Nama: Abdul Jalal

Ttl: Tangerang, 31 Agustus 1997

Alamat: Cipasung, Des. Cipakat, Kec. Singaparna Kab. Tasikmalaya

          Biodata ini dibuat untuk memenuhi persyaratan dalam KOMUNITAS GAKSA ASEAN.

Tasikmalaya, 27 Januari 2019

                                                                                                  Abdul Jalal.

Rahasia Hidup
(Abdul Jalal)

Kisah ini sengaja saya tuliskan sebagai rahasia hidup sendiri dan saya ingin membagikannya kepada siapa saja. Sejak kecil saya sangat takut membantah keinginan keluarga dan terutama Abah (H. Mulyadi) sebutan yang biasa saya panggil untuk seorang Bapak.

Ada banyak hal yang membuat saya menulis dan mempublikasi tulisan. Barang kali saya merasa kesakitan dan kepedihan akan terobati ketika saya menuangkannya lewat tulisan. Cerita ini mungkin memalukan dan semoga menginspirasi. Saya tak pernah membicarakannya di dalam buku-buku bahkan saya tak pernah banyak bercerita senuanya di acara-acara peluncuran buku saya. Awalnya saya menulis untuk diri sendiri sebagai refleksi jiwa ketika kesedihan mendera. Pada tahun 2000-an ketika Sekolah Dasar Abah sering melarang saya bermain dan tak jarang saya hanya dijejali kitab-kitab berbahasa Arab pegon kecil seperti Adabul Insan atau Babul Minan setiap sore atau menalar surah pendek setiap pagi.

Keadaan ini berlanjut hingga saya harus masuk pengajian di depan rumah PON-PES Raudhatul Mubtadi’in kebetulan Paman sendiri bernama Ust. Omi yang mengajari saya kitab kecil seperti Awamil 100 dan Jurumiyah dan menulis bahasa Arab. Hingga beberapa pesantren pun akhirnya saya masuki di antaranya: TPA Kakak ke-2 di Jakarta, Majlis Ta’lim Kakak ke-6 di Balaraja Tangerang, PON-PES Kakak di Sangiang, Sepatan-Tangerang, PON PES Fathul Hidayah 7 di Sepatan Tangerang. dan sekarang di Nurul Hasannah Cipasung.

Masa kanak-kanak itu bahkan tak jarang saya banyak menghabiskan waktu di rumah dan membaca buku karya-karya Kahlil Gibran dan Jallaludin Rumi atau buku-buku lainnya bekas Kakak ke-dua kuliah. Saya anak ke-10 dari 11 bersaudara. Hampir semua keluarga meneruskan dan menuntaskan keinginan Abah. Mereka pesantren dan sekolah. Kami semua pasti masuk pesantren. Sejak itu, Abah telah berhasil mencetak anak pertama hingga ke sembilan Kakak saya mendalami agama lama sekali, bahkan sebagai lelaki tak jarang harus menempuh pendidikan di pesantren selama 10-15 tahun, bahkan ada yang sejak lulus Sekolah Dasar. Saya bersyukur beberapa Kakak saya begitu mumpuni dalam bidang agama. Kekhawatiran itu terjadi pada diri saya, saya sering stress dengan keadaan ini, saya sering menulis keluh kesah saya. Akhirnya sampai pada usia saya ini di semester akhir perkuliahan, saya bersyukur telah mempublikasi belasan buku dan menulis di berbagai web sampai ASEAN. Meski dalam hati saya tak pernah membanggakannya sama sekali.

Ust. Nahrawi adalah Kakak sekaligus guru pertama saya yang mengajari cara menulis CERPEN. Dan pada hari-hari selanjutnya sampailah saya pada sebuah fase di mana jauh dari mereka semua. Pada saat BBM sedang buming-bumingnya saya sering menulis kata-kata hingga teman saya Ulfah kesal dan mengajak saya masuk Komunitas bernama Komunitas Penulis (KOPI IAIC). Pada tahun 2017 itu beberapa kali saya menolak. Hingga akhirnya saya masuk juga dan beberapa minggu kemudian saya dibantu kawan bernama Enggar saya menulis buku pertama berjudul UNTUK KENAPA berkolaborasi dengan teman namanya Anggun Anggara dari Kuningan. Di saat usia saya baru 19 tahun di tahun 2017 itu.

