Setelah Pertaruhan
 
Malam ini
setelah kelaknatan dalam hara dan haru
diri meledak
pelan-pelan kurapal kembali namamu.
 
Hingga lampu-lampu mati
—ribuan sayap laron berguguran
terserak di lantai kamar.
Hingga malam suntuk menemu puncak
kelindan dalam sepi yang purna.
 
Karena peluk cium itu telah kau akhiri.
Liur dan dahak
yang kau muntahkan di wajahku
kering, aromanya
yang kuhirup dengan khidmat dibawa
pergi angin ke semesta yang entah.
 
Namun tak apa
aku tahu, masih ada kesempatan.
Bukankah kita akan bertemu di lain waktu
dan bertaruh lagi?
 
Setelah fajar,
sebelum senja.
 
Cilegon, 31 Desember 2016
 
Pengertian
 
Masa lalu adalah perempuan telanjang
menari di panggung
pertunjukan yang ditinggalkan penontonnya.
Ingatan adalah liar pengembaraan lelaki
yang tersesat di hamparan sahara waktu
berpusing mencari mata angin.
 
Dan ini bukan lagi perihal kata kata indah
pada tiap bait puisi seorang penyair.
Tetapi nyata dalam setiap embusan napas
kunanti dirimu.
 
Di ujung jemari yang mencari makna
semua terburai, dan kau tahu sosok yang ini
mempunyai kelemahan hati.
 
Cilegon, 2016
 
 
Trance
 
Laila… Laila… Laila
LailahailAllah
 
Pada resah jiwaku.
Pada payah badanku.
KasihMu, Kekasih
mengguncang-guncang.
 
Aku rindu kepadaMu.
Rentangkan tangan itu.
Lihat, lihalah aku kini
merangkak ke arahMu
Lekas berlari ke arahku.
 
Laila
Laila
Laila
LailahailAllah
 
Dekap tubuh ini.
Jiwa yang runtuh ini
rengkuhlah.
 
Semua telah pergi
Semua telah pergi
 
Kini aku hanya kepadaMu,
Kekasihku.
Aku hanya kepadaMu, kini,
Kekasihku.
 
Dunia telah berpaling.
Dunia telah berpaling.
 
O, Gusti!
 
Cilegon, 2013
 
Pertunjukan
Kita pernah sama sama bermain
di dalam sebuah pertunjukan
kemunafikan. Tidak ada dialog.
Tubuh kita adalah percakapan.
Kita memperkatakan apa saja.
 
Di panggung kau merengkuh
tubuhku. Aku gemetar.
Ketakutan berkeliaran di bawah
lampu. Mataku terpejam. Sunyi
jadi teror. Kau membekap
 
telingaku. Cerita-cerita kejam
masa silam ditampik, menampik.
 
Dan pada akhirnya pertunjukan
usai dengan ketidaksempurnaan.
Mata kita bertemu. Pada tatapan
sebelum lampu dipadam
kata-kata tetap tidak dalam suara.
 
Para penonton memang takkan
sungguh-sungguh mengerti,
mengapa kita tiba-tiba bergerak
mengapa kita tiba-tiba diam.
 
Cilegon, 2015
 

Ega Eryani Setyatama, adalah penyair, musisi, dan  pegiat26113718_1612009255527490_7615624450388444039_n teater kelahiran Cilegon 4 April 1993. Ia telah bergelut dengan dunia kesenian sejak sekolah. Kali  pertama bergabung dengan Teater Lidi Banten yang didirikan oleh tokoh teater Cilegon, Dadang Maskur. Kemudian ia bergabung dengan Pendaringan Sastra Cilegon dan Lentera Sastra Indonesia, sebelum akhirnya diajak menggeluti seni musik tradisi oleh tokoh seni musik tradisi Cilegon, Edi Febriadi.

Ega tercatat sebagai pengurus termuda di dalam kepengurusan Dewan Kesenian Cilegon pada pperiode 2012/2014 sebagai anggota Komite Sastra dan periode 2014/2016 sebagai Wakil Ketua Komite Teater.

Hingga kini ia tetap setia di dalam tumbuh kembang kesenian, baik dalam dunia sastra, dunia teater, maupun musik tradisi. Ihwal karya sastra, ia termasuk orang yang tidak terlalu sering mempublikasikan karya. Sesuka-suka ia saja. Kalau sedang mau, karya-karyanya kadang ada di dalam antologi puisi atau media massa. Ia juga beberapa kali didelegasikan untuk mewakili Banten dalam ajang sastra Nasional, di antaranya Temu Penyair MPU X dan Jambore Sastra Nasional di Surakarta.