MATAHARI TERSUNGKUR ITU
 
Belum saja kita sampai
pada waktu bertukar tempat.
Aku yang pulang,
kau memandangiku.
Kau sementara.
Aku sementara.
 
Semesta ini tak melahirkan petarung abadi.
 
0 km Anyer, 2016
DI LAHAN PERSENGKETAAN
 
Lalu kami bernyanyi di tepi jalan ini.
Sekadar untuk mengantar pulang
seorang lagi. Yang tumbang
di lahan persengketaan
 
Ini hari kain hitam tak mesti,
sebab kami tidak sedang meratapi.
Nyanyian kami bernada lantang
menuntut sebuah pertanggungjawaban.
 
Kami menagih rasa malu
pada seorang yang kemarin waktu
datang dengan tangan berpangku.
 
Tidak ada pergantian hari
serta jadwal kerja dan jam
istirahat, di masa gawat.
Kami tidak beranjak, ketika
bel berbunyi dan lampu dipadamkan.
Kami terlanjur menyala tanpa
sanggup lagi diredam.
 
Telah kami persiapkan
segenap jiwa, pula nurani.
Jalan membentang di hadapan
adalah suatu keniscayaan.
Segala yang pernah dari kami direnggut,
segera kami rebut kembali.
 
Di lahan persengketaan
kami adalah badai
kami adalah petir.
Kami bertaruh martabat leluhur
kami bertaruh nasib anak-cucu
kami pasukan yang siap menerjang kapan saja.
 
Kami berjajar di sepanjang jalan
ini. Sekadar untuk mengisyaratkan
pada setiap apa yang melintas.
Bahwa pertarungan belum selesai
dan nyanyian kami menolak usai.
 
Malang, 2017
 
SYAIR PENGANTAR LELAP
 
Ini malam, rindu baiknya diberi padam
biar semayam di relung ingatan
sedang di luar, ramai telah berai.
Esok kita kembali
menyulap kota jadi gemerlap.
 
Malang, 2017
 
 
 
 
 
PESTA KEMBANG API
 
Hanya sekotak kembang api
pada pesta sederhana ini
kita bakar pada sumbu
satu persatu.
 
Biar nyalanya redup
biar sebentar
biar tawa kita sekadar lalu hilang.
 
Entah,
seolah dunia tak keseluruhannya fana
ketika kita melihat
apa-apa yang selain kita
lenyap satu demi satu.
Lalu kau,
lalu aku.
 
Malang, 2017
 
BERGEGAS
 
Kaki ini harus melangkah, jauh
selaras dengan hati.
Meski entah kemana
yang penting jauh, kataku.
 
Jiwa ini harus melompat
menuju perpustakaan baru.
Pembatasku segera berpindah halaman
diadopsi lembaran-lembaran asing
waktuku sudah lewat di kota ini
harus cari kota lagi.
 
Bagiku di mana saja sama
asal kota lain.
 
Kalaupun alirku tersendat
aku akan lari dari air
lewat jalur darat.
 
Pokoknya harus melompat! Seruku.
 
Cilegon, Mei 2014
 
 
33248995_10209708873556931_7310272944700129280_n
Faris Naufal Ramadhan, pemuda kelahiran Serang, 5 Februari 1997. Mengenal dunia sastra sejak Sekolah Dasar. Semasa SMA, aktif menekuni jurnalistik lewat rubrik pelajar GENEREKONS di Majalah Kebudayaan Ruang Rekonstruksi, Banten. Ia juga sempat aktif dalam kegiatan sastra di Teras Budaya yang diasuh oleh Komunitas Rahim dan Lentera Sastra Indonesia.
 
Ia lebih sering melahirkan karya berupa puisi dan cerpen. Puisi dan cerpennya beberapa kali terbit di media cetak maupun elektronik. Ikut terlibat dalam beberapa antologi puisi dan cerpen nasional. Kini kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Di kota yang sama, di tengah rutinitas perkuliahannya, ia bergiat di Komunitas Kalimetro Malang, yang bergerak di bidang literasi, seni, kemanusiaan, dan kebudayaan.