DIAM-DIAM MATI

Bebarapa waktu ini saya berusaha menyelami diri sendiri. Pada kedalaman yang entah, ada sesuatu yang membuat saya tertarik melihat ke dalam diri sendiri.

Ruh… yah. Ada sebuah kegelisahan yang tiba-tiba hadir dalam diri saya. Saya yang berusaha melupakan kejadian hidup. Hari lalu, hari ini bahkan masa depan.

Saya melupakan kesedihan dan kesenangan secara bertubi-tubi. Ternyata semakin saya bersikap tak peduli pada hari lalu, hari ini dan hari depan saya semakin damai dan tenang.

Pada saat yang berlainan saya pun belajar meniadakan kata-kata di antaranya: salah, benar, gagal, sukses, kejahatan dan kebaikan.

Dua kata yang sering sering berbandingan dalam lehidupan. Ketika saya sengaja melakukan kesalahan. Ada yang menuntut diri secara tiba-tiba ialah kegelisahan yang entah datang dari mana.

Saya terus mendalaminya. Ternyata itu memang perasaan nyata di mana ruh yang hakikatnya suci terpenjara pada tubuh yang terbatas.

Betapa saya berpikir bahwa setiap orang ingin hidup dalam kesucian dan kebersihan tanpa kesalahan dan noda perbuatan. Tapi pada akhirnya setiap orang jatuh pada kesalahan disengaja atau tidak. Sebab sifat manusiawi yang terkurung dan terpenjara dalam tubuh yang semestinya akan selalu membatasi.

Lalu, saya berusaha melakukan kebaikan yang biasa diajarkan dalam hukum dogma agama, hukum manusia dan selaras dengan alam. Kemudian semakin saya dalami ternyata saya semakin gelisah. Lagi-lagi kegelisahan itu datang ternyata sesuatu itu belum juga benar-benar bersih. Saya masih merasa “Telah Melakukan Kebaikan.

Oleh:

Abdul Jalal Al-Bantani
Garut 2019