books,

Kini aku semakin jauh semakin kehilangan sesuatu, bahkan tak mampu kuceritakan bentuknya padamu.

Yang paling cinta sekalipun. Kepada kekasihku, aku tak bisa melakukan apa-apa. Tak ada kata di dalam hari ke hari. Sepi-sepi berkabung mengharumkan kebisuan mengantar diamku.
Tubuhku tidak merasa panas atau dingin. Aku nampak normal dan tak sedang berhalusinasi. Tapi pada baris puisi ini kusertai kata paling tabah yang merahasiakan segalanya.

Kepada seseorang yang bernama hai, engkau. Masihkan mataku akan buta tanpa penglihatan yang semestinya membuatku terlena. Masihkan telingaku mendengar suara yang akan membuat telingaku terguncang. Masihkan tanganku mengelus helaian-helaian jemarimu yang membuatku tersungkur menikmati syahdu.

Hei, engkau
Aku telah lama tak mengunjungi tubuhku sendiri. Segala apa dan bagaimana, mulai kulupa. Aku berharap pada sisa-sisa angka di kalender itu memaknai sedetik saja bagaimana hei, engkau.

Dan pada saat aku tak mampu lagi mengucap lafad-lafad huruf yang biasa dipakai untuk menghubungkan pembicaraan hidup, aku harap kau menziarahi tubuhku yang kemelut.

Hei, engkau
Peluklah tubuhku yang ringkih ini. Segala duka cita dan suka cita telah membuatnya sunyi di tanah sepi. Sebelum kau antarkan ke rumah ternyaman itu. Peluklah ia dan berkatalah: akulah satu-satunya.

Oleh:

Abdul Jalal Al-Bantani
Indonesia, Mei 2019