih polos, Cantik tak tahu-menahu apa yang terjadi dan bergolak pada diri Ibunya. Justru hati Cantik seakan ikut berbunga bila memandang rumpun mawar yang tengah mekar menawan itu. Ia ingin meraihnya. Ingin mencium mawar itu. Dan sudah pasti untuk permintaan yang satu ini Rahmi tak bisa memenuhinya. Bahkan Rahmi bisa marah karenanya. Namun tak bisa memberikan alasan pada putrinya itu kenapa. Ia hanya bisa menampakkan wajah yang sangar.
“Mintalah apa saja, Nak, tapi jangan mawar itu!” wajah Rahmi mencekam. Selalu kata itu yang diucapkan bila Cantik tengah merajuk. Dan Cantik hanya gigit jari.
Sejak itu Cantik selalu terbayang mawar itu yang ternyata menjadi simbol penyesalan hati ibunya. Cantik sering mencuri-curi kesempatan untuk sekedar memegangnya. Pernah satu ketika, ia kepergok ibunya. Bukan main murka Ibunya.
“Kau tak boleh memegang mawar itu! Apalagi mengambilnya! Cantik tak perlu tahu kenapa karena Ibu tak bisa bilang. Maaf ya sayang…untuk permintaan ini Ibu tak bisa Nak!” Akhirnya Rahmi tak kuasa. Matanya merah bagai menyemburkan api. Cantik ngeri! Tapi tidak tahu apa maksudnya.
“Nak. Hanya kau milik Ibu satu-satunya. Kau harus nurut!” Rahmi menatap wajah Cantik. Lebih nyalang. Suaranya menggeram persis Mak Lampir. Gigi-gigi Rahmi pun mulai terlihat mengeluarkan taringnya di mata anak itu. Cantik ketakutan. Pucat-pasi. Lalu, pingsan.
Sejak peristiwa itu Cantik sakit. Ibunya membawanya ke dokter. Secara medis, dokter tidak menemukan penyakit apa pun, selain suhu badan yang meninggi. Oleh dokter diberi obat penurun panas. Setelah minum obat, panasnya memang turun. Rahmi lega. Dan mengira sakitnya telah sembuh.
“Kamu kepengin makan apa, sayang?” Rahmi mengelus rambut Cantik yang kusut. Anak itu menggeleng, memandang Rahmi dengan tatapan meredup. Tersenyum lemah. Rahmi mengambilkan boneka yang berjajar di meja kamar, agar anaknya bisa terhibur.
Namun sore harinya, badan Cantik kembali panas. Bahkan lebih panas dari sebelumnya. Parni manambah es pada kompresannya. Di antara gigil badannya, terdengar igauan anaknya yang sungguh menyayat.
“Ambilkan mawar, Bu…..ambilkan mawar itu…..”
Rahmi menangis. Kebimbangan mulai menyerang hatinya. Antara rasa sayang pada anak samata wayangnya, juga sumpah yang terlanjur terucap untuk suami yang dulu selalu ia sakiti. Berkecamuk. Belum sempat Rahmi mengambil keputusan, tangan mungil anaknya melambai, lemah. Rahmi mendekatkan wajahnya, mencium Cantik. Tapi kini pipi anaknya mendadak sedingin es! Berbarengan itu mata Cantik terpejam. Ia raba nadi tangannya. Lmata Rahmi terbelalak. Ia ulangi ekali lagi. Benar juga. Memang tak ada lagi detak. Sontak Rahmi menjerit!! Diguncang-guncangnya tubuh anaknya. Rahmi tak percaya bahwa anak satu-satunya telah mati!
“Cantiiik…..” Histeris. Rahmi tak sadarkan diri.
Entah berapa lama, hanya waktu yang mencatatnya. Rahmi tersadar setelah merasakan ada hangat tang mengalir di kedua telapak tangan, kedua telapak kakinya, dan tercium bau minyak kayu putih. Ia baru tersadar bahwa dirinya telah berada di tempat tidur. Tanpa diduga, sebuah tangan yang telah keriput membelai-belai kening Rahmi . Dengan kepala masih berat dan pening, Rahmi menoleh. Kaget bukan main.
“Ibuuu…..” ia menjerit. Dipeluknya orangtua itu erat-erat. Orang tua yang tinggal satu-satunya, yang bertahun telah dia tinggalkan di desa lantaran kesalahpahaman Rahmi.
“Kamu tak sendiri Nak. Ibu sangat menyayangimu…..” hibur Ibunya, tanpa sedikit pun ada getaran dendam dan sakit hati pada Rahmi. Dengan lembut Rahmi dituntun mengucap “laahaula walaa quwwata illa billaah”.
Kalimah kukuh indah ini memang sudah lama Rahmi abaikan. “Kembalilah ke Rahmi yang dulu, sesuai namanya.”

