HANIF FARHAN

DI TEPI JALAN

ANTOLOGI PUISI
Hanif Farhan

© eSastera Enterprise

HANIF FARHAN

BIODATA PENULIS

Hanif Farhan, kelahiran 25 Mei 1999, lulusan Otomasi Industri, sekarang belajar di pesantren Al-Hidayah, Palas, Cilegon. Ia tercatat sebagai mahasiswa filsafat di UIN SMH Banten dan merupakan anggota Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra ASEAN). Ia menggeluti sastra sejak masih duduk di bangku SMK. Sampai saat ini, ia menulis novel dan puisi. Bukunya yang sudah terbit: Berkelana Di Sepasang Matamu, ZA Publisher, 2018.

PUISI – SENARAI JUDUL

(9) Kawan-kawan Yang Kucinta. (8) Di Kota Buruh. (7) Kawanan Orang Gila. (6) Kita Masih Di Sini. (5) Anak-anak Yang Mengaji Ba’da Maghrib. (4) Sejak Generasi Pertama. (3) Kerelaan. (2) Setelah Nun Sebelum Fa. (1) Di Tepi Jalan.

PUISI – TEKS

9.
KAWAN-KAWAN YANG KUCINTA

Kawan-kawan yang kucinta
waktu kita — yang sekadar makhluk fana
adalah roda speda yang mengantarkan kita
pada ujung jalan kita masing-masing.
Melaju kita pada sebuah dunia kecil
yang bukan apa-apa
dan kita kini telah cukup jauh
dari hari di mana kita dilahirkan.

Kawan-kawanku yang kucinta
pada sesuatu yang mungkin pernah kita pikirkan
atau pada sesuatu yang belum samasekali
kita pikirkan, terlepas dari sebuah mimpi,
kita banyak menemui peristiwa
yang, mungkin, kita mengingkarinya
sebagai sebuah kenyataan yang harus diterima
tetapi mau tidak mau kita kudu mengimani
setiap yang telah terjadi
lalu pada akhirnya kita memaknai
sebuah dunia sebagai teka-teki
dalam kotak-kotak rahasia.

Kawan-kawanku yang kucinta
Pada sebuah jalan yang tidak dapat kita duga,
kita juga telah banyak
melewati kekacauan yang melahirkan
beribu tanda tanya.
Kadang kita adalah korban dan kadang
kita dengan sungguh-sungguh
merayakan kekacauan.
Meski pada satu waktu, kita seolah-olah
sungguh-sungguh pula saling bertanya:
“Mengapa ini terjadi?”

kawan-kawan yang kucinta
Jalan semakin berkelok
dan kita semakin dekat pada batas waktu.
Hidup menjadi gawat.
Kita mesti mawas diri
kita mesti berhati-hati pada setiap pilihan.
Kita pernah dididik untuk jadi manusia
mesti bisa memilih
sebuah jalan yang patut untuk dipilih.

Hanif Farhan
Indonesia, Maret, 2019

8.
DI KOTA BURUH

Di kota buruh
santri-santri meninggalkan pesantren
kobong kosong, kitab-kitab dirubung rayap.
Para siswa setiap pagi apel,
memberi tabik kepada bendera
mata mereka, menatap masa depan
yang remang-remang
karena papan tulis dan buku-buku
hanya berbicara tentang lowongan kerja
setelah lulus sekolah menengah.

Di kota buruh para petani pusing
menjual tanah jadi
tak punya pegangan.
Tak menjual tanah saban musim
hasil panen habis
untuk bayar hutang bibit dan pupuk.
Anak-cucu mereka menjadi robot
yang diremot dengan satu telunjuk
dan cip berupa slip gaji.

Di kota buruh
sarjana-sarjana menenteng map berpeluh
di gerbang sebuah pabrik
seorang satpam berkata,
“Di sini, lowongan kerja hanya untuk
satu dua orang saja.”
Beribu sarjana tengadah ke langit
harapan melayang ditangkap
awan mendung.

Di kota buruh
Pengangguran tumpah di jalan-jalan
menjadi terror dalam ketenagakerjaan
yang menumpuk di meja kekuasaan
di meja korporet
yang ditindih tunggakan pajak.

Orang-orang pengangguran berkata,
“Jadikan kami buruh agar hidup terjamin!”

