Jemari mengelus-ngelus sesuatu yang nampak seperti bianglala berwarna.

Aku seperti menaruh harap pada tiap jejak, seumpama seorang Ibu yang menyaksikan anaknya beranjak dewasa

keluguanku pada waktu yang memisahkan pengetahuan, tindakan dan juga pada yang nampak berkilau.

Tak mampu kuselamatkan
ketiadaan ini semakin ada
keberadaan ini semakin tiada
tiada ada, kedukaanku berperan, kehilangan aku.

Saat semuanya redup, kini
kutahu hanya engkau yang menyala di dalam sukma.

Abdul Jalal
Singaparna, 2019