2.

JALAN MELINGKAR

Matahari tepat di ubun-ubun. Aku terbangun oleh suara derai tawa yang berasal dari ruang tamu. Dengan malas aku beranjak menuju tempat dispenser di ruang tengah, untuk menuangkan segelas air putih. Rasa haus segera lenyap setelah segelas air membasahi kerongkonganku. Aku penasaran dengan suara tawa yang mengganggu istirahat siangku. Kusibak sedikit gorden jendela yang membatasi antara ruang tengah dan ruang tamu. Kulihat, istriku tengah bercanda dengan beberapa tamu laki-laki. Serr! Darahku berdesir. Siapakah mereka? Tampaknya mereka begitu akrab. Kutata kembali dadaku yang sempat berdetak. Ah, paling juga kawan, hiburku. Tak urung benakku bertanya, kenapa pula kebanyakan dari teman istriku adalah laki-laki? Apakah itu risiko dari dunia seni? Kupikir juga tidak. Karena masih banyak yang teguh pada pendirian. Tidak kagetan. Istriku memang seniman. Tepatnya sastrawan. Telah beberapa buku puisi dan cerpennya diterbitkan. Dari segi wajah, sebenarnya tidak terlalu cantik. Itu pendapat orang. Tapi kalau sudah berdandan, bisa menyedot perhatian orang. Dia pandai menyulap wajahnya dengan polesan bedak yang tebal, juga lipstik dan eye shadow yang berwarna berani. Belum parfumnya yang tak bisa telat. Ditambah lagi cara bicaranya yang mendayu-dayu. Begitu menjanjikan. Aku cemburu karenanya. Siapa bilang rasa cemburu hanya milik perempuan? Bukankah itu sebuah kodrat bagi para pencinta? Wajarlah kalau soal poligami akan selalu menjadi pro kontra yang tiada akhir.
Tentang cemburu itu? Apalah dayaku? Dia mulai getol bicara tentang HAM, semenjak eksisitensi dirinya diakui di kancah sastra. Mungkin sekarang bagi istriku, rasa cemburu bisa dianggap sebagai pelanggaran HAM, menghambat hobi dan kariernya.
Dan aku? Meskipun aku seorang guru SMU dan berwajah tidak jelek amat, yang juga mempunyai murid ABG yang cantik-cantik dan menggoda, tapi aku selalu jaga imej. Menjaga jarak. Bukan sok. Tapi aku sudah terlanjur menjaga perasaan istriku, yang kala itu begitu over-protective. Aku menerimanya bukan karena terpaksa. Tapi lebih karena aku mencintai istriku.
Sekarang semua jadi berbalik. Setelah istriku sendiri mulai menjadi public figure, justru aku yang dituduh pencemburu. Itu karena pernah aku bicara terus-terang. Ketika itu usai diskusi sastra, yang membedah buku puisinya. Begitu keluar dari ruang diskusi, istriku tak langsung pulang, tapi bercengkerama dulu dengan para peserta yang kebanyakan laki-laki. Duh genitnya, tak kalah dengan gadis tujuh-belasan. Suaranya pun dibuat-buat, jauh berbeda kalau bicara denganku yang tidak jarang bersuara sember. Berkali-kali istriku menempelkan bibirnya pada buku kecil yang hendak diberi tanda tangannya. Tak lupa disertai kata-kata maut : With love, Nita.
“Nita, terus terang aku cemburu dengan semuanya,” akhirnya aku mengaku, setelah sekian lama aku pendam.
“Lho, sampeyan itu bagaimana to Mas Wik? Seniman ya harus begini. Harus komunikatif. Sudah jadi tuntutan publik. Jangan cemburuan to. Yang penting aku hanya milikmu. Istrimu!” sergah istriku gagah. Aku terpaksa diam, dari pada berkonflik lebih lanjut. Besoknya aku diskusikan dengan Dodo, temanku sesama guru. “Do, aku sebenarnya mulai risih dengan cara istriku bergaul. Kalau memang harus begitu, sepertinya aku tak bisa mengikuti. Aku mulai ragu. Di satu sisi aku tak ingin mengekang keinginannya. Namun disisi lain, aku tak mampu masuk ke dunianya. Aku tak habis mengerti. Kenapa dia itu tidak introspeksi, bagaimana dulu cemburunya yang terkadang malah tidak masuk akal. Kamu tahu, sampai sekarang aku tidak punya teman perempuan, karena terbawa oleh rasa canggung. Eh giliran dia sendiri yang mulai jadi public-figure, dia yang melupakan. Wajar kan kalau aku gagap menghadapinya?” aku menumpahkan kekesalanku.
“Kalau begitu, bicarakan saja baik-baik dengan istrimu,” begitu saran Dodo.
“Sebenarnya pernah Do, tapi sepertinya istriku mulai tak suka. Dan mulai menampilkan egonya.”


