Kepada riuh tetanah kota
mantra usang kau hadiahi
degup harap yang memucuk melingkari diorama tubuh lusuh.

Dimana pencarian yang berujung penggalan tanda tanya mengaung menitipkan kisah yang bingung lebur luasnya muara agung.

Riwayat kering peluh matamu dimana perjalanan takdir daun hilang tak lagi berbekas sekembalinya adalah detak harap.

Berkaca kepada keluasan langit membawa kepada ketabahan bumi helaan napas memilah kata-kata kesetiaan dalam mentasbih hari-hari.

Oleh:

Jakarta Selatan, 2019
-Zham Sastera