Pertanyaan
 
mengapa tangkai itu patah?
ada batang yang begitu kuat
ada bumi yang begitu tegar
mengapa ada yang terputus?
ada perasaan yang kukuh
ada cinta yang tangguh
ini kehilangan macam apa?
aku tak merasa melepas apa-apa
 
Di Beranda
 
malam menyentuhmu dengan kata
namun kata telah jadi duka
sebelum malam ujug-ujug pergi
dan fajar mengantar pergumulan
embun dengan daun.
kekasih, kabut di bawah pias lampu
itu, menulis “rindu”, untukmu.
Aku tahu, yang ada di beranda ini
hanya kopi dan sekepul kesepian.
 
Tak Terjabarkan
 
dari mana datangnya wajah?
dalam mimpi
malam tak habis-habis
tak terputus.
 
di setiap mili detik mata
yang terpejam,
suaramu adalah gema dari gurun jauh.
 
pesan pada suara itu
tak terjabarkan
seperti seribu siloka seorang musafir.
 
tetapi ada yang kumengerti kini,
perasaan memang selalu gagal
memberi jarak pada dirinya sendiri
walau hanya setengah depa
 
begitu juga ingatan. 
 
 
Kau
—Layla Sundari
 
kau adalah cahaya pada mataku
ketika awan hitam
menerjunkan jutaan kubik hujan
di dadaku
 
Dalam Keremang-Remangan
 
dalam keremang-remangan ini,
harusnya kau mengerti, langit
tak selalu gelap,
bumi tak selalu kering kerontang
rahasia di balik wajah dan kata
adalah rahasia rapuh
yang mudah dibunuh gerak tubuh
 
hanya soal waktu
pada detik yang keberapa
kau akan lupa bagaimana cara
berpura-pura
 
Abdul Wafa, pengurus Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA) Koordinator Indonesia. 27459569_1591651050904592_1520312437550881485_n