Saya bingung bagaimana menerbitkannya apalagi dengan cara indie (mandiri) yah, menjualnya sendiri dan modal sendiri. Saya menjual handphone dan Anggun menjual Kameranya. Tercetak hanya 100 eks buku. Saya menjual 60 dan Anggun 40 lalu habis. Kemudian saya menulis novel, saya belajar membaca karya-karya orang lain. Akhirnya novel pertama terbit berjudul APA KABAR HATI. Saya nabung lagi dan mempublikasinya INDIE lagi sebanyak 60 eks buku. Cetak lagi dan lagi karena banyaknya pesananan hingga 200 eks buku. Saya semakin ketagihan bukan karena uang (royalti) akan tetapi karena rasa senang saja.

Ternyata Abah tidak terlalu bangga. Hingga beberapa kali ia marah dan keluarga juga tidak begitu merespon hobi saya. Meski beberapa kali saya menang even menulis, mereka biasa saja. Akhirnya di buku ke-7 saya diberikan ide sekaligus dimodali sekali cetak sebanyak 100 eks oleh seseorang bernama Ruslan. Ia pernah mengumpulkan beberapa qaul tentang hukum makruh dalam kitab Fat-Hul Mu’in dan meminta saya melanjutkan dan mewujudkan keinginannya. Akhirnya 2018 buku itu rampung dengan judul ASHFARUN. Dan di buku lomba antologi PENDOSA NASIONAL ada seorang dermawan bernama Bang Sahroni yang memberikan uang untuk cetak 100 eks buku, tetapi saya ganti saja, kata saya. Abah tersenyum tapi tidak berkata apa-apa ketika buku tukilan kitab ASHFARUN tercetak. Keluarga ada yang respon dan ada yang acuh bahkan ada yang kesal “Ngapain sih nulis gak penting juga” tapi saya terus menulis. Beberapa kali saya jatuh bangun. Setiap kiriman jajan sebulan saya menggunakannya untuk menerbitkan satu buku. sampai 15 buku terbit. 15 bulan saya jarang jajan, kadang kalau ada yang beli buku saya jajankan dan bagikan ke santri yang sedang tak punya uang jajan di kobong. Biasanya dalam sebulan saya merampungkan 1 buku atau menulisnya hanya dalam beberapa hari saja, dari situ mulai banyak penulis terdahulu dan seangkatan mengenal saya lewat karya tulis dan banyak memasukan saya ke komunitas mereka. Sampai beberapa kali saya tidak bisa membagi waktu antara mengurus jadawal ngaji, kuliah, mengurus organisasi kepemudaan Himpunan Mahasiswa Tangerang (HIMATA), KOPI dan beberapa kesibukan lainnya.

Setelah ini… mungkin saya akan beristirahat menulis, banyak faktor yang
menyebabkan saya perlu istirahat panjang, kebetulan saya menghitung kurang lebih 2.000 eks buku telah tersebar, menjualnya sendiri, promosi sendiri dan mengadakan acara peluncurannya sendiri, hehe.

Meski saya tidak tahu hasil uangnya ke mana hehe, saya ingatkan ini lagi tidak menjamin kecuali lakunya semisal langsung habis sehari 100. Karena kadang seminggu cuma satu atau bahkan tidak sama sekali, saya juga tidak terlalu berharap banyak dari tulisan saya masalah itu, diapresiasi saja saya sudah berterima kasih.

Intinya saat tulisan ini saya tulis saya begitu lelah dan ingin bercerita saja. Semoga menjadi inspirasi untuk pembaca.

TAMAT.