Kekasih, banyak cerita kudapati
dari gurat wajahmu saat terlelap
tentang ibu-ibu yang bergegas
mendahului pagi
mengguyur kehangatan pada buah hati
lewat suapan nasi
membasuh kesetiaan pada suami lewat seduhan kopi.

Tentang perempuan melipat keinginan
lewat sungging senyuman
saat upah honorer yang rendah
direnggut biaya anak sekolah
saat tarif listrik yang megah
merenggut masakan mewah
saat gaji suami menjadi jatah
secepat kilat berlalu sudah
saat mencoba berniaga
keuntungan cukup untuk susu dan popok saja
saat itu, sang perempuan selalu tabah
dibalut senyum rekah.

Kekasih, banyak cita kudapati
dari gurat wajahmu saat terlelap
menggenggam tangan seorang gadis sederhana
dengan toga melekat dari cucur keringat
tanganmu yang satu dituntun seorang ibu dari cucu tampanmu
di belakangmu adalah aku
yang tidak pernah padam dalam
sajak hidupmu.

Kekasih, aku tidak pernah
atau bisajadi tidak ingin
mendapati cerita di gurat wajahmu
seorang perempuan yang kembali cantik
setelah melepas lelaki tukang ketik
yang harga ketikannya tidak seheboh gubahannya.

Kekasih, dari semua
kisah yang kudapati
mencintaimu adalah bagianku.

Aan Kunchay
Lahat, 13 Juli 2019