Sejak tadi hand-phone istriku berdering. Kulihat, istriku tengah tertidur pulas. Aku bimbang. Diangkat apa tidak? Namun akhirnya kuangkat juga.
“Halo Nita sayang, kamu sedang ngapain?” suara renyah seorang laki-laki menyapa. Deg! Dadaku berdetak. Kujawab sapanya.
“Halo juga, ini siapa?” Tuuut…..telepon langsung diputus. Kecurigaan mulai berkecamuk di benakku. Siapa? Kuberanjak duduk di sebelah istriku. Kutatap wajahnya yang bagiku tetap saja secantik bidadari. Hari-hari kemarin kita sangat harmoni dengan kejujuran dan keterbukaan kita, sayang. Sekarang kenapa begitu banyak yang tak kuketahui tentang dirimu, batinku. Bersamaan itu, istriku terbangun oleh gigitan nyamuk. Ia melirikku.
“Ngopo to Mas Wik menatapku seperti itu. Kayak baru ketemu saja,” katanya dengan masih memeluk bantal. Aku hanya tersenyum.
“Nit, Barusan ada telepon untukmu,”
“Dari siapa?” tanyanya terlonjak. Aku tunjukkan sebuah nomor yang tertera pada hand-phone nya. Tiba-tiba Nita menatapku. Amat nyalang. Aku kaget dengan sikap istriku.
“Siapa suruh membuka hand-phone-ku,” bentaknya kemudian.
“Maaf, Nit, tadi kamu sedang tidur. Siapa tahu sangat penting.”
“Penting tidak penting itu bukan urusanmu. Mulai sekarang, kamu tak berhak lagi tahu tentang hand-phone-ku, begitu juga sebaliknya!” Dia membanting pintu kamar, meninggalkan aku yang masih dalam ketidak-mengertian. Sejak kapan dia belajar kata-kata seperti itu? Kuambil nafas panjang.