Di kota para buruh
yang sesungguhnya bermukim
adalah lenguh.

CILEGON, JANUARI, 2019

7.
KAWANAN ORANG GILA
Kami sekadar kawanan orang gila
(yang hidup) di jalan-jalan kota

Kepedihan kami telah luruh
pada wajah kami yang gelap
dan pakaian yang berlumut.
Ketidakadilan hidup
bagi sekawanan orang gila
seperti kami adalah jigong
pada gigi kami yang tidak pernah disikat.

Kami tidak mengajak bicara
kepada siapa saja,
atau sekadar bertanya
tentang manusia dan kemanusiaan
karena kami adalah kawanan orang gila.
Kami hanya bisa menyaksikan
setan-setan yang tertawa
di dalam tempurung kepala kami.

Kami tidak pernah
mencari tempat tidur
karena kami bisa terkapar di mana saja,
kapan saja,
sesuka hati kami.
Kami juga tidak perlu repot
mencari makan dan minum.
Kami bebas memangsa apa saja
yang tergeletak di trotoar, tong sampah
comberan, bahkan spiteng.

Jangan Tanya mengapa atau bagaimana,
Karena kami hanyalah kawanan orang gila.
Kami telah dilempar dari kehidupan ke kehidupan
yang terlepas dari akal.

Cilegon, 19 Desember 2018.

6.
KITA MASIH DI SINI

Kita masih di sini
dengan dunia kita dan setiap lakon
yang samasekali tidak buat kita merasa bosan.
Sesekali memang kita kelabakan
ketika musim peceklik datang;
hari-hari yang sepi dari beras, kopi, rokok
dan kayu-kayu yang habis—
tak bisa membakar tungku.

Tetapi kita tak mengeluh atas itu
kita masih merasa senang meski dengan sekadar
guyon sambil menahan lapar
bercerita tentang laku konyol kita di masa lalu
atau sedikit perselisihan di antara kita
yang begaimanapun pada akhirnya itu
adalah yang kita maknai sebagai kegembiraan.

kita memang tidak begitu memerhatikan
apa saja yang terjadi di luar dunia kita;
ribuan penganggur yang memenuhi jalanan, perusahaan
dan pasar-pasar untuk jadi buruh;
mahasiswa-mahasiswa yang demo di jalan,
melawan kekuasaan untuk menuntut keadilan;
televisi juga media-media yang memberitakan koruptor
dan para maling uang negara yang malu, menutupi wajahnya
di depan kamera sesaat setelah dicyduk KPK, para penebar virus
yang viral dan dipuji-puji ummat
atau apa saja yang samasekali kita tak bersentuhan itu,
kita asik bernadzom mustaf’ilun fa’ilun sambil makan intip
di dapur kobong.
Tentu itu bukan karena kita tidak peduli, dada kita selalu bergetar
setiapkali terjadi kesemena-menaan manusia atas manusia
dan kita selalu mendoakan itu.

Besok, kita akan kembali
memaknai malam hingga jelang pagi
dengan utawi
pada kitab-kitab kuning
yang kita coret miring.

Kobong AL-Hidayah, 01 juli, 2019

5.
ANAK-ANAK YANG MENGAJI BA’DA MAGHRIB

Kalian yang masih lugu, berbahagialah.
Hari-hari yang kini kalian jalani
akan berlalu begitu cepat
seperti laju kereta yang melintas
pada pagi buta.

Kalian, anak-anak yang berteriak manja
di depan pintu kobong, lalu merengek
meminta diajarkan ngaji sebelum sempat
kukenakan handuk di kamar mandi
setiap ba’da maghrib,
nikmatilah kemanjaan-kemanjaan kalian
yang menggemaskan itu.
Esok, kalian adalah anak elang
dan waktu akan lebih cepat jadi tua.

Kalian, anak-anak yang gemar beradu cepat
menulis huruf-huruf arab di majlis
dengan tingkah yang kadang menjengkelkan,
nikmatilah dunia yang riang itu
sebelum tiba-tiba saja kalian menjadi dewasa
dan sebuah dunia berubah
seperti monster dalam serial kartun.

