p_20180819_191348.jpg

I/
Entah bagaimana musim tanam di sini
Pesawahan sepi. Di setiap persimpangan
mobil tank mendongak ke langit
—burung-burung gagap terbang di atasnya—
terlalu banyak tentara.

Pos penjagaan di setiap perbatasan
distrik menggeledah siapa saja yang melintas.
Sebelum matahari meninggi, sebelas lelaki ditahan.
Seorang lelaki di antaranya tampak marah.
Ia mendongak. Menatap dua tentara.
“Ingatlah, kami pemilik sah negeri kami.
Moyang kalian golongan para perampok!”

Entah dibawa kemana lelaki itu, sesaat
setelah sembilan temannya dibiarkan pergi.

II
Di perkampungan—sebuah kampung
Pedalaman yang agak jauh
dari Yala, sangat jauh dari Bangkok—
waktu siang, tidak tampak seorang pun pemuda.
Hanya orang-orang tua duduk di beranda
dan anak-anak kecil main bola plastik
di tanah cokelat yang tebal.
Aku merasakan aroma tubuh petarung
yang tiarap menanti tangan musim
menabuh genderang perlawanan.
Aku tidak tahu di mana napas itu sembunyi.
Barangkali di pasir atau di langit
atau di degup jantung anak-anak
yang bermain bola plastik.

Pada mata seorang anak berkopyah putih
aku seperti menyaksikan ia berkata:
“Kami adalah pewaris dari para pejuang yang mati.
Kabarkan pada dunia, meski kalian bisu
kami punya suara dan tenaga masih ada”

III
Ba’da Isya’, hawa dingin terasa lebih tenang,
ketimbang dingin kemarin malam.
Di dekat masjid agung, pasar rakyat dipadati rakyat.
Pemuda-pemuda bersorban dan berkopyah putih.
Gadis-gadis berjilbab panjang
dengan selingkar kain tebal di dada. Berlaluan
mereka tanpa saling sentuh.

Gorden 20 Baht. Celana 8 Baht. Sepatu 25 Baht.
Gantungan dan bros berwarna emas
bermotif bunga kamboja 15 Baht.
Di tengah tawar menawar itu aku berjalan pelan
seorang lelaki tua memanggilku dan bertanya:
“Anda dari Indonesia?”
“Bagaimana Anda tahu?”
Lelaki tua itu tertawa. “Sampaikan salam kepada
Negara jiran kami. Kami tidak baik-baik saja.”

Di bawah lampu-lampu yang tidak seberapa terang
di bawah bias bulan tsabit itu, di antara suara
riuh redam shalawat dari Masjid Agung
aku melihat kemerdekaan pada setiap diri.
Tetapi mobil tank tiba-tiba mendesak
kerumunan manusia. Para tentara bersiaga
di semua sudut. Orang-orang tak lagi terkejut, tapi aku
yang hanya pendatang benar-benar terkejut.

O, betapa angkuh wajah-wajah itu.
Pasar malam yang hanya berisi tenda
makanan, pakaian, dan mainan
dijaga seperti gudang senjata.

Kulihat tujuh tentara berdiri jalan utama.
Di tangan mereka, ada laras panjang.
Wajah mereka mendongak, kaku dan dingin.
Mereka memperhatikan pasar
seperti memperhatikan sarang perompak.
Mereka memang tidak bicara apa-apa
tapi benar-benar mendengar mereka berkata:
“Setiap pasar diam-diam
melindungi para pemberontak. Kami datang
untuk mengamankan Negara atas restu Raja!”

IV
Di belahan dunia
turis-turis mendatangi negeri-negeri tanpa ancaman.
Tetapi di sini, orang-orang
di negerinya sendiri terancam saban waktu. Suara
terlalu berisiko. Semua bicara dengan nada tipis.
Di sini darurat militer, siapa saja seketika bisa mati
oleh satu tembakan di pusat dada.