Dua burung prenjak berkicauan di atas pohon belimbing. Beterbangan, seakan tak mau henti mengucapkan syukur pada sang Pencipta atas tersenyumnya pagi hari. Seperti biasa. Hari Mingu selalu aku isi dengan acara bersih-bersih rumah, sambil melatih Ais, anakku yang telah berumur tujuh tahun. Sengaja istriku tak kubangunkan, karena semalaman ia begitu khusyu’ duduk di depan komputer menyelesaikan satu tulisannya. Pekerjaanku terhenti oleh suara bel rumah yang berbunyi. Kubuka pintu ruang tamu. Tiga laki-laki dan seorang perempuan dengan berpakaian nyetrik berdiri.
“Nita ada?” tanya seseorang, tanpa basa basi terlebih dahulu. Yang lainnya menyikut. “Eh yang sopan, itu suaminya lho” Sebelum aku menjawab pertanyaannya, ternyata Nita telah menghambur menuju kami.
“Halo sayang, tahu aja sih rumahku,” sapa Nita mesra. Rasa sumringah memancar di wajahnya. Dengan akrab, Nita mencium pipinya satu persatu. Duh. Mataku terbelalak dengan pemandangan yang kulihat. Kekagetanku membuat lututku terasa lunglai. Kubiarkan mereka bergurau-ria. Nampaknya Nita tidak peduli dengan perasaanku. Beberapa saat Nita masuk kamar, dan begitu keluar dia sudah dengan dandanan yang cukup “heboh”.
“Mas, aku pergi dulu. Sudah terlanjur janjian. Mungkin pulangnya sore,” pamitnya, tanpa menunggu persetujuanku. Sebuah mobil kijang menderu meninggalkan asap pekat yang menusuk hidung. Kuelus dadaku untuk meredakan badai dalam dada yang bergemuruh.
Sampai sore, ternyata istriku belum juga datang. Dan baru datang setelah jam sembilan malam. Begitu dia menghampiriku, aku langsung memberondong dengan pertanyaan. “Nita, siapa mereka? Dari mana saja kamu? Apakah sekarang kamu ingin kebebasan?” Rasa amarah telah menguasai dadaku. Mataku menatapnya, tak berkedip.
“Salah lagi! Salah lagi! Kamu tak setuju dengan caraku bergaul? Dasar kuno. Manusia kan butuh perkembangan sesuai kebutuhan jiwa. Tidak monoton,” jelasnya tak mau kalah.
“O…..jadi begitu! Oke! Aku tak bisa mengikuti caramu. Mulai sekarang, sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri.”
“Apa maksudmu Mas Wikan?” Tanyanya penasaran.
“Kita cerai!” jawabku mantap.
Istriku terperangah. Ia tak menduga kalau kata-kata seperti itu bisa meluncur dari mulutku. Selama ini aku memang selalu mengalah bila ada masalah. Kulihat nafasnya mulai berat. Terengah-engah. Matanya melotot seperti hendak mencelat.
“Oke! kalau itu maumu!” suaranya parau. Namun, dia melangkah menuju ruang dapur. Aku menangkap ada tanda-tanda yang amat membahayakan. Itu kulihat dari tatapannya yang mengandung ancaman. Dengan sigap kuikuti langkahnya.
“Apa yang akan kau lakukan?” Kudekap dia dari belakang. Kencang. Dia meronta.
“Tak perlu kau bertanya apa yang akan aku lakukan. Inilah jawabanku atas pernyataanmu,” matanya menjurus pada satu benda yang berkilat.
“Jangan, sayang. Jangan kau lakukan hal yang merugikan. Aku cuma bercanda kok….” terpaksa aku berbohong. Aku sudah tak punya cara lain. Perlahan, emosinya mengendur. Dia menatapku, meminta kepastian. Mau tidak mau aku tersenyum, lalu mengangguk. Istriku nampak lega, lantas memelukku.
Dalam keletihan jiwa, aku melangkah menuju beranda depan. Udara sedingin es. Malam kian kelam. Di langit, tak satu pun bintang yang sudi tersenyum. Kuhempaskan tubuhku pada kursi bambu. Suasana bimbang kian menerjang ketika sebuah syair berkumandang di hatiku.
“Jika saja diriku ada di simpang jalan
mungkin aku masih dapat memilih arah
tapi kita telah jenuh dalam sebuah lingkaran
mungkinkah jalan hilang ketemu?”

1.

