Sebuah kota purba
Tersergam megah
Hidup serba mewah
Berhias bangunan pencakar langit
Berkubah marmar merah
Bertatah emas dan permata nilam
Dipenuhi jejantas dan jalan berselirat
Hingga ramai yang tersesat
Mencari jalan tengah yang lurus
Menghubungkan kota purba ke Kota abadi.

Terpanggang jasad,mengejar saat
Memburu harta dan darjat
Menyembunyikan maruah yang punah
Mematikan ruhul kudus
Retak walau dibungkus jubah
Berjalan tak tentu arah
Sering-sering:salah menyalah
Kiblat mati di sejadah
Entah di mana Baitullah.

Jalan ke Kota Abadi
Tersembunyi dalam huruf-huruf mati
Tak bisa dibaca matahati
Lalu tersesat di tengah cahaya
Walau hari siang
Bersuluh cerah mentari
Terasing dan sunyi
Di tengah keriuhan mencari
“haaza hua qur’aanun mubin”
“haaza siraatun mustaqim”
Lalu mati di hujung jari
Tanpa panduan yang pasti
“waman yudlil palan tajidalahu waliyyan mursida”
Kiblat tinggal terlekat di sejadah
Atau di dinding rumah
Sedang Baitullah termuntah dari hati
Pecah dan musnah
Ghaib dalam debu-debu jalan berselirat
Mematikan yang tersirat.

This image has an empty alt attribute; its file name is yajuk.png

Yajuk
Bukit Jering, Jeli, Kelantan, 27.03.2019