Kalian, yang kadang saling kejar
dan kadang di antara kalian ada yang menangis
karena ledekan-ledekan kecil,
merdekakanlah diri klalian dari setiap kepedihan.
Sebab kelak, ketika kalian berjarak dari masa kanak itu
orang-orang berkejaran untuk saling menikam.
Persaingan-persaingan yang akan kalian
temui, mungkin, adalah persaingan
yang keras dan curang
yang membuat kalian sebagai manusia
yang memusuhi manusia atau sebagai manusia
yang dimusuhi manusia.
Di mana akan kalian temukan para pesaing
yang menang tergelincir siang malam di jalanan
sementara setiap yang kalah akan kalian
saksikan sebagai orang-orang terpandang.

Lalu, pada sewaktu ketika, mungkin, kalian akan berpikir
bahwa setiap kenyataan yang kalian hadapi tak harus terjadi.
Tak ada lagi yang kalian harapkan dari kehidupan
selain kembali menjadi seorang anak-anak.
karena hanya pada anak-anak, mungkin,
kalian merasa sebagai manusia.
Tentu itu bukan alasan kalian untuk menolak
takdir dan kenyataan.
Tetapi kalian harus mengimani setiap kemungkinan.

Anak-anak yang kusayangi, kemarilah
basahi lagi bibir kalian dengan ayat-ayat suci itu.
karena kelak, hanya kitab yang kalian pangku di hadapanku,
satu-satunya jalan keselamatan.

PON-PES AL-HIDAYAH, 04 FEBRUARI, 2019

4.
SEJAK GENERASI PERTAMA

Orang-orang mencekik leherku
Ketika kukatakan penipu
kepada seorang penipu
yang mereka labeli sebagai orang jujur.

Orang-orang menempeleng kepalaku
Ketika kukatakan maling
kepada seorang maling
yang mereka anggap seorang dermawan.

Orang-orang meludahi wajahku
Ketika kukatakan racun
Kepada penebar kesesatan akal manusia
yang mereka jadikan imam
— sang petunjuk hidup.

Ini dunia macam apa?
Para penipu disakralkan,
dijadikan juru selamat
hanya karena pakaian
dan pandai bersolek.

Maling,
membagikan segenggam beras
kepada orang-orang lapar
yang lumbung padinya telah ia curi.

Penebar kesesatan,
mengajari manusia berpikir
bahwa mereka telah berfikir
sebelum berpikir.
Manusia-manusia tanpa pikiran
Berkeliaran menguasai jalanan,
mimbar, kelas, kampus
dan pasar-pasar.

O, gawat!
ini ada apa?
Orang-orang bicara kejujuran
dijebloskan ke penjara
orang-orang diam
diseret ke jurang kebingunagan.

Tidak ada lagi alamat untuk bertanya.
Karena setiap jawaban menjadi
pertanyaan-pertanyaan baru
dan setiap pertanyaan
yang telah dijawab
adalah pertanyaan
yang kehilangan tanda tanya.

Ini sebetulnya hanya kisah purba,
sudah terjadi
sebelum Yunani Arkais itu ada,
sejak generasi pertama
menumpahkan darah di tanah

kerusakan diciptakan oleh manusia,
menghancurkan manusia.

Pon-pes Al-Hidayah, 30 Desember 2019.

3.
KERELAAN 

Aku lebih dari sekadar siap untuk bersedih.

Melewati bulan dan matahari
yang memuncak dan tergelincir.

Melampaui ratusan musim penantian
tanpa perlu kusebut
kau sebagai kekasihku, 

aku mencintaimu. Anyer, 2018.  

2.
SETELAH NUN SEBELUM FA 

Aku adalah teka-teki
yang muskil kau pahami. 

09 November 2018  

1.
DI TEPI JALAN 

Apatah yang kudu dicari lagi?
Pengembaraan panjang ini,
telah kehilangan arah. 

Mungkin, aku hanya butuh istirahat.
Tetapi, pulang kemana aku malam ini?
rumah-rumah telah terkunci 

Kakiku tersendat
karena setiap langkah telah
kehilangan arti.
Harapan hilang ditangkap
keremang-remangan. 

Aku di sini, dalam sunyi
menemui kesia-siaan.
Di tepi jalan,
seekor kucing mati kelaparan. 

CILEGON, FEBRUARI, 2019.

9501f785-04d6-4e08-8c1a-8c307f8cd054

TAMAT.