Aku teringat cerita dari temanku, yang temannya
mati di hutan dibrondong peluru seratus tentara.
Aku teringat pada kisah pengepungan waktu subuh
di Witthaya, serangan tidak terduga di Yala
tragedi berdarah di Masjid Kerisek
dan kematian anak-anak di Narathiwat.

Semua yang atas nama Undang-undang, sah.
Semua mangsa di tangan tentara adalah hak.

Dunia ini terus mempertontonkan pembantaian
atas nama kedaulatan.

V
Pagi yang biasa saja. Orang-orang berangkat sekolah.
Kedai-kedai penuh. Jalanan macet.
Hidup bergerak, juga kehidupan.
Tetapi di antara peluit di mulut masinis
dan sirine ambulan aku mendengar pekik
orang-orang yang mendamba kemuliaan trah
dan kesucian sejarah.

Mereka yang diam-diam menolak negara
yang sah, bukan bertahan dalam kekosongan.
Beribu lelaki, belasan tahun terdesak
jauh ke hutan-hutan lantaran mereka diintai
tembakan yang kadang tepat sasaran,
kadang meleset.

Tidak ada pertanyaan lagi di sini.
Masing-masing memiliki jawaban.
Semua tahu siapa di posisi apa dan
siapa berdiri di pihak yang mana.
Tetapi di dalam kungkung warna bendera
semuanya tampak tidak seberapa jelas
karena ketidakjelasan adalah tedeng aling-aling
untuk mengelabui mata kekuasaan
yang gemar mencuci peluru dengan darah.
Mereka tidak tahu sampai kapan
tragedi tembak menembak
penculikan para pemuda, pembakaran sekolah
dan kematian demi kematian
terus terjadi.

VI
Jam satu siang, sebelum kutinggalkan Patani
Seorang gadis meletakkan cangkir
kopiku di meja nomor 17.
Gadis belasan tahun itu tidak menatapku,
tidak juga menatap siapapun.
Ia mondar-mandir dari meja kasir
ke meja para pemesan kopi.
Tubuhnya yang tinggi, dibalut gaun hitam.
Tidak tahu seberapa panjang rambutnya,
jilbabnya menjuntai hingg dada.
Ia tampak tergesa melintasi lorong-lorong
meja. Aku hanya pendatang
tapi aku seperti begitu dekat
dengan kegugupan gadis itu.
Begitu akrab dengan setiap kebisuannya.
Ia yang lahir dan dididik oleh kekacauan
tidak punya kata untuk berkisah
bagaimana rasanya melihat mayat
adik, kakak, ibu, dan ayahnya sendiri
terserak di halaman masjid.

Gadis itu dan semua yang lahir di sini
tidak bisa mendera-derakan suara:
“Janganlah biarkan kami terjebak
dalam peperangan tidak seimbang ini!”
Gadis itu dan semua orang yang ada di sini
setiap waktu dikalahkan
oleh senjata yang direstui Sang Raja.
Gadis itu dan semua orang yang ada di sini
harus merelakan madarasah
dan kitab-kitab terbakar
tanpa bisa bertanya, mengapa.

VII
Patani, pada hari menjelang petang, kutinggalkan.
Suhu tubuhku tiba-tiba naik.
Aku gigil. Kepalaku diteror oleh kata-kata
yang tertera pada gerbang terminal Hat Yai
pada embun kaca jendela bus
pada wajah petugas imigrasi
pada angkuhnya plang-plang perbatasan.

Dunia. Dunia dan batas-batasnya
adalah kehendak yang melampaui
cita-cita manusia. Batas-batas Negara di manapun
melahirkan cita-cita kemanusiaan
tapi dengan airmata, darah, dan nyawa manusia.

Dunia. Di dunia terlalu banyak senjata.
Terlalu banyak kematian
yang dipestakan di dalam
napsu kedaulatan yang berlebihan.

Oleh:
Muhammad Rois Rinaldi.
Thailand, 2016
.