RADEN RARA RUBI

​Sama sekali tak dapat diduga sebelumnya. Raden Rara Rubiyanti, seorang dosen, cantik, dari keluarga ningrat, dan gandrung hormat, dilanda cobaan berat. Anak semata wayangnya yang berangkat remaja mengalami stres yang mencemaskan. Ngamuk. Tertawa. Menangis tak jelas penyebabnya. Bukan main limbung-nya Rara Rubi (begitu ia biasa dipanggil) menghadapi semua kenyataan itu. Sedih. Takut. Malu.
Tapi pada siapa beban berat itu harus ia curahkan? Semua keponakan yang dulu ikut dengannya telah jauh, menjalani kehidupannya masing-masing. Bahkan tanpa kabar-berita. Pada suami? Semestinya memang begitu, tapi nyatanya suami lebih minta ampun lagi.
Suaminya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Ego dan hobi dijadikannya Tuhan. Burung perkutut dan anggreknya, yang butuh dana dan waktu tidak sedikit, justru yang diutamakannya. Bahkan gajinya sebagai Kepala Bagian PNS pun tidak cukup untuk hobinya itu. Selama ini yang mencukupi kehidupan rumahtangga, justru Rara Rubi yang jadi dosen dan Ketua Jurusan. Dadanya sesak jika memikirkan hal itu. Ia jadi teringat pada keponakan satu-satunya yang tinggal sekota dengannya. Itulah satunya harapan. Tapi apa mungkin? Masalahnya, keponakan itulah yang dulu kerap ia cemooh, lantaran kuliahnya tidak di kampus yang ternama seperti keponakan lainnya.
“Alah. Mau jadi apa kuliah di kampus kepretan seperti itu,” begitu sinis Rara Rubi saat itu. Asih keponakannya cuma bisa nelangsa. Tak kuasa membela diri. Padahal Asih keponakan yang paling patuh dibanding lainnya, yang juga tinggal serumah dengan Rara Rubi. Mungkin karena Asih yang paling miskin, sehingga tak ada yang diharap?
“Ibuuu!!“ teriak Aris. Rara Rubi terhenyak dari lamunan. Tergopoh menghampiri anaknya yang baru datang, entah dari mana. Jantung Rara Rubi berdebaran.
“Ada apa, Nak?” gemetar, tak berani memandang mata anaknya yang nyalang itu. Rara Rubi bagai hendak ditelannya bulat-bulat.
“Sekarang juga! Aku minta mobil BMW! Kalau tidak? Rumah ini akan kubakar!” ancamnya menggebrak meja.
“I…i…iya. Nanti…Ibu nyari dhuwit dulu…ya…” jawabnya geragapan. Tak tahu harus bagaimana menghadapi permintaan yang tiba-tiba itu. Betul ia ningrat, tapi bukan konglomerat. Melangkah gontai, hendak menuju suaminya, barangkali hatinya sedang terang, sehingga bisa untuk berbagi beban. Namun Rara Rubi ragu. Suaminya sedang mengelus-elus perkutut. Sesekali tersenyum dan bersiul. Takut mendapat bentakan karena mengganggu keasyikanya, Rara Rubi mengurungkan niat. Ia hanya bisa mengelus dada, “Duh, Gusti! Ampuni dosa hamba…” panjatnya, pasrah. Masa silam yang megah kembali menari-nari dalam ingatannya.
Saat itu, rumahnya begitu hangat karena keberadaan beberapa keponakan yang kuliah di Yogya. Rata-rata mereka kuliah di UGM. Bukan main bangganya Rara Rubi. Benaknya selalu berkata, “Wajar saja…bukankah dari keluarga priyayi…terhormat…” Itu pula yang kerap ia katakan pada tetangga, atau teman sekerjanya. Kecuali untuk Asih, yang bagi Rara Rubi justru banyak kekurangannya.
Apakah priyayi selalu banyak aturan? Begini tidak sopan, begitu tidak etis. Diam dinilai tidak komunikatif. Repot. Pernah saat makan bersama, Asih menyuil ayam goreng yang agak keras pakai sendok dan garpu. Tanpa sengaja, terpental mengenai Rara Rubi. Buliknya itu kontan murka.
“Dasar tak punya sopan santun! Ndeso!…Goblog!” makinya geram. Asih cuma menunduk. Mohon maaf pun pasti salah. Asih memungut kembali ayam goreng yang terpental ke lantai. Lantas bergegas menggendong Aris, satu-satunya anak Rara Rubi yang saat itu masih berumur satu setengah tahun. Kehidupan seperti itu terpaksa tetap Asih jalani sampai lulus kuliah. Apa boleh buat. Tak ada jalan lain. Pernah suatu kali Asih berniat kos di dekat kampus. Tapi apa komentar Rara Rubi? “Kalau dasarnya nggak nyemanak, ya sulit ngumpul dengan saudara. Dasar, kaku!” Nikmat sekali agaknya Rara Rubi ngendikan seperti itu, tanpa memperhitungkan perasaan Asih yang jelas bagai disayat sembilu.
Bisa saja Asih nekad. Tapi dampaknya sangat tidak nyaman. Ibunyalah yang akan jadi korban pungkasan, dicap sebagai ibu yang tidak becus mendidik anak. Asih tak rela hal itu terjadi!


