Telah disulam airmata dalam syair-syair
kepedihan
gurun demi gurun begitu hitam
begitu dendam
begitu siksa
lalu cahaya menyeruak
di kelopak bengkak
kemudian pedang berkelebat
dalam deru syahadat.

“Bersyairlah tidak dengan tersesat!
pusara kauratapi adalah permukiman api. api.
lantunkanlah nadanada perjuangan!
lekat baitnya di laju waktu
sambutlah puja pemilik Wajah Paling Purnama, “wahai Khansa dan hari-hariku di tangan-Nya.”

Qadisiyyah!
Qadisiyyah!
genderang telah ditabuh
Izrail mengintai sekedip pandang.

“Adakah lebih indah selain kematian
di ujung pedang, Khansa?
Apakah lebih rendah
kemenangan berlimang ghanimah, Khansa?”

“Pertaruhan tidak pernah ada!
di gurun ini, melukai atau dilukai
adalah jalan menuju kematian sempurna
hidup engkau mulia atau
terkubur engkau syuhada
syairku syair pelepasan
tanpa ratapan tanpa tangisan
hunus pedangmu!
hunus pedangmu!
hunus pedangmu!
hunus pedangmu!
pulang engkau menanti
kembali engkau dinanti.”

O, penantian. sepi
menggulung angka kehidupan
o, penantian. sunyi
menghitung angka kematian.

Qadisiyyah
cinta bergenang darah
gagak-gagak bersajak
akan bunga surga yang semerbak

sorak kemenangan
sesak pengorbanan.

“Telah rebah 4 pedangku. jemput aku
Tuhan
di Qadisiyyah
abadilah syair-syairku
lepaslah syuhada dari rahimku
lepaslah nyawa demi Rahimku.”

Pasir bergelombang
takbir berkumandang
pintu terbuka di bibir angkasa
sahara embuskan warta
Khansa
yang bercerai dengan bumi
kan berkarib dengan langit.

Oleh

Aan Kunchay,
Lahat, Sumatera, 21 Juli 2019