Empat belas tahun lewat. Jam seakan membalikkan arah kedua jarumnya. Kehidupan Rara Rubi berubah seratus delapan puluh derajat. Kini kesunyian menjadi lagu kehidupannya. Tidak seperti dulu sewaktu masih banyak keponakan yang tinggal serumah dengannya. Bagaimana kabar mereka? Kenapa mereka tidak pernah berkunjung ke rumah? Dendamkah mereka pada Rara Rubi? Rara Rubi tak sanggup memikirkannya lagi. Ia telah lelah. Dan Lemah.
Tapi, ini kali tak boleh begitu saja menyerah. Ia menembus malam pekat. Melangkah pasti menuju rumah Asih. Ia telah bertekad meninggalkan semua egonya yang berkarat selama ini. Akan ia pasrahkan bongkokan. Akan diapakan nantinya oleh Asih, terserah. Dengan begitu barangkali akan bisa menjadi obat bagi hatinya.
Untuk pertama kali Rara Rubi mengetuk pintu rumah Asih. Seorang perempuan membukakan pintu. Rara Rubi pangling, terpana menatap wajah Asih yang kelihatan cantik. Asih pun terperanjat, mendapati Rara Rubi mendadak di depannya. Asih heran, di manakah wajah yang dulu cantik itu? Kenapa keriput telah membalut kulitnya,? Kenapa Rara Rubi kelihatan tua?
“Bulik!”
“Asih…!”
Pekik keduanya hampir bersamaan. Rara Rubi menghambur memeluk keponakannya itu. “Asih…” Rara Rubi menangis, lalu mencium tangannya. “Maafkan Bulik, ya Nak. Sebab dosa-dosa Bulik, sekarang Bulik mendapat cobaan yang sangat berat. Maukah kamu memaafkan Bulik?“ pintanya penuh harap.
Asih tersenyum, dan mengenggam tangan Rara Rubi. “Cobaan apa Bulik?” tanyanya, kedua alisnya mengerut.
“Aris. Adikmu…sakit!”
“Sakit apa, Bulik?!” potong Asih penasaran.
“Sudah dua minggu, Aris kerap tidak tidur. Dan sebentar-sebentar ngamuk, tertawa, kadang juga menangis sendirian. Bulik selalu deg-degan dan cemas melihat keadaannya. Tolonglah Bulikmu, Asih. Paklikmu tak pernah peduli dengan semua ini. Aku tak punya teman berbagi. Semua beban harus nyangkruk di pundakku…..” Rara Rubi menangis lagi.
Asih ternganga. “Sudah dibawa ke psikiater?”
“Itulah, kalau boleh Bulik akan minta tolong. Temani Bulik membawanya ke sana besok pagi. Bulik takut sendirian.”


Pagi. Matahari sumringah pada alam raya. Rara Rubi bingung mencari cara, agar Aris mau diajak ke psikiater. Sebab Aris marah saat tahu akan diperiksakan. “Mau apa ke psikiater. Memangnya aku gila?!” bentaknya.
“Duh Gusti. Nyuwun ngapuro,” Rara Rubi ngenes. “Siapa bilang Aris gila…..Wong cuma ngecek kesehatan kok. Agar kita selalu sehat,” bujuknya. Setelah melewati rayuan panjang, akhirnya Aris mau juga.
Dalam taksi yang membawa mereka ke psikiater, Asih menatap wajah Aris. Kosong. Aris yang semasih kecil amat menyenangkan, lucu dan nyempluk, sekarang kenyataannya seperti ini. Asih ngungun.
Di sebuah ruangan empat kali lima, Ibu Yana sang Psikiater ramah menyambut kedatangan mereka. Tanpa membuang waktu, Rara Rubi segera berkonsultasi tentang keadaan anak satu-satunya itu. Begitu cermat ibu Yana mendengarkan berbagai keluhan yang dilontarkan Rara Rubi, sehingga dengan cepat bisa memahami persoalan psikologis Aris.
Giliran Aris yang diajak “curhat” oleh Bu Yana, dia kembali meradang! Dia hanya mau bicara, jika yang menemani Asih. Terpaksalah Rara Rubi keluar dari ruangan konsultasi. Menunggu dengan perasaan cemas.
Begitu mendapat kesempatan bicara, Aris langsung nerocos curhat sembari menangis. “Bu Yana. Bertahun-tahun saya direndahkan seperti hewan! Semua yang saya kerjakan dinilainya salah. Saya muak. Dendam. Saya pengin minggat saja! Orang serumah selalu menuntut saya. Bapak, Ibu, semuanya sok! Saya tidak sanggup, Bu Yana. Saya tidak sangguuuup…..” Aris tersedu-sedu.
Tapi beberapa saat kemudian, tiba-tiba mata Aris kembali nyalang. Dia lari keluar menuju Ibunya. “Siapa bilang aku gila! Dibawa ke Psikiater segala! Ha ha ha. Yang gila itu Ibu! Ha ha ha…” Aris melompat dan lari ke jalan jalan raya. Dilepasnya satu per satu pakaiannya. Yang tinggal cuma celana dalamnya.
Seluruh persendian Rara Rubi lunglai. Dan perlahan pandangan matanya berangsur gelap…